Temanggung, radarbaru.com — Keterbatasan air saat musim kemarau masih menjadi tantangan bagi masyarakat Desa Canggal, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, yang berada di lereng Gunung Sindoro. Kondisi ini membuat sebagian petani bergantung pada tanaman tembakau, meskipun hasilnya kerap menghadapi ketidakpastian akibat fluktuasi harga. Seiring upaya masyarakat mengembangkan komoditas sayuran yang membutuhkan pasokan air lebih stabil, ketersediaan sumber air menjadi kebutuhan mendesak. Menjawab persoalan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Matematika (FSM), Universitas Diponegoro (Undip) melakukan pemetaan potensi air tanah menggunakan teknologi geofisika.
Kegiatan yang berlangsung pada 3–14 Agustus 2026 ini dipimpin oleh Dr. Rina Dwi Indriana, S.Si., M.Si., bersama Prof. Dr. Drs. Rahmat Gernowo, M.T., Prof. Dr. Agus Setyawan, S.Si., M.Si., dan Muhammad Fahmi, S.Si., M.Si., serta melibatkan empat mahasiswa Departemen Fisika FSM Undip. Kegiatan ini didukung pendanaan dari FSM Undip sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat.
“Kami melihat adanya potensi sumber air tanah di Desa Canggal yang perlu dikaji lebih lanjut. Melalui metode mikrotremor, kami dapat memperkirakan karakteristik lapisan bawah permukaan tanpa harus melakukan pengeboran terlebih dahulu. Harapannya, hasil ini dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam merencanakan pemanfaatan air secara lebih tepat sasaran,” ujar Rina Dwi Indriana, Ketua Tim Pengabdian.
Mikrotremor: Mendengar Getaran Halus dari Perut Bumi
Untuk mengungkap kondisi bawah permukaan, tim menggunakan metode Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR) berbasis mikrotremor, yaitu teknik geofisika pasif yang memanfaatkan getaran alami tanah. Secara sederhana, metode ini bekerja seperti “mendengarkan” getaran halus bumi melalui sensor seismik tiga komponen, kemudian menganalisis sinyal yang terekam untuk memperkirakan susunan lapisan batuan tanpa perlu melakukan penggalian.
Melalui pengolahan data, tim memperkirakan kecepatan gelombang seismik dan rasio Poisson yang mencerminkan karakteristik fisik batuan. Perbedaan parameter tersebut dapat membantu mengenali lapisan yang berpotensi menyimpan air, termasuk zona pelapukan dan batuan berpori.
Sebelum pengukuran, tim melakukan survei geologi dan menentukan titik pengamatan berdasarkan kondisi lapangan. Data mikrotremor yang diperoleh selanjutnya diolah dan diinterpretasikan di Laboratorium Geofisika Undip untuk menghasilkan gambaran struktur bawah permukaan.
Tiga Zona Prospek Akuifer Teridentifikasi pada Kedalaman 30–85 Meter

Hasil pengukuran menunjukkan temuan yang menjanjikan. Tim berhasil mengidentifikasi tiga zona yang berpotensi menjadi akuifer, yaitu lapisan batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air tanah. Zona tersebut berada pada kedalaman sekitar 30 hingga 85 meter dan berasosiasi dengan lapisan yang ditafsirkan sebagai batupasir.
Dua zona prospek ditemukan pada kedalaman sekitar 36 meter dan 45 meter, sedangkan zona lainnya berada pada interval kedalaman sekitar 30–85 meter. Berdasarkan pemodelan bawah permukaan, zona-zona tersebut diperkirakan berada pada elevasi 1.550–1.650 meter di atas permukaan laut.
Tim juga menemukan variasi kemiringan lapisan batuan yang berpotensi memengaruhi jalur aliran air tanah. Hasil ini memberikan gambaran awal mengenai lokasi yang layak diprioritaskan untuk penyelidikan lebih lanjut sebelum dilakukan pengeboran.
Meski demikian, tim menegaskan bahwa temuan tersebut masih berupa zona prospek akuifer, bukan sumber air tanah yang telah terbukti produktif. Pengujian tambahan diperlukan untuk memastikan keberadaan air, karakteristik lapisan batuan, serta potensi pemanfaatannya secara berkelanjutan.
Kalau memang ada sumber air di bawah sini, tentu ini menjadi harapan besar bagi kami. Selama musim kemarau, air untuk mengairi tanaman sering menjadi kendala. Kami berharap hasil penelitian ini nantinya bisa membantu petani mendapatkan pasokan air yang lebih terjamin,” tutur salah seorang petani Desa Canggal.
Diversifikasi Pertanian dan Dukungan SDGs 2 & 6
Kajian potensi air tanah di Desa Canggal sejalan dengan dua tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) yang mendukung ketahanan pangan dan produktivitas pertanian, serta SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) yang mendorong ketersediaan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
Informasi mengenai potensi air tanah diharapkan dapat menjadi dasar bagi masyarakat dan pemerintah desa dalam merencanakan penyediaan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun irigasi pertanian. Apabila sumber air yang layak dimanfaatkan dapat dikembangkan, petani berpeluang memperluas pilihan komoditas dari tembakau menuju tanaman hortikultura yang membutuhkan pengairan lebih teratur.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa ilmu geofisika tidak hanya berperan dalam penelitian kebumian, tetapi juga dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya terkait ketahanan air dan keberlanjutan pertanian.
Langkah Selanjutnya
Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan survei geolistrik resistivitas dua dimensi pada tiga zona prospek yang telah teridentifikasi. Hasilnya perlu dipadukan dengan data sumur eksisting atau pengeboran verifikasi untuk memastikan kedalaman akuifer, ketebalan lapisan jenuh air, dan kualitas air sebelum dilakukan pengembangan sumber air.
Melalui kegiatan ini, Tim Geofisika FSM Undip berharap hasil kajian dapat menjadi pijakan awal bagi pengelolaan air tanah yang lebih terencana dan berbasis data. Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, dan pemerintah desa diharapkan dapat membuka peluang penyediaan air yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di lereng Gunung Sindoro.









