Oleh: Evan Nico Wijaya*
Sebelum tidur dan sesaat setelah bangun, tangan kita sudah lebih dulu meraih layar. Kita menggulir puluhan konten seperti berita, video pendek, utas panjang, komentar yang terasa sangat masuk akal semuanya datang tanpa henti, tanpa kita minta. Dan di ujung semua itu, kita merasa tahu sesuatu.
Tapi di antara begitu banyak informasi yang saling bertentangan, masing-masing mengklaim dirinya benar, dengan cara apa kita memutuskan mana yang benar? Dan pertanyaan yang lebih tajamnya: jika informasi yang sampai ke kita sudah dipilihkan oleh sesuatu yang tidak kita kendalikan, apakah kita benar-benar sedang berpikir atau kita hanya menelan apa yang disodorkan?
Masalahnya bukan hanya hoaks.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat lebih dari 12.000 konten hoaks yang ditangani sejak 2018. Lebih dari seribu di antaranya menyebar hanya dalam satu tahun (2023). Angka yang besar, tapi bukan angka itu yang paling mengkhawatirkan.
Yang lebih berbahaya adalah cara kerjanya. Gobang dkk. (2024) menunjukkan bahwa hoaks tidak menyebar karena orang bodoh. Hoaks menyebar karena ia dirancang untuk menyerang titik paling rapuh dalam diri manusia: emosinya. Ketakutan, kemarahan, kebingungan. Semua itu bukan efek samping hoaks, melainkan mekanismenya. Begitu emosi sudah diambil alih, kemampuan kita untuk bertanya “apakah ini benar?” nyaris mati..
Maka masalahnya bukan sekadar informasi yang salah beredar. Masalahnya adalah kita semakin kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang tidak, karena kita tidak lagi menilai informasi dengan kepala dingin, melainkan dengan perasaan. Dan jika kebenaran kini ditentukan oleh siapa yang paling berhasil memancing emosi kita, pertanyaannya jadi lebih dalam: siapa sebenarnya yang sedang mengendalikan apa yang kita percaya?
Empat ratus tahun lalu, René Descartes melakukan sesuatu yang radikal: ia meragukan segalanya. Inderanya, dunia di sekitarnya, bahkan tubuhnya sendiri. Ia bertanya “jika semua yang ia lihat dan rasakan bisa saja tipuan, adakah satu hal yang benar-benar tidak bisa diragukan?”
Jawabannya ia temukan bukan di luar dirinya, tapi di dalam. Cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Selama ia masih berpikir, ia pasti eksis. Dari titik itu, Descartes percaya bahwa nalar manusia, jika digunakan dengan sungguh-sungguh dan jernih mampu membongkar kebenaran dari balik segala kekeliruan.
Tapi di era di mana hoaks tidak bekerja lewat logika, melainkan lewat ketakutan dan kemarahan yang menghantam jauh sebelum nalar sempat bereaksi, fondasi yang dibangun Descartes mulai retak. Bukan karena nalarnya salah. Tapi karena pertanyaannya sudah bergeser: bukan lagi apakah kita mau berpikir jernih, melainkan apakah nalar kita masih punya kesempatan untuk bekerja ketika emosi sudah lebih dulu diambil alih.
Jacques Derrida tidak datang dengan jawaban. Ia datang dengan pertanyaan yang lebih tajam.
Jika Descartes percaya bahwa nalar murni bisa membawa kita ke kebenaran, Derrida justru mempertanyakan apakah “nalar murni” itu pernah benar-benar ada. Dalam Of Grammatology (1967), ia memperkenalkan konsep yang ia sebut logosentrisme — kepercayaan kita yang tanpa sadar sudah tertanam bahwa di balik semua informasi yang beredar, ada satu kebenaran yang netral, stabil, dan bisa ditemukan asal kita mau berpikir cukup keras.
Derrida menunjukkan bahwa kepercayaan itu sendiri adalah ilusi. Tidak ada pusat kebenaran yang berdiri sendiri. Setiap makna selalu bergantung pada konteks, pada bahasa, pada siapa yang berbicara dan siapa yang mendengar.
Inilah yang membuat fenomena hoaks jauh lebih rumit dari sekadar informasi yang salah. Lewat apa yang ia sebut dekonstruksi, Derrida menunjukkan bahwa hoaks bisa hidup justru karena kita percaya kebenaran itu tunggal dan pasti, sehingga begitu ada yang mengklaim kepastian itu dengan cukup meyakinkan, kita cenderung percaya. Di era digital, yang paling mahir mengklaim kepastian bukan manusia. Melainkan algoritma yang tahu persis emosi apa yang harus dipicu agar kita berhenti bertanya.
Jadi, apakah kita masih benar-benar berpikir?
Descartes percaya kebenaran bisa ditemukan asal kita mau berpikir sungguh-sungguh. Derrida mengingatkan bahwa berpikir sungguh-sungguh itu sendiri sudah dibentuk oleh kekuatan yang tidak pernah kita pilih: bahasa, budaya, struktur kekuasaan. Dan kini, algoritma.
Kita hidup di era di mana yang menentukan apa yang kita baca, apa yang kita percaya, dan apa yang kita rasakan bukan lagi sepenuhnya diri kita sendiri. Ada sistem yang bekerja diam-diam di balik setiap konten yang muncul di layar kita memilihkan, menyesuaikan, memancing.
Maka pertanyaannya bukan lagi mana yang benar. Pertanyaannya adalah: di tengah semua yang sudah dikondisikan untuk kita, apakah kita masih benar-benar berpikir atau kita hanya merasa sedang berpikir?
Karena ada perbedaan besar antara keduanya. Dan perbedaan itulah yang sedang dipertaruhkan.
***
*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya
**) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi radarbaru.com




