Surabaya, radarbaru.com — Mahasiswa kelas Bisnis Digital, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteran” Jawa Timur, mengikuti pembelajaran berbasis framework untuk melatih kemampuan menganalisis dan mengembangkan ide bisnis secara lebih terstruktur. Kegiatan pembelajaran ini dipandu oleh Eka Putri Wulandari, S.E., M.B.A., dengan memanfaatkan EDIFY Framework dan 4M Framework sebagai alat bantu analisis.

Pendekatan ini diterapkan agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep bisnis digital secara teoritis, tetapi juga mampu menggunakan konsep tersebut untuk melihat permasalahan, menemukan peluang, menyusun alternatif solusi, serta menilai kelayakan sebuah ide dari berbagai aspek bisnis.

Pada tahap awal, mahasiswa menggunakan EDIFY Framework untuk memahami proses pengembangan ide yang berangkat dari kebutuhan pengguna. Framework ini mengarahkan mahasiswa melalui tiga tahapan utama, yaitu Empathize, Define, dan Ideate.

Dalam tahap Empathize, mahasiswa memulai proses dengan mengenali target pengguna secara lebih mendalam. Mahasiswa mengidentifikasi siapa pengguna yang ingin dipahami, pengalaman yang mereka alami, kesulitan atau pain point yang dihadapi, hingga kebutuhan yang mungkin belum terpenuhi.

Tahapan tersebut penting karena mahasiswa didorong untuk tidak terburu-buru menawarkan produk. Sebelum memikirkan solusi, mereka terlebih dahulu perlu memahami kondisi pengguna dan persoalan yang benar-benar terjadi.

Hasil pengamatan kemudian dikembangkan pada tahap Define. Mahasiswa mengelompokkan berbagai temuan untuk melihat pola permasalahan yang sering muncul. Dari proses tersebut, mahasiswa menentukan satu masalah utama yang dianggap penting untuk diselesaikan dan merumuskannya menjadi pertanyaan “How Might We”.

Pertanyaan tersebut menjadi jembatan menuju proses penciptaan solusi. Pada tahap Ideate, mahasiswa ditantang untuk menghasilkan beberapa kemungkinan ide, bukan langsung terpaku pada satu pilihan. Berbagai alternatif kemudian dibandingkan berdasarkan sejumlah pertimbangan, antara lain kesesuaian dengan permasalahan pengguna, manfaat yang ditawarkan, nilai digital, peluang pengembangan, dan daya tarik ide.

Melalui proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa menghasilkan banyak ide dan memilih ide terbaik merupakan dua aktivitas yang berbeda. Ide terpilih kemudian dirumuskan secara lebih jelas dengan menghubungkan nama produk, target pengguna, masalah utama, solusi yang ditawarkan, dan manfaat yang akan diterima pengguna.

Setelah memperoleh ide yang dianggap potensial, proses pembelajaran dilanjutkan dengan 4M Framework. Framework ini membantu mahasiswa melihat apakah ide yang telah dirancang dapat dijalankan sebagai suatu bisnis melalui empat perspektif, yaitu Marketing, Manpower, Method, dan Money.

Pada bagian Marketing, mahasiswa menganalisis bagaimana produk dapat memperoleh dan mempertahankan pengguna. Analisis dilakukan dengan menentukan target pengguna, nilai produk, saluran atau media yang dapat digunakan untuk menjangkau konsumen, strategi promosi, serta cara membangun retensi pengguna.

Sementara itu, aspek Manpower digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan sumber daya manusia. Mahasiswa menentukan peran yang diperlukan dalam menjalankan bisnis, tugas utama setiap peran, serta kompetensi yang perlu dimiliki.

Pada aspek Method, mahasiswa memetakan bagaimana produk atau layanan akan dijalankan melalui pendekatan input, process, dan output. Dengan cara ini, mahasiswa dapat melihat kebutuhan sumber daya, aktivitas utama yang harus dilakukan, serta hasil yang nantinya diterima oleh pengguna.

Analisis kemudian dilengkapi dengan aspek Money. Mahasiswa memikirkan sumber pendapatan, model pembayaran, biaya awal yang perlu disiapkan, biaya operasional, hingga potensi keuntungan dari ide bisnis yang dikembangkan.

Penggunaan kedua framework tersebut membuat aktivitas belajar tidak berhenti pada kegiatan membaca, mendengarkan penjelasan, maupun menghafalkan istilah. Mahasiswa secara langsung menggunakan teori untuk menyusun argumentasi dan mengambil keputusan.

Setiap bagian dalam framework mendorong mahasiswa untuk menjawab pertanyaan yang berbeda. Mengapa pengguna membutuhkan solusi tersebut? Masalah apa yang paling penting untuk diselesaikan? Mengapa satu ide lebih layak dibandingkan ide lainnya? Siapa yang akan menjalankannya? Bagaimana proses bisnis dilakukan? Hingga bagaimana bisnis tersebut dapat menghasilkan pendapatan.

Dengan demikian, teori di dalam kelas berubah fungsi menjadi alat berpikir dan alat analisis.

Pembelajaran berbasis framework juga membantu mahasiswa melihat bahwa ide bisnis tidak cukup hanya unik atau menarik. Sebuah ide perlu memiliki hubungan yang jelas dengan kebutuhan pengguna dan perlu dianalisis dari sisi pemasaran, sumber daya manusia, operasional, serta finansial.

Melalui aktivitas ini, mahasiswa diharapkan terbiasa dengan proses pembelajaran yang lebih aktif, terstruktur, dan kontekstual. Selain memahami materi Bisnis Digital, mahasiswa juga memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja secara kolaboratif, serta mengomunikasikan alasan di balik sebuah keputusan bisnis.

Penerapan EDIFY Framework dan 4M Framework menjadi salah satu upaya menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan teori dengan praktik. Dengan pembelajaran semacam ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa yang dipelajari, tetapi juga mampu memahami bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut untuk menganalisis dan mengembangkan sebuah ide bisnis.

* Ditulis Oleh: Eka Putri Wulandari, S.E., M.B.A.