Kuala Lumpur, radarbaru.com – Matahari belum sepenuhnya terbit ketika sebagian orang tua di kawasan padat penduduk Kampung Baru dan Kepong, Kuala Lumpur, sudah harus meninggalkan rumah. Mereka berangkat kerja sebelum anak-anaknya bangun, dan baru pulang setelah anak-anak itu tertidur. Di celah waktu yang sempit itulah, anak-anak keturunan pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia tumbuh besar, sering sendirian, sering dalam diam.

Namun ada satu tempat yang setiap hari tetap menunggu mereka, sanggar bimbingan. Ruang belajarnya sederhana, tanpa seragam, tanpa gedung megah. Tapi bagi anak-anak ini, tempat itu menjadi salah satu ruang paling hangat yang mereka punya.

Ketika Rumah Kosong dan Hati Anak Ikut Sepi

Bagi banyak anak di sanggar bimbingan, kata “orang tua” lebih sering berarti sosok yang capek ketimbang sosok yang hadir. Bekerja dari pagi hingga larut malam demi menyambung hidup membuat para orang tua ini nyaris tidak punya waktu untuk duduk bersama anak, menanyakan kabar hari itu, atau sekadar memeluk mereka sebelum tidur.

Ketiadaan waktu itu meninggalkan bekas yang tidak selalu terlihat. Banyak anak tumbuh dengan cara memendam. Bukan karena mereka tidak punya perasaan, tapi karena tidak ada yang sempat bertanya. Sebagian dari mereka jadi pendiam, sebagian mudah cemas, dan sebagian lagi memilih menutup diri karena sejak kecil sudah terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Di titik inilah para pengajar dan relawan sanggar mengambil peran yang jauh lebih besar dari sekadar mengajar membaca dan berhitung. Mereka menjadi telinga yang mendengarkan. Kadang, merekalah satu-satunya orang dewasa yang benar-benar menyapa anak-anak ini dengan sabar dalam sehari.

Tumbuh Besar dengan Rasa Waspada

Ada satu hal lagi yang membedakan masa kecil anak-anak ini dari anak-anak pada umumnya, mereka tidak bisa sebebas itu bermain di luar rumah. Sebagai anak dari keluarga migran yang sebagian besar tidak memiliki dokumen keimigrasian lengkap, langkah mereka dibatasi rasa waspada yang datang setiap hari. Petugas imigrasi yang rutin berpatroli di kawasan permukiman pekerja migran membuat orang tua selalu mewanti-wanti anaknya agar tidak berkeliaran terlalu jauh, tidak menarik perhatian, dan selalu siap bersembunyi bila ada razia.

Lebih dari Sekadar KKN Internasional: Menemukan Makna Pengabdian Bersama Muhammadiyah di Malaysia
Peserta KKNI Universitas Muhammadiyah Riau berfoto bersama anak-anak usai kegiatan. (Foto: Dok/Ist).

Bagi orang dewasa, itu mungkin sekadar aturan berjaga-jaga. Tapi bagi anak-anak, itu berarti masa kecil yang dijalani dengan setengah waspada. Bermain sambil menoleh ke belakang, bersosialisasi dengan penuh perhitungan, dan belajar sejak dini bahwa dunia di luar rumah tidak selalu ramah kepada mereka.

Pintu Sekolah yang Tertutup, dan Pintu Lain yang Terbuka

Di Malaysia, untuk bisa duduk di bangku sekolah formal, termasuk Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), seorang anak harus punya identitas resmi berupa paspor atau dokumen keimigrasian yang sah. Sayangnya, banyak dari anak-anak ini lahir atau dibawa ke Malaysia tanpa kelengkapan dokumen tersebut. Bukan karena kesalahan mereka, tapi karena keadaan yang membelit orang tua mereka. Akibatnya, pintu sekolah formal nyaris tertutup rapat bagi anak-anak ini, sebelum mereka bahkan sempat mencoba masuk.

Di sinilah sanggar bimbingan hadir sebagai pintu lain yang tetap terbuka. Didirikan oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan SIKL, sanggar bimbingan menjadi rumah pendidikan nonformal bagi anak-anak yang tidak punya pilihan lain. Tidak ada yang bertanya soal dokumen di depan pintu sanggar. Anak-anak hanya perlu datang, duduk, dan belajar, kesempatan sederhana yang bagi mereka terasa seperti keajaiban kecil.

Di dalam kelas-kelas sanggar, anak-anak belajar membaca, berhitung, dan mengenal Indonesia lewat kurikulum kesetaraan setingkat Sekolah Dasar. Mereka juga sesekali diajak mengenal identitas keindonesiaan mereka lebih dekat, lewat kunjungan ke KBRI, kegiatan menonton bersama, hingga pengenalan budaya. Hal-hal kecil yang menjaga agar anak-anak ini tidak merasa terlalu jauh dari tanah air yang bahkan mungkin belum pernah mereka injak.

Ruang yang Menerima Tanpa Syarat

Sanggar bimbingan barangkali tidak punya gedung megah atau fasilitas lengkap seperti sekolah pada umumnya. Tapi bagi anak-anak yang selama ini merasa ditolak oleh sistem, tanpa dokumen, tanpa akses, tanpa suara, sanggar menjadi satu-satunya tempat yang menerima mereka apa adanya. Di sana, mereka tidak perlu menunjukkan kartu identitas untuk diakui sebagai anak yang berhak belajar dan bermimpi.

Dan mungkin, di tengah rumah yang sering kosong, jalanan yang harus dilalui dengan waspada, serta pintu sekolah yang tertutup untuk mereka, ruang kecil bernama sanggar bimbingan inilah yang mengingatkan anak-anak itu bahwa mereka tetap layak mendapat kesempatan yang sama, untuk belajar, untuk didengar, dan untuk sekadar menjadi anakanak.