Jakarta, radarbaru.com — Ada masa ketika Dodo Zakaria merasa hidupnya berjalan terlalu jauh dari cita-cita masa kecilnya. Di satu sisi, ia memiliki pekerjaan yang stabil di dunia perbankan. Di sisi lain, ada mimpi yang sejak kecil tidak pernah benar-benar hilang: menjadi penyanyi.

Dodo Zak, nama panggung yang kini digunakan Dodo Zakaria, lahir di Jember, 2 Mei 1999. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia tumbuh dalam keluarga yang cukup dekat dengan musik. Sang ibu merupakan penyanyi dangdut, sementara ayahnya memiliki ketertarikan pada musik jazz dan pop.

Lingkungan tersebut membuat musik bukan sesuatu yang asing bagi Dodo.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan dunia musik. Kecintaannya terhadap bernyanyi kemudian berlanjut ketika ia mulai aktif mengikuti berbagai perlombaan dan membuat konten di YouTube.

Jauh sebelum dikenal sebagai content creator dan penyanyi, Dodo sudah lebih dulu mencoba membangun ruangnya sendiri melalui internet. Pada 2018, ia mulai membuat konten cover lagu, salah satunya melalui Instagram dengan format video berdurasi sekitar satu menit. Ia memilih lagu-lagu yang sedang populer saat itu dan membawakannya dengan karakter vokalnya sendiri.

Salah satu kontennya bahkan berhasil memperoleh perhatian besar. Video cover lagu “Karena Su Sayang” yang diunggahnya ke YouTube tercatat telah mencapai sekitar 2,2 juta views. Namun, perjalanan Dodo tidak langsung membawa dirinya ke industri musik.

Setelah menjalani aktivitas sebagai penyanyi cover dan wedding singer, Dodo justru memilih masuk ke dunia perbankan. Pekerjaan tersebut kemudian dijalaninya selama bertahun-tahun hingga akhirnya ia memutuskan berhenti pada 2025. Keputusan tersebut bukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba.

“Sebenernya dari dulu pengen banget keluar atau cabut aja dari dunia korporat. Karena benar-benar capek, menguras tenaga, waktu dan pikiran,” ujar Dodo.

Kesibukan di dunia korporat juga membuat aktivitas bermusiknya ikut berkurang. Waktu yang sebelumnya bisa digunakan untuk membuat konten, bernyanyi, atau mengembangkan kemampuan vokal semakin terbatas. Pada titik tertentu, Dodo mulai mempertanyakan kembali pilihannya.

“Di kantor pun saya selalu jadi perwakilan lomba-lomba nyanyi. Saya berpikir, mau kapan lagi? Mau sampai kapan jadi budak korporat seperti ini? Dari kecil saya ingin jadi penyanyi. Mending menyesal karena gagal ketimbang tidak pernah mencoba sama sekali,” katanya.

Keputusan meninggalkan dunia perbankan tentu tetap membawa ketakutan. Dodo mengakui dirinya sempat memikirkan kemungkinan gagal, tidak mampu membanggakan orang tua, hingga masa depan yang tidak berjalan sesuai harapan.

Namun, ia memilih tetap melangkah. Ia percaya doa orang tua, kemauan, dan kerja keras dapat menjadi modal untuk mengejar apa yang selama ini dicita-citakan.

Setelah kembali fokus ke dunia kreatif, Dodo tidak ingin selamanya dikenal sebagai penyanyi cover. Menurutnya, menjadi penyanyi profesional berarti memiliki identitas dan karya sendiri.

“Yang paling membedakan mungkin soal identitas. Kita juga enggak mau selalu dikenal sebagai penyanyi cover, tapi lebih dikenal sebagai penyanyi yang memiliki karya sendiri,” ujarnya.

Perjalanan tersebut kemudian mempertemukannya dengan kolaborasi bersama Cheryl. Kolaborasi itu sebenarnya bermula dari sesuatu yang sederhana. Dodo dan Cheryl sebelumnya hanya membuat konten cover bersama. Sampai kemudian seorang pencipta lagu bernama Roffi memperkenalkan sebuah lagu kepada mereka.

Dodo dan Cheryl merasa lagu tersebut sesuai dengan karakter keduanya. Produksi pun dilakukan secara mandiri menggunakan biaya pribadi. Setelah proses berjalan, mereka mendapat dukungan Yudis yang membantu karya tersebut dipublikasikan melalui HP Music.

Dari proses yang awalnya tidak direncanakan itu, lahirlah “Gak Peka! (Terserah)”.

Bagi Dodo, pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan profesionalnya. Ia kemudian bergabung dengan HP Music, sebuah langkah yang menurutnya menjadi salah satu pencapaian yang paling ia banggakan sejauh ini.

“Saya bisa gabung di label musik HP Music. Dari situ saya benar-benar bisa dibantu segala sesuatunya, dari produksi, promosi dan semuanya. Saya berharap ini menjadi langkah awal untuk memulai karier saya saat ini,” kata Dodo.

Kini, perjalanan tersebut berlanjut melalui “Semanis Madu”.

Jika “Gak Peka! (Terserah)” menjadi awal dari perjalanan kolaborasinya bersama Cheryl, “Semanis Madu” membawa cerita yang masih berada dalam dunia percintaan, tetapi dengan perspektif yang lebih pahit.

Judulnya mungkin terdengar manis. Namun, kisah yang dibawa justru berbicara tentang sisi lain sebuah hubungan.

“Dalam hubungan percintaan ini enggak selalu seperti manisnya madu, ada pahitnya juga. Apalagi rasanya dinomorduakan,” ujar Dodo.

Ia bahkan menyebut bagian lirik, “Cintamu satu hanyalah untukku, dan kini kau tlah berpaling dariku”, sebagai gambaran rasa pahit yang menjadi bagian dari cerita lagu tersebut.

Menurut Dodo, tema tersebut dekat dengan kehidupan anak muda, khususnya generasi Z, yang banyak berhadapan dengan dinamika hubungan dan persoalan percintaan di era media sosial. Dari sisi musik, Dodo juga ingin menawarkan warna yang berbeda.

Di tengah munculnya berbagai eksplorasi musik dangdut modern dan tren Hipdut, Dodo melihat masih ada ruang untuk menghadirkan karakter lain. Bersama karya-karyanya, ia ingin menciptakan musik yang catchy dan easy listening tanpa kehilangan identitas.

Bagi Dodo, menjadi penyanyi bukan hanya persoalan memiliki suara. Seorang penyanyi juga harus mampu menemukan lagu yang sesuai dengan identitasnya, memahami bagaimana lagu tersebut dibawakan, dan pada akhirnya membuat karya yang dapat diterima publik.

Media sosial menjadi bagian penting dari proses tersebut. Menurut Dodo, kehadiran TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform digital membuat seorang kreator maupun musisi memiliki akses yang jauh lebih luas untuk memperkenalkan karya.

“Media sosial sangat berperan banyak saat ini. Bagi saya sangat penting sekali sebagai branding seorang public figure,” tuturnya.

Meski begitu, Dodo tidak ingin perjalanan kariernya berhenti pada popularitas media sosial. Ia memiliki target yang jauh lebih besar: merilis album sendiri dan suatu hari menggelar konser tunggal berskala besar.

Bukan hanya konser intim, tetapi sebuah pertunjukan yang megah dan mewah. Ia juga ingin suatu hari dikenal bukan hanya sebagai content creator yang bisa bernyanyi, tetapi sebagai Dodo Zak, seorang penyanyi yang memiliki karya-karya yang mampu bertahan dan dinyanyikan kembali oleh banyak orang.

Setelah sempat menghabiskan bertahun-tahun di dunia korporat, Dodo kini kembali mengejar mimpi yang sebenarnya sudah ia kenal sejak kecil.

Perjalanannya mungkin belum panjang. Album dan konser impian itu masih menjadi bagian dari target masa depan.

Namun, bagi Dodo, satu keputusan penting sudah diambil. Ia memilih mencoba.

Sebab baginya, kegagalan masih lebih baik daripada harus terus bertanya-tanya tentang apa yang mungkin terjadi jika ia tidak pernah berani mengejar mimpinya. Dan dari keputusan tersebut, perjalanan Dodo Zak sebagai penyanyi baru benar-benar dimulai.