Mataram, radarbaru.com – Generasi Z tumbuh bersama internet, dompet digital, QRIS, aplikasi investasi, dan beragam layanan keuangan yang dapat diakses dalam hitungan detik. Kemudahan tersebut memberi banyak manfaat, tetapi juga memunculkan tantangan baru: keputusan finansial dapat dibuat terlalu cepat sebelum biaya, risiko, dan legalitas benar-benar dipahami. Kondisi ini mendorong tim pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram menggelar penguatan literasi keuangan digital bagi Generasi Z di Kota Mataram.

Pendampingan yang dilaksanakan pada 2 September 2026 diikuti 27 peserta. Kegiatan dirancang untuk membantu anak muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga menjadi konsumen jasa keuangan yang kritis. Materi mencakup pengelolaan keuangan pribadi, penyusunan anggaran, manfaat dan risiko fintech, legalitas layanan, keamanan data, paylater, investasi digital, serta pertimbangan biaya sebelum mengambil keputusan keuangan.

Kesenjangan antara akses dan pemahaman menjadi perhatian utama. Dalam materi pengabdian disebutkan bahwa indeks inklusi keuangan lebih tinggi dibandingkan indeks literasi keuangan. Survei awal terhadap 100 responden juga memperlihatkan 78 persen telah mengenal dan menggunakan aplikasi fintech, tetapi hanya 34 persen yang memahami fitur, risiko, biaya tersembunyi, dan perlindungan data dengan baik. Sebanyak 62 persen mengaku tidak membaca syarat dan ketentuan secara lengkap sebelum menggunakan layanan digital.

Pelatihan karena itu tidak berhenti pada pesan ‘hindari pinjol’. Peserta diajak memahami bahwa fintech adalah alat yang bisa produktif bila digunakan secara tepat. Dompet digital dapat memudahkan pembayaran, aplikasi pencatatan dapat membantu mengendalikan pengeluaran, sementara investasi digital dapat menjadi bagian dari perencanaan masa depan jika produk legal, risikonya dipahami, dan keputusan tidak didorong semata-mata oleh tren atau FOMO.

Hasil evaluasi menunjukkan pemahaman peserta meningkat. Rata-rata skor sebelum penyampaian materi berada pada 4,10, dengan 19 persen peserta pada kategori sedang dan 81 persen pada kategori tinggi. Setelah kegiatan, skor rata-rata meningkat menjadi 4,80 dan seluruh peserta atau 100 persen berada pada kategori pemahaman tinggi. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peserta yang sudah akrab dengan teknologi tetap memperoleh manfaat dari edukasi yang menekankan cara berpikir sebelum bertransaksi.

Salah satu pesan kunci dalam kegiatan adalah bahwa uang digital tetaplah uang nyata. Saldo yang terlihat sebagai angka di layar tetap mewakili sumber daya yang terbatas dan harus diarahkan pada kebutuhan, tabungan, tujuan masa depan, serta ruang untuk menikmati hidup secara wajar. Kesadaran ini penting karena desain transaksi digital sering membuat proses pembayaran terasa sangat mudah dan cepat.

Aspek keamanan digital juga mendapat perhatian. Peserta diingatkan untuk menjaga OTP, PIN, kata sandi, serta berhati-hati terhadap tautan dan izin aplikasi. Mereka juga didorong mengecek legalitas penyedia layanan dan membaca biaya serta ketentuan sebelum menekan tombol persetujuan. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini dapat mengurangi risiko kerugian finansial dan penyalahgunaan data pribadi.

Program ini menunjukkan bahwa literasi keuangan digital bukan hanya kemampuan memakai aplikasi, tetapi kemampuan mengendalikan keputusan di balik aplikasi. Generasi muda yang cakap finansial bukan mereka yang paling cepat mengikuti produk baru, melainkan mereka yang mampu bertanya: apakah saya membutuhkan ini, berapa biayanya, apa risikonya, apakah penyedianya legal, dan apakah keputusan ini mendukung tujuan keuangan saya? Dari pertanyaan sederhana itulah kebiasaan finansial yang sehat dapat dibangun.