radarbaru.com – Ada fase dalam hidup ketika seseorang mulai bertanya apakah semua yang dikejar selama ini memang masih layak dipertahankan. Karier, ambisi, target, hingga ekspektasi orang lain bisa terasa seperti sistem yang terus berjalan tanpa pernah benar-benar diperiksa ulang.

Pertanyaan semacam itu menjadi napas utama album terbaru rief6669 bertajuk Refactoring, yang dirilis pada 3 September. Berisi sembilan trek, album ini tersedia di Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

Alih-alih menghadirkan musik dengan ledakan emosi yang berlebihan, rief6669 memilih pendekatan yang lebih tenang dan kontemplatif. Ia menggunakan sudut pandang seorang software engineer untuk membicarakan sesuatu yang sangat manusiawi: bagaimana menata ulang kehidupan tanpa kehilangan jati diri.

Ketika Hidup Mulai Terasa Seperti Legacy Code

Istilah refactoring dalam dunia software engineering merujuk pada proses memperbaiki struktur kode tanpa mengubah fungsi atau esensi utamanya. Konsep tersebut kemudian diterjemahkan rief6669 menjadi metafora untuk kehidupan.

Banyak orang dewasa menjalani hidup dengan semacam legacy code: kebiasaan lama, ekspektasi keluarga, ambisi masa muda, hingga gambaran masa depan yang sejak awal seolah sudah hardcode.

Masalahnya, manusia terus berubah.

Apa yang terasa penting ketika berusia 20-an belum tentu memiliki nilai yang sama ketika seseorang mulai memasuki fase karier, membangun keluarga, atau menjadi orang tua.

Di titik tersebut, kehidupan membutuhkan proses refactoring. Bukan berarti menghapus seluruh perjalanan sebelumnya, melainkan meninjau kembali struktur yang sudah dibangun dan menentukan bagian mana yang masih relevan.

Gagasan itulah yang menjadi benang merah Refactoring, terutama bagi pendengar dewasa muda yang sedang menghadapi quarter-life crisis, profesional yang mulai rentan mengalami burnout, maupun orang tua baru yang harus mendefinisikan ulang prioritas hidup.

Dari Workaholic hingga Menemukan Rumah

Salah satu trek yang menjadi sorotan adalah “Awal Cerita Selamanya”. Lagu ini menggambarkan runtuhnya ego seorang workaholic ketika kehadiran keluarga mulai mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Ambisi yang sebelumnya menjadi pusat perhatian perlahan harus berkompromi dengan sesuatu yang jauh lebih personal. Kesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari pencapaian pekerjaan, tetapi juga dari keberadaan seseorang bagi orang-orang yang dicintainya.

Tema tersebut menjadi menarik karena tidak disampaikan dengan narasi yang menggurui. Album ini justru terasa seperti catatan pribadi seseorang yang sedang belajar menerima bahwa tidak semua hal harus dikendalikan.

Semangat itu kemudian berlanjut dalam “Tumbuhlah Bebas”, sebuah pesan lintas generasi dari seorang ayah kepada anaknya. Lagu tersebut membawa gagasan tentang kebebasan menjalani kehidupan tanpa harus selalu tunduk pada ekspektasi dunia luar.

Trek tersebut juga memiliki momen personal karena dirilis bertepatan dengan hari ulang tahun sang anak. Konteks tersebut membuat pesan lagunya terasa semakin dekat dengan tema besar album: keluarga sebagai bagian penting dalam proses mendefinisikan ulang arti kehidupan.

Menolak Hidup yang Terlalu Di-hardcode

Jika ada satu hal yang menjadi kritik utama album ini terhadap kehidupan modern, mungkin jawabannya adalah kecenderungan manusia untuk membuat semuanya terlalu pasti.

Pendidikan harus menuju pekerjaan tertentu. Karier harus terus naik. Penghasilan harus meningkat. Rumah harus segera dimiliki. Kehidupan keluarga pun sering kali memiliki standar yang sudah ditentukan lingkungan.

“Struktur Berantakan” secara langsung bermain dengan gagasan tersebut. Lagu ini menormalisasi kegagalan sekaligus menyuarakan penolakan terhadap kehidupan yang terlalu hardcode.

Kegagalan dalam konteks ini bukan akhir dari sistem. Ia justru dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali struktur yang selama ini digunakan.

Gagasan tersebut terasa relevan bagi mereka yang sedang mengalami fase transisi. Ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, mungkin yang perlu dilakukan bukan memaksakan sistem lama, tetapi berani menyusun ulang prioritas.

Kesabaran dalam Secangkir Kopi

Menariknya, refleksi dalam album ini tidak selalu hadir melalui metafora teknologi. “Ekstraksi Waktu” menggunakan metode seduh kopi V60 sebagai cara membicarakan kesabaran.

Seperti proses menyeduh kopi secara manual, sesuatu tidak selalu bisa dipercepat hanya karena seseorang menginginkannya segera selesai. Ada tahapan, waktu, dan proses yang harus dijalani.

Metafora tersebut memperluas perspektif album. Kehidupan bukan perangkat lunak yang bisa diperbaiki hanya dengan satu perintah.

Ada hal-hal yang membutuhkan waktu untuk dipahami.

Ada hubungan yang membutuhkan perhatian.

Ada pula keputusan yang baru terasa tepat setelah seseorang memberikan ruang untuk berhenti dan berpikir.

Pendekatan seperti ini membuat Refactoring tidak terasa seperti album motivasi konvensional. Ia lebih menyerupai teman perjalanan bagi orang-orang yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri.

Tidak Perlu Selalu Berlari

Di tengah budaya yang sering mendorong seseorang untuk terus produktif, album ini mengambil posisi yang berbeda.

Tidak ada tuntutan untuk selalu bergerak lebih cepat. Tidak semua waktu harus menghasilkan pencapaian. Bahkan mengambil jeda pun dapat menjadi bagian dari proses memperbaiki kehidupan.

Musikalitasnya mendukung gagasan tersebut. Aransemen album mengalir tenang dan tidak dibuat untuk mengejar ledakan emosi. Setiap trek terasa diarahkan untuk menciptakan ruang bagi pendengar agar bisa berhenti sejenak dari rutinitas.

Pendekatan ini membuat album cocok menemani momen-momen sederhana: perjalanan pulang, malam setelah pekerjaan selesai, menikmati kopi, atau ketika seseorang hanya ingin duduk tanpa melakukan apa pun.

Pada akhirnya, musik di sini bukan sekadar sesuatu yang didengarkan. Ia menjadi ruang untuk berpikir.

Graceful Shutdown di Penghujung Hari

Tema tersebut mencapai salah satu titik penting melalui trek “Penghujung Hari”.

Istilah graceful shutdown dalam teknologi menggambarkan proses mematikan sistem dengan cara yang teratur. Dalam album ini, konsep tersebut berubah menjadi pengingat bahwa seseorang tidak harus terus bekerja dan mengejar validasi tanpa batas.

Ada waktunya sistem perlu dimatikan.

Ada waktunya pekerjaan selesai.

Dan ada waktunya seseorang kembali ke rumah.

Pesan tersebut sekaligus memperkuat gagasan utama album bahwa validasi tertinggi tidak selalu datang dari dunia profesional. Setelah berbagai pencapaian dan kegagalan, rumah dapat menjadi tempat seseorang kembali menjadi dirinya sendiri.

Bagi profesional yang sedang menghadapi burnout atau orang tua baru yang sedang beradaptasi dengan kehidupan berbeda, pesan tersebut terasa sederhana tetapi relevan.

Refactoring sebagai Ajakan untuk Menata Ulang

Pada akhirnya, Refactoring bukan album tentang menjadi seseorang yang baru. Album ini justru berbicara mengenai keberanian untuk memperbaiki cara menjalani kehidupan tanpa harus menghapus siapa diri kita sebelumnya.

Sembilan trek di dalamnya membawa pendengar melewati berbagai persoalan: ego, pekerjaan, keluarga, ekspektasi, kegagalan, kesabaran, hingga kebutuhan untuk pulang.

Konsep software engineering yang digunakan rief6669 menjadi metafora yang cukup kuat karena kehidupan modern memang sering terasa seperti sistem yang terlalu rumit. Kita menambahkan target demi target, menjalankan rutinitas yang sama, lalu lupa bertanya apakah sistem tersebut masih bekerja untuk kita.

Mungkin yang dibutuhkan bukan selalu upgrade besar-besaran.

Kadang, cukup berhenti sejenak, memeriksa kembali struktur kehidupan, membersihkan bagian yang tidak lagi diperlukan, lalu melanjutkan perjalanan dengan cara yang lebih sederhana.

Bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan antara ambisi dan kehidupan personal, album ini menawarkan satu perspektif: tidak ada salahnya melakukan refactoring terhadap hidup.

Dan seperti sebuah sistem yang baik, kehidupan tidak harus sempurna. Yang penting, ia tetap memiliki ruang untuk berkembang, berubah, dan menemukan tempat pulang.

Dengarkan album Refactoring rief6669: Refactoring di Spotify