Gresik – Suasana sejuk di kawasan Kafe Goa Lowo, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, tampak berbeda pada Rabu pagi, 8 Juli 2026. Sejak pukul 09.00 WIB, puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Melirang berkumpul dengan penuh antusias. Mereka menghadiri program kerja inovatif yang diinisiasi oleh mahasiswa Sistem dan Teknologi Informasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang khusus untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata di pedesaan. Kali ini, fokus utamanya adalah mengenalkan sebuah alat pengolah sampah yang unik dan mandiri, yaitu komposter ember tumpuk bertenaga surya. Langkah tersebut diambil sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan desa sekaligus membantu aktivitas pertanian warga setempat melalui pemanfaatan sisa limbah organik domestik rumah tangga.
Acara berlangsung sangat interaktif di ruang terbuka tepi kawasan wisata Goa Lowo. Perwakilan mahasiswa memberikan penjelasan langsung mengenai cara kerja alat komposter yang menggunakan dua buah ember plastik putih berukuran besar yang ditumpuk secara vertikal. Mahasiswa menerangkan dengan bahasa yang sederhana bahwa alat ini tidak memerlukan pasokan listrik rumah sama sekali, melainkan memanfaatkan sebuah papan panel hitam kecil di atas tutupnya untuk menangkap energi matahari pagi yang kemudian digunakan untuk memutar kipas angin sirkulasi udara di dalam ember.
Ibu-ibu Gapoktan Melirang diajak melihat langsung simulasi pemilahan sampah dapur—seperti potongan sayuran, kulit buah, dan dedaunan kering—yang dimasukkan ke dalam ember bagian atas sebagai ruang pelapukan. Melalui kolaborasi ini, diharapkan para ibu tani tidak lagi membuang sisa dapur mereka ke tempat pembuangan akhir, melainkan mampu mengolahnya secara mandiri menjadi pupuk padat alami yang subur serta pupuk cair yang kaya nutrisi bagi lahan pertanian mereka.
Pertemuan produktif ini menjadi bukti nyata bagaimana kepedulian mahasiswa dan semangat gotong royong ibu-ibu tani dapat menyatu secara harmonis. Dengan adanya edukasi ini, Desa Melirang diharapkan dapat menjadi pelopor desa yang mandiri pupuk organik, menciptakan lingkungan pertanian yang jauh lebih sehat, bersih, dan berkelanjutan demi kesejahteraan generasi mendatang.* (Trimitha)




