Maluku Tengah, radarbaru.com – Tim dosen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Pattimura (Unpatti), bersama mahasiswa melatih 17 anggota kelompok tani di Negeri Wakal, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, memproduksi pupuk organik cair (POC) dan bioinsektisida dari bahan lokal menggunakan bioreaktor terpadu. Sosialisasi dan praktik langsung digelar pada Sabtu, 5 September 2026, sebagai bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).

Kegiatan yang dilaksanakan melalui Program Dosen Mengabdi (DMD) ini diketuai oleh Alif Nur Laili Rachmah, S.T., M.T., dengan anggota Sabrianah Badaruddin, S.T., M.T., dan Tamaratritania Citta Trisnantari, S.Tr., M.Eng., serta dua mahasiswa Teknik Kimia, M. Rifqi bin Hamid dan Selvines, turut membantu pelaksanaan pelatihan, pendampingan, dan dokumentasi kegiatan.

Program ini lahir dari kebutuhan kelompok tani dalam memelihara bibit pala, durian, dan cengkeh. Selama ini, sebagian kebutuhan pupuk cair dan pengendalian hama masih dipenuhi dari produk komersial. Melalui pelatihan ini, peserta diajak mengenali dan memanfaatkan bahan organik serta tanaman di lingkungan sekitar untuk membuat POC dan bioinsektisida secara mandiri.

Rangkaian kegiatan diawali dengan observasi dan koordinasi bersama mitra pada 28 Agustus 2026. Pada sesi sosialisasi, peserta berdiskusi mengenai pemanfaatan bahan lokal, prinsip fermentasi, dan tahapan pembuatan produk, sekaligus menyampaikan persoalan yang dihadapi dalam pemeliharaan bibit tanaman.

Dalam praktik pembuatan POC, peserta menyiapkan bahan organik, mencampurnya dengan EM4 dan molase, mengisi bioreaktor, lalu memantau proses fermentasi selama 7–14 hari. Bioinsektisida dibuat secara terpisah dengan bahan utama daun pepaya serta tambahan bawang putih dan cabai. Bioreaktor yang digunakan berbasis drum HDPE berkapasitas 120 liter dan dilengkapi keran pengeluaran. Peserta dilibatkan mulai dari pengisian bahan, pengoperasian alat, dan pengambilan hasil hingga perawatan bioreaktor. Flyer dan modul panduan juga dibagikan sebagai pegangan produksi.

Peserta memasukkan bahan organik ke dalam bioreaktor saat praktik pembuatan POC.
Peserta memasukkan bahan organik ke dalam bioreaktor saat praktik pembuatan POC. (Foto: Dok/Ist).

Setelah praktik bersama, kelompok tani melakukan produksi mandiri pada 6–19 September 2026 dengan pendampingan melalui kunjungan langsung dan komunikasi WhatsApp. Produk yang dihasilkan kemudian disaring sesuai kebutuhan, dikemas, dan diberi label.

Hasil evaluasi melalui kuesioner kepada 17 peserta menunjukkan bahwa 94,1% peserta memberikan respons positif terhadap manfaat teknologi, sedangkan 88,2% memberikan respons positif terhadap peluang keberlanjutan program. Selain bioreaktor terpadu serta produk POC dan bioinsektisida, kegiatan ini juga menghasilkan flyer dan modul panduan yang dapat digunakan kelompok tani untuk melanjutkan produksi secara mandiri.

Anggota kelompok tani mengemas dan memberi label produk POC dan bioinsektisida hasil produksi mandiri.
Anggota kelompok tani mengemas dan memberi label produk POC dan bioinsektisida hasil produksi mandiri. (Foto: Dok/Ist).

“POC dan bioinsektisida berbahan lokal ini tidak kami maksudkan untuk menggantikan sepenuhnya pupuk dan insektisida kimia, melainkan sebagai alternatif pendamping,” ujar Ketua Tim Pengabdian, Alif Nur Laili Rachmah, S.T., M.T.

Menurutnya, karena dibuat dari bahan alami, kedua produk tersebut bekerja secara bertahap. “POC membantu menyuburkan tanah dan menyediakan nutrisi bagi tanaman secara perlahan, sedangkan bioinsektisida bekerja dengan menekan dan mengusir hama. Harapannya, petani dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sedikit demi sedikit dan menerapkan pertanian yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.