Bekasi, radarbaru.com – Universitas YARSI melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melaksanakan program pemberdayaan bagi pelaku Usaha Ultra Mikro (UMi) di Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, Bekasi. Program bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi keluarga melalui penguatan manajemen keuangan usaha dan domestik di internal rumah tangga, literasi gizi keluarga dan usaha kuliner, pemasaran digital bagi peningkatan pendapatan keluarga, serta dukungan bahan baku dan sarana produksi sesuai kebutuhan pelaku usaha.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tahap persiapan dan identifikasi kebutuhan, kegiatan inti pada 27–31 Agustus 2026, hingga pendampingan dan konsultasi usaha yang berlangsung sampai Oktober 2026.
Tahap Pertama: Persiapan dan Identifikasi Kebutuhan
Pada tahap persiapan, tim Universitas YARSI melakukan koordinasi dengan Kelurahan Sepanjang Jaya dan kelompok Usaha Ultra Mikro Bekasi–Rawalumbu. Tim juga melakukan survei, pendataan, konsultasi, serta identifikasi kebutuhan usaha untuk mengetahui persoalan yang dihadapi pelaku UMi, khususnya terkait pengelolaan keuangan usaha dan rumah tangga, kebutuhan bahan baku, sarana produksi, serta pemasaran.
Pendekatan ini dilakukan agar program tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi disusun berdasarkan kebutuhan nyata masing-masing pelaku usaha.
Tahap Kedua: Kegiatan Inti 27–31 Agustus 2026
Kegiatan inti dilaksanakan pada 27 Agustus 2026 di Aula/Kantor Kelurahan Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Bekasi. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta binaan dan sekitar 15–20 peserta dari lingkungan sekitar. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan penyaluran bahan baku dan sarana produksi pada 31 Agustus 2026.
Workshop menghadirkan empat narasumber dengan keahlian dan topik yang saling melengkapi.
Pertama, Nida Nadya Hasan, M.S.Ak., praktisi keuangan, menyampaikan materi “Manajemen Keuangan Usaha Mikro dan Keuangan Domestik Keluarga.” Materi membahas teknik praktis pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, pencatatan keuangan sederhana, serta perencanaan keuangan keluarga agar modal usaha tidak tergerus oleh kebutuhan domestik.
Kedua, dr. Sri Wuryanti, MS, Sp.GK, menyampaikan materi “Manajemen Produksi Usaha Makanan dengan Modal Kecil namun Lezat, Bergizi, dan Diminati Konsumen.” Materi menekankan produksi makanan yang sehat, higienis, efisien, serta pentingnya memperhatikan nilai gizi dalam pengembangan usaha makanan. Dalam rancangan kegiatan, materi ini juga mencakup higienitas dan keselamatan kerja, efisiensi biaya bahan baku, serta formulasi menu yang murah, lezat, dan bernutrisi.
Ketiga, Dr. Ummi Azizah Rachmawati, menyampaikan materi “Memaksimalkan Pemanfaatan Media Sosial untuk Meningkatkan dan Memperluas Pemasaran Produk Usaha Mikro.” Peserta memperoleh pemahaman mengenai strategi pemasaran digital yang ramah bagi pelaku UMi, pemanfaatan WhatsApp, Instagram, dan TikTok melalui smartphone, penyusunan konten visual yang menarik, serta upaya memperluas jangkauan pelanggan lokal.
Keempat, Dr. Ir. Any Setianingrum, M.E.Sy., menyampaikan materi “Perlindungan dan Solusi dari Pinjaman Online Ilegal serta Rentenir agar Keuangan Usaha dan Keluarga Tetap Sehat, Lancar, Aman dan Berkah.” Materi mencakup literasi keuangan, bahaya dan jebakan pinjaman online ilegal serta rentenir, strategi menghindari jeratan utang, edukasi keuangan bebas riba, serta penguatan support system berbasis komunitas.
Dengan demikian, materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek usaha, tetapi mengintegrasikan empat aspek penting, yaitu pengelolaan keuangan, kesehatan dan gizi dalam produksi makanan, pemasaran digital, serta perlindungan keluarga dari persoalan utang.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyaluran bahan baku dan sarana produksi pada 31 Agustus 2026. Bantuan diberikan berdasarkan hasil survei, konsultasi, dan pendampingan sehingga jenis dukungan disesuaikan dengan kebutuhan usaha peserta.
Tahap Ketiga: Pendampingan dan Konsultasi Berkelanjutan
Setelah kegiatan inti, program tidak berhenti pada pelatihan dan pemberian bantuan. Tim melanjutkan pendampingan dan konsultasi kepada pelaku UMi di lingkungan RW Kelurahan Sepanjang Jaya hingga Oktober 2026.
Pendampingan diarahkan untuk membantu peserta menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama workshop, khususnya dalam pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, pengelolaan usaha, pemanfaatan media sosial, serta pemanfaatan bahan baku dan sarana produksi yang telah diberikan.
Pendekatan pendampingan juga diarahkan pada penguatan support system kelompok. Hal ini penting karena pelaku usaha ultra mikro umumnya menghadapi keterbatasan modal, kapasitas manajemen, akses pasar, dan teknologi secara bersamaan. Karena itu, penguatan jejaring kelompok dan lingkungan menjadi bagian dari strategi keberlanjutan program.
Evaluasi Menunjukkan Peningkatan Pengetahuan
Program juga dilengkapi dengan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Dari 26 peserta yang memiliki data berpasangan, rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 92,63 sebelum kegiatan menjadi 98,72 setelah kegiatan. Peningkatan sebesar 6,09 poin atau 6,57% tersebut menunjukkan perubahan pengetahuan yang signifikan berdasarkan uji Wilcoxon (p<0,001).
Selain peningkatan pengetahuan, dokumentasi pendampingan menunjukkan adanya dukungan bahan baku dan sarana produksi yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Peserta juga memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai pemisahan keuangan usaha dan kebutuhan domestik serta pemilihan pangan berdasarkan nilai gizi.
Dr. Ir. Any Setianingrum, M.E.Sy., selaku ketua tim pelaksana, menjelaskan bahwa penguatan usaha ultra mikro perlu dilakukan secara terpadu.
“Penguatan usaha ultra mikro tidak cukup hanya melalui pemberian modal atau bantuan barang. Pelaku usaha juga membutuhkan kemampuan mengelola keuangan, memahami kebutuhan gizi keluarga, memanfaatkan pemasaran digital, serta memiliki support system yang dapat membantu keberlanjutan usaha,” ujarnya.
Program Universitas YARSI ini diharapkan dapat menjadi model pendampingan berbasis kelompok yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas peserta, tetapi juga pada penguatan ketahanan ekonomi keluarga. Pendampingan lanjutan tetap diperlukan untuk melihat perkembangan usaha secara lebih objektif, terutama melalui indikator penjualan, omzet, biaya usaha, dan pendapatan dalam periode berikutnya.
Dengan demikian, rangkaian program di Sepanjang Jaya tidak hanya berupa satu kali kegiatan workshop, tetapi merupakan proses pemberdayaan tiga tahap: persiapan dan identifikasi kebutuhan, kegiatan inti dan dukungan produksi pada 27–31 Agustus 2026, serta pendampingan dan konsultasi berkelanjutan hingga Oktober 2026.








