Mataram, radarbaru.com – Upaya membangun ketahanan ekonomi keluarga perlu dimulai dari kebiasaan sederhana: mengetahui ke mana uang dibelanjakan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan pendapatan untuk tabungan dan dana darurat. Prinsip tersebut menjadi inti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim Universitas Mataram di Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan bertajuk Sosialisasi Kecerdasan Finansial untuk Meningkatkan Literasi Keuangan itu berlangsung di Aula Kantor Desa Kotaraja pada 4 April 2026. Sebanyak 30 anggota PKK dan Dasa Wisma mengikuti sosialisasi, diskusi, latihan pencatatan keuangan, serta evaluasi pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan.
Program tersebut dilaksanakan oleh Siti Aisyah Hidayati, Sri Wahyulina, Embun Suryani, G.A. Sri Oktaryani, dan Putri Adinda. Tim melihat bahwa aktivitas ekonomi masyarakat Kotaraja yang bertumpu pada pertanian, perdagangan kecil, dan usaha mikro rumah tangga perlu didukung kemampuan mengelola keuangan secara lebih terencana.
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga dengan pendapatan tidak tetap menghadapi tantangan tersendiri. Pendapatan yang datang pada waktu tertentu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan rutin, biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan mendesak. Tanpa pencatatan dan perencanaan, pengeluaran kecil yang berulang dapat mengurangi kemampuan keluarga untuk menabung dan menyiapkan dana darurat.
Karena itu, peserta tidak hanya menerima penjelasan mengenai konsep keuangan. Mereka diajak menyusun anggaran rumah tangga sederhana, mencatat pemasukan dan pengeluaran, menentukan prioritas, serta membedakan kebutuhan dari keinginan. Peserta juga mempelajari cara mengelola utang secara sehat, membangun kebiasaan menabung, menyiapkan dana darurat, mengenali investasi sederhana, dan memahami manfaat asuransi.
Perhatian khusus diberikan pada penggunaan layanan keuangan digital. Masyarakat diperkenalkan pada aplikasi pencatatan keuangan sederhana, mobile banking, internet banking, dan dompet digital. Materi ini dilengkapi edukasi mengenai perlindungan data pribadi, keamanan transaksi nontunai, serta cara mengenali lembaga keuangan yang resmi dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan.
Edukasi tersebut semakin relevan ketika masyarakat memperoleh akses yang luas terhadap tawaran pinjaman dan investasi melalui telepon seluler. Kemudahan akses harus disertai kemampuan memeriksa legalitas, memahami biaya dan risiko, serta menjaga informasi pribadi. Dengan bekal itu, masyarakat diharapkan lebih waspada terhadap pinjaman online ilegal, investasi bodong, dan berbagai bentuk penipuan digital.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Topik yang banyak dibahas antara lain cara mengatur pendapatan keluarga, mengendalikan pengeluaran, menyiapkan dana untuk kebutuhan mendadak, dan memilih layanan keuangan formal maupun digital yang aman. Diskusi berbasis persoalan sehari-hari membuat materi lebih mudah dikaitkan dengan kondisi nyata rumah tangga peserta.
Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang positif. Instrumen evaluasi terdiri atas 13 pertanyaan mengenai konsep dasar literasi keuangan, pengelolaan keuangan keluarga, tabungan, dana darurat, utang, dan layanan keuangan formal. Nilai rata-rata peserta meningkat dari 9,73 pada pre-test menjadi 12,73 pada post-test. Kenaikan tiga poin tersebut setara dengan 30,83 persen dari nilai awal.
Peningkatan pemahaman terutama terlihat pada penyusunan anggaran keluarga, pentingnya tabungan dan dana darurat, pengelolaan utang yang sehat, pemanfaatan produk keuangan formal, kewaspadaan terhadap pinjaman online ilegal dan investasi bodong, serta penggunaan layanan keuangan digital secara aman. Capaian ini melampaui target program yang menetapkan peningkatan pemahaman sekurang-kurangnya 20 persen.
Keberhasilan kegiatan juga ditopang partisipasi PKK dan Dasa Wisma Desa Kotaraja. Mitra membantu koordinasi, penyediaan tempat, dan mobilisasi peserta. Kolaborasi tersebut penting karena perubahan perilaku keuangan tidak selesai dalam satu kali sosialisasi. Pengetahuan perlu dipraktikkan secara konsisten dan diperkuat melalui lingkungan keluarga serta kelompok masyarakat.
Tim merekomendasikan pendampingan lanjutan agar pencatatan pemasukan dan pengeluaran, penyusunan anggaran, serta pembentukan dana darurat berkembang menjadi kebiasaan. Pemerintah desa bersama PKK dan Dasa Wisma juga diharapkan dapat memperluas penyebaran informasi mengenai layanan keuangan yang aman kepada masyarakat.
Kecerdasan finansial bukan sekadar kemampuan mencari pendapatan. Kecerdasan finansial tercermin pada kemampuan keluarga mengalokasikan sumber daya secara bijak, mengendalikan risiko, dan merencanakan masa depan. Ketika kebiasaan itu tumbuh dari rumah tangga, ketahanan ekonomi masyarakat desa pun memiliki fondasi yang lebih kuat.
Oleh: Siti Aisyah Hidayati, Sri Wahyulina, Embun Suryani, G.A. Sri Oktaryani, Putri Adinda







