Lampung, radarbaru.com – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Minggu malam, 6 September 2026.
Letusan terjadi sekitar pukul 20.23 WIB dan menyebabkan abu vulkanik membumbung tinggi hingga mencapai sekitar 50.000 kaki di atmosfer.
Erupsi tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas vulkanik yang berlangsung sejak Jumat malam. Status Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berada pada Level III atau Siaga.
Pemantauan dilakukan Badan Geologi Kementerian ESDM bersama sejumlah pihak terkait, termasuk BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Abu Vulkanik Menyebar ke Lima Provinsi
Hasil pemantauan menunjukkan material abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke sejumlah wilayah.
Sedikitnya terdapat lima provinsi yang masuk dalam jalur sebaran abu, yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Informasi mengenai pergerakan abu tersebut turut diperkuat melalui pengamatan satelit Himawari-9 serta laporan Darwin Volcanic Ash Advisory Center (VAAC).
Dari hasil pemantauan, sebaran abu teridentifikasi dalam dua kelompok utama di atmosfer.
Kelompok pertama mencapai ketinggian sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan wilayah Banten serta Jakarta.
Sementara kelompok kedua memiliki ketinggian yang jauh lebih tinggi, yakni mencapai sekitar 50.000 kaki.
Material vulkanik pada klaster kedua bergerak ke arah barat daya dan menjangkau sejumlah wilayah di Sumatra.
Warga Lampung Mulai Rasakan Dampak Abu
Dampak sebaran abu vulkanik mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung.
Beberapa daerah yang terdampak antara lain Lampung Selatan, Pesawaran, Tanggamus, dan Kota Bandar Lampung.
Sejumlah warga melaporkan adanya gangguan akibat kondisi udara yang terpapar material vulkanik.
Keluhan yang muncul antara lain mata terasa perih serta gangguan pernapasan atau sesak napas.
Kondisi tersebut menjadi perhatian seiring masih berlangsungnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Karakter Erupsi Berubah Menjadi Strombolian
Otoritas juga mencatat adanya perubahan karakter letusan Gunung Anak Krakatau.
Sebelumnya, aktivitas erupsi berlangsung secara menerus selama sekitar 25 jam.
Namun, aktivitas tersebut kemudian berubah menjadi fase strombolian.
Tipe erupsi strombolian ditandai dengan ledakan vulkanik yang relatif ringan, tetapi dapat terjadi secara berulang dalam periode tertentu.
Perubahan karakter letusan tersebut membuat pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya bahaya sekunder.
“Penyebaran abu terpantau melalui rangkaian informasi resmi dari PVMBG, VAAC Darwin, dan citra satelit Himawari-9,” kata Lana Saria.
Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Gunung Anak Krakatau saat ini termasuk salah satu dari enam gunung api di Indonesia yang berstatus Siaga atau Level III.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan aktivitas vulkanik melalui kanal informasi resmi.
Masyarakat juga diminta memperhatikan informasi dari MAGMA Indonesia untuk mengetahui perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan tersebut penting, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu maupun sektor penerbangan yang berpotensi terdampak sebaran material vulkanik.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus dipantau oleh otoritas terkait untuk memastikan perkembangan erupsi dapat diketahui secara cepat dan akurat.









