radarbaru.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin meluas dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam proses pembuatan konten digital. Teknologi ini dapat membantu kreator menemukan ide, menyusun konsep, mengolah video, hingga mempelajari keterampilan baru dengan lebih efisien.
Meski menawarkan banyak kemudahan, penggunaan AI tetap membutuhkan pertimbangan dan tanggung jawab. Kreator perlu memastikan bahwa konten yang dihasilkan sesuai konteks, tidak menyesatkan, serta tetap memiliki sentuhan manusia.
TikTok mendorong para kreator untuk menggunakan AI secara transparan dan bertanggung jawab. Salah satu langkah yang disoroti adalah membiasakan diri menerapkan prinsip #PikirDuaKali sebelum mempercayai atau membagikan konten yang berpotensi menggunakan teknologi AI.
Pengamat teknologi informasi dan ahli keamanan siber, Alfons Tanujaya, menilai perkembangan AI generatif membuat kemampuan masyarakat dalam mengenali konten buatan mesin menjadi semakin penting.
Menurut Alfons, teknologi kini memungkinkan siapa saja menghasilkan gambar atau video yang tampak sangat mirip dengan kondisi sebenarnya dalam waktu singkat. Situasi tersebut membuat tanggung jawab pengguna dan keterbukaan platform menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik.
Ia menambahkan, AI dapat membantu mengembangkan ide dan memperluas kemungkinan dalam proses kreatif. Namun, perspektif, pengalaman, dan intuisi manusia tetap menjadi unsur yang memberikan identitas serta makna pada sebuah karya.
AI memang dapat mengolah pola berdasarkan data yang tersedia. Akan tetapi, manusia memiliki pengalaman hidup, empati, dan pemahaman konteks yang dibutuhkan untuk menghasilkan karya yang relevan bagi audiens.
1. Pilih Tools AI Sesuai Kebutuhan
Langkah pertama adalah menentukan tujuan sebelum menggunakan perangkat AI. Setiap alat memiliki fungsi dan keunggulan berbeda, sehingga kreator sebaiknya memilih teknologi berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Untuk mencari inspirasi dan menyusun konsep konten, kreator dapat memanfaatkan alat yang membantu mengembangkan gagasan awal menjadi kerangka yang lebih terstruktur. Sementara itu, kebutuhan mengolah video panjang menjadi beberapa klip pendek memerlukan perangkat dengan kemampuan penyuntingan yang sesuai.
TikTok menyediakan sejumlah perangkat kreatif berbasis AI, termasuk AI Outline dan Smart Split. AI Outline membantu menyusun kerangka konten, judul, tagar, hingga hook atau pembuka yang menarik. Adapun Smart Split dirancang untuk membantu membagi video panjang menjadi beberapa klip pendek.
Penggunaan alat yang tepat dapat membuat proses produksi lebih efisien. Meski begitu, kreator tetap perlu memeriksa hasilnya agar sesuai dengan karakter konten, kebutuhan audiens, dan tujuan publikasi.
2. Pertahankan Sentuhan dan Penilaian Manusia
AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi hasil yang dihasilkan tidak selalu sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, kreator perlu mengevaluasi kembali setiap keluaran sebelum menggunakannya.
Pemeriksaan dapat dimulai dengan memastikan ketepatan informasi, kesesuaian konteks, dan relevansi materi bagi audiens. Jika AI menghasilkan ide, naskah, gambar, atau video, kreator perlu menilai apakah hasil tersebut benar-benar mendukung pesan yang ingin disampaikan.
Alfons menekankan pentingnya keterlibatan manusia dalam mengubah hasil olahan AI menjadi sesuatu yang bermanfaat. Perspektif, empati, dan kemampuan analitis dibutuhkan agar informasi yang dihasilkan teknologi dapat menjadi solusi yang bermakna.
Dengan demikian, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti sepenuhnya bagi penilaian kreator. Keaslian gagasan dan kualitas akhir konten tetap bergantung pada cara manusia mengarahkan serta mengevaluasi teknologi tersebut.
3. Beri Label pada Konten yang Dibuat dengan AI
Transparansi menjadi salah satu hal penting dalam penggunaan AI untuk membuat konten digital. Audiens perlu memperoleh informasi yang memadai ketika sebuah konten dibuat atau mengalami perubahan signifikan menggunakan teknologi tersebut.
Kreator TikTok, Theresa, turut menyoroti pentingnya keterbukaan dalam penggunaan AI. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengaktifkan label AI sebelum mengunggah konten yang memenuhi ketentuan pelabelan platform.
Label tersebut membantu audiens memahami konteks konten yang mereka lihat. Keterbukaan juga dapat mendukung kepercayaan antara kreator dan pengikutnya, terutama ketika teknologi mampu menghasilkan materi visual yang menyerupai kejadian nyata.
TikTok menyatakan telah mengembangkan sejumlah teknologi transparansi AI. Platform tersebut menggunakan kombinasi Content Credentials berbasis standar C2PA, alat pelabelan kreator, dan teknologi penanda tak terlihat untuk membantu mengidentifikasi konten buatan AI.
Menurut informasi yang disampaikan TikTok, platform itu telah memberikan label pada lebih dari 3 miliar video buatan AI di seluruh dunia melalui kombinasi teknologi dan fitur tersebut.
4. Terapkan Prinsip 3C Sebelum Mempercayai atau Membagikan Konten
Konten yang menarik atau terlihat meyakinkan belum tentu sepenuhnya akurat. Karena itu, kreator dan pengguna perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum menyebarkannya.
Kreator TikTok, Evelyn Hutani, mengingatkan pentingnya menahan diri sebelum bereaksi terhadap video yang tampak lucu, mengejutkan, atau menarik untuk dibagikan. Kebiasaan #PikirDuaKali dapat diterapkan melalui prinsip 3C berikut.
Cek: Periksa apakah konten dibuat atau diubah menggunakan AI. Pahami konteksnya dan bandingkan informasi dengan sumber tepercaya jika diperlukan.
Cegah: Jangan terburu-buru mempercayai atau membagikan konten yang masih meragukan. Beri waktu untuk memeriksa keaslian dan ketepatan informasi sebelum mengambil kesimpulan.
Cegat: Gunakan fitur pelaporan apabila menemukan konten yang diduga melanggar aturan platform. Pelaporan membantu platform meninjau konten sesuai kebijakan yang berlaku.
Penerapan prinsip 3C tidak hanya berguna bagi kreator, tetapi juga bagi pengguna yang mengonsumsi informasi setiap hari. Kebiasaan memeriksa sumber dan konteks dapat mengurangi risiko ikut menyebarkan informasi yang keliru.
5. Atur Pengalaman Menonton dan Terus Tingkatkan Literasi AI
Pengguna juga dapat menyesuaikan pengalaman mereka ketika menjelajahi konten di TikTok. Menurut panduan yang disampaikan para kreator, pengaturan preferensi konten dapat digunakan untuk mengelola seberapa banyak konten buatan AI yang ingin ditampilkan.
Pengguna dapat membuka menu Pengaturan dan Privasi, kemudian memilih Preferensi Konten, Kelola Topik, dan Konten Buatan AI. Ketersediaan serta tampilan menu dapat berbeda bergantung pada versi aplikasi dan pengaturan akun.
Selain mengatur preferensi, pemahaman mengenai AI perlu terus ditingkatkan. Teknologi ini berkembang dengan cepat, sehingga pengguna perlu belajar mengenali konten sintetis, memahami keterbatasan AI, dan mengetahui cara memanfaatkan fitur transparansi yang tersedia.
TikTok menyebutkan bahwa pihaknya bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk NAMLE dan Henry Ajder, untuk mendukung panduan penggunaan AI secara bertanggung jawab. Platform tersebut juga menyatakan mendukung organisasi seperti NoFiltr dan Raspberry Pi Foundation dalam mendorong literasi AI melalui konten digital.
Menurut TikTok, sejak diluncurkan pada November 2025, program tersebut telah membantu berbagai organisasi ahli meraih lebih dari 200 juta tayangan melalui konten edukasi mengenai pemahaman dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
AI Membantu Kreativitas, Tanggung Jawab Tetap di Tangan Manusia
Pemanfaatan AI membuka peluang baru bagi kreator untuk menghasilkan karya secara lebih cepat dan mengeksplorasi berbagai ide. Namun, kemudahan teknologi perlu diimbangi dengan penilaian kritis, transparansi, serta kesadaran terhadap dampak konten yang dipublikasikan.
Memilih alat sesuai kebutuhan, mengevaluasi hasil AI, memberi label secara transparan, memeriksa informasi sebelum membagikannya, dan terus meningkatkan literasi digital merupakan langkah yang dapat diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Pada akhirnya, AI hanyalah alat pendukung. Kualitas dan dampak sebuah karya tetap dipengaruhi oleh tujuan, keputusan, serta tanggung jawab manusia yang menggunakannya.









