Semarang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh Aqsa Aufa Syauqi Sadana yang resmi menyelesaikan pendidikan Magister Ilmu Biomedik di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro pada usia 22 tahun. Dalam prosesi wisuda yang diselenggarakan di Muladi Dome Universitas Diponegoro, Aqsa lulus dengan predikat Cum Laude dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00.
Pendidikan magister tersebut ditempuh melalui skema Degree by Research (DBR) bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan berhasil diselesaikan dalam waktu 1 tahun 4 bulan 1 hari. Selama menjalani studi, Aqsa memfokuskan penelitian pada bidang biomedik, khususnya genetika, toksikologi lingkungan, serta kesehatan ibu dan anak.
Aqsa sendiri berhasil lulus setelah melakukan penelitian yang mengkaji keterkaitan antara variasi genetik GSTP1, paparan merkuri selama kehamilan, serta dampaknya terhadap komplikasi obstetri dan luaran kelahiran sebagai bagian dari upaya memperkuat bukti ilmiah dalam kesehatan maternal.
Bagi Aqsa, menyelesaikan pendidikan magister di usia muda bukanlah tujuan akhir, melainkan awal untuk terus berkontribusi melalui penelitian yang berdampak bagi masyarakat.
“Saya percaya bahwa pendidikan adalah fondasi, sedangkan riset adalah cara untuk menghadirkan solusi. Saya berharap dapat terus mengembangkan penelitian yang memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan ibu, genetika, dan kesehatan lingkungan.”
Ke depan, Aqsa berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan riset di bidang biomedik serta memperkuat kolaborasi dengan berbagai institusi nasional maupun internasional dalam menghasilkan inovasi berbasis bukti ilmiah. Dengan semangat tersebut, ia berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
Kelulusan pada usia 22 tahun ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya sekaligus menjadi motivasi bahwa usia bukanlah batas untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan kontribusi bagi bangsa melalui ilmu pengetahuan.
Ia menambahkan bahwa tantangan kesehatan di masa depan memerlukan kolaborasi lintas disiplin ilmu. Oleh karena itu, pengembangan riset biomedik harus terus didorong agar mampu menghasilkan inovasi diagnostik, strategi pencegahan penyakit, hingga kebijakan kesehatan yang berbasis bukti ilmiah.
Ke depan, Aqsa berkomitmen untuk terus memperdalam penelitian di bidang genetika, toksikologi lingkungan, biomarker molekuler, serta kesehatan ibu dan anak. Fokus tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan yang lebih presisi, efektif, dan sesuai dengan karakteristik populasi Indonesia.
Bagi Aqsa, keberhasilan yang diraih saat ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari keluarga, para dosen pembimbing, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, BRIN, rekan-rekan peneliti, hingga seluruh pihak yang telah memberikan kesempatan untuk terus berkembang.




