Sumba Timur, radarbaru.com – Kekayaan budaya Sumba Timur tidak hanya terlihat dari bentang alamnya, tetapi juga dari tradisi tenun ikat yang terus hidup di tengah masyarakat. Di Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu, tenun ikat menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat karena memuat keterampilan menenun, penggunaan pewarna alami, filosofi motif, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di balik potensi tersebut, masih terdapat tantangan dalam mendokumentasikan dan mengomunikasikan kekayaan budaya desa melalui media audiovisual yang menarik, terpadu, dan mudah disebarluaskan. Kondisi ini mendorong tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University mengembangkan video profil Desa Watuhadang berbasis frugal innovation sebagai media promosi sekaligus dokumentasi budaya. Program ini dirancang dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses pengembangan konten. Perangkat desa, perempuan penenun, pemuda, kelompok sadar wisata, dan pelaku UMKM dilibatkan untuk membantu mengidentifikasi potensi lokal, memberikan informasi mengenai tradisi dan aktivitas masyarakat, serta memastikan narasi yang ditampilkan sesuai dengan kondisi desa.

Pendekatan frugal innovation digunakan agar media promosi dapat dikembangkan dengan mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Prinsipnya bukan sekadar menghasilkan video dengan biaya rendah, tetapi memusatkan sumber daya pada fungsi yang paling penting: menyampaikan identitas desa, mendokumentasikan budaya, dan menghasilkan media yang dapat digunakan kembali melalui berbagai kanal digital.

Konten video diarahkan untuk memperlihatkan suasana Desa Watuhadang, aktivitas masyarakat, tahapan pembuatan tenun ikat, penggunaan pewarna alami, filosofi motif, peran perempuan penenun, produk ekonomi kreatif lokal, serta peluang pengembangan wisata berbasis komunitas. Dengan pendekatan tersebut, video tidak hanya menampilkan kain sebagai produk akhir, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan proses yang membentuk nilai budaya di baliknya.

IMG_0718.JPG
Proses dokumentasi aktivitas tenun ikat dan pengetahuan lokal masyarakat sebagai bagian dari penyusunan video profil Desa Watuhadang. (Foto: Dok/Ist).

Proses pengembangan video dilakukan secara bertahap. Tim terlebih dahulu berkoordinasi dengan masyarakat dan memetakan potensi desa melalui observasi, wawancara, serta diskusi. Hasil pemetaan kemudian digunakan untuk menyusun konsep, narasi, daftar lokasi, narasumber, dan storyboard agar proses produksi lebih terarah.

Tahap berikutnya dilakukan melalui pengambilan gambar di lapangan. Dokumentasi mencakup lingkungan desa, aktivitas masyarakat, proses menenun, pewarnaan alami, wawancara dengan penenun, produk ekonomi kreatif, serta potensi wisata lokal. Masyarakat tidak ditempatkan hanya sebagai objek dokumentasi, tetapi sebagai narasumber dan mitra yang memiliki pengetahuan mengenai budaya mereka sendiri. Setelah pengambilan gambar selesai, materi visual diseleksi dan disusun menjadi video yang informatif dan mudah dipahami. Proses penyuntingan meliputi penyusunan alur visual, narasi, musik pendukung, teks informasi, dan identitas visual. Draf video kemudian divalidasi bersama perangkat desa dan perwakilan masyarakat untuk memastikan ketepatan informasi, istilah lokal, serta representasi nilai budaya. Video profil yang dihasilkan dirancang agar dapat dimanfaatkan secara fleksibel melalui website desa wisata, media sosial, kegiatan promosi, pameran produk lokal, maupun presentasi kepada calon mitra. Materi dokumentasi juga dapat dikembangkan menjadi cuplikan singkat untuk publikasi digital sehingga satu proses produksi dapat menghasilkan konten yang dapat digunakan berulang kali.

Program ini juga memberi perhatian pada peran perempuan penenun sebagai penjaga pengetahuan lokal sekaligus pelaku ekonomi keluarga. Melalui dokumentasi audiovisual, keterampilan menenun, penggunaan bahan pewarna alami, serta cerita di balik motif dapat diperkenalkan kepada audiens yang lebih luas. Pada saat yang sama, promosi digital diharapkan membantu meningkatkan visibilitas produk tenun dan ekonomi kreatif masyarakat. Pengembangan video profil berbasis frugal innovation menunjukkan bahwa penguatan promosi desa tidak selalu harus bergantung pada produksi media yang kompleks. Pemanfaatan sumber daya yang tersedia, pemilihan konten yang relevan, serta keterlibatan masyarakat dapat menjadi dasar untuk menghasilkan media komunikasi yang fungsional, autentik, dan sesuai dengan kebutuhan lokal.

Program Pengabdian kepada Masyarakat ini berfokus pada pengembangan video profil Desa Watuhadang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, melalui pendekatan partisipatif dan frugal innovation sebagai media promosi sekaligus dokumentasi budaya yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Melalui program ini, Telkom University mendorong agar dokumentasi budaya tidak berhenti sebagai arsip kegiatan, tetapi dapat terus digunakan untuk memperkenalkan potensi Desa Watuhadang, memperkuat promosi tenun ikat dan UMKM lokal, mendukung pengembangan wisata berbasis komunitas, serta menjaga agar pengetahuan dan nilai budaya lokal tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.