Jakarta — Harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mengalami penyesuaian mulai 1 Oktober 2026. Perubahan harga dilakukan seiring meningkatnya harga minyak mentah dunia dan pergerakan Indonesian Crude Price (ICP).
PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga beberapa produk BBM nonsubsidi, sementara harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan.
Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, serta sejumlah wilayah Nusa Tenggara, harga Pertamax masih berada di level Rp15.950 per liter.
Sementara itu, Pertamax Green 95 juga tidak mengalami perubahan dan tetap dijual Rp19.150 per liter.
Kenaikan terjadi pada Pertamax Turbo yang kini dibanderol Rp20.600 per liter, naik Rp1.000 dari harga sebelumnya. Dexlite juga mengalami kenaikan Rp1.100 menjadi Rp24.800 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik Rp300 menjadi Rp25.500 per liter.
Berikut daftar harga BBM Pertamina per 1 Oktober 2026:
| Jenis BBM | RON/Kategori | Harga per Liter | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Pertalite | RON 90 | Rp10.000 | Tetap |
| Biosolar | Solar subsidi | Rp6.800 | Tetap |
| Pertamax | RON 92 | Rp15.950 | Tetap |
| Pertamax Green 95 | RON 95 | Rp19.150 | Tetap |
| Pertamax Turbo | RON 98 | Rp20.600 | Naik Rp1.000 |
| Dexlite | Diesel | Rp24.800 | Naik Rp1.100 |
| Pertamina Dex | Diesel | Rp25.500 | Naik Rp300 |
Perbedaan harga di sejumlah daerah tetap dimungkinkan karena adanya faktor seperti Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) dan biaya distribusi.
Harga BBM Swasta Masih Stabil
Penyesuaian harga juga menjadi perhatian bagi konsumen yang menggunakan BBM dari SPBU swasta. Namun, per 1 Oktober 2026, harga sejumlah produk BBM swasta di wilayah Jabodetabek masih tercatat stabil dibandingkan akhir September.
BP 92 dibanderol Rp16.130 per liter, sedangkan BP Ultimate berada di level Rp19.330 per liter. Untuk produk diesel, BP Ultimate Diesel dijual Rp25.420 per liter.
Harga serupa juga tercatat pada sejumlah produk Vivo. Revvo 92 berada di angka Rp16.130 per liter, Revvo 95 Rp19.330 per liter, dan Vivo Primus Plus Diesel Rp25.420 per liter.
Sementara itu, Shell V-Power Diesel tercatat Rp25.420 per liter.
Ketersediaan produk tetap dapat berbeda di setiap SPBU. Karena itu, konsumen disarankan mengecek harga dan jenis BBM yang tersedia sebelum melakukan pengisian.
Harga Minyak Dunia Jadi Salah Satu Faktor
Kenaikan sejumlah BBM nonsubsidi tidak terlepas dari tekanan harga minyak dunia. Harga minyak mentah menjadi salah satu komponen yang memengaruhi biaya pengadaan BBM.
Harga Brent bahkan sempat mencapai US$107,86 per barel pada akhir September 2026 sebelum kembali mengalami koreksi.
Di dalam negeri, ICP Indonesia juga mengalami kenaikan. Rata-rata ICP pada Agustus 2026 tercatat US$89,43 per barel, meningkat US$7,75 per barel dibandingkan Juli yang berada di level US$81,68 per barel.
Kondisi tersebut membuat biaya perolehan BBM nonsubsidi mengalami tekanan sehingga penyesuaian harga menjadi salah satu langkah yang ditempuh.
Harga BBM Indonesia Dibandingkan Negara Asia
Jika dibandingkan dengan sejumlah negara Asia, harga BBM di Indonesia masih relatif kompetitif, terutama untuk produk yang mendapatkan subsidi.
Pertalite dengan harga Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter membuat harga BBM bersubsidi di Indonesia berada jauh di bawah harga BBM di sejumlah negara tetangga.
Untuk BBM RON 95, Pertamax Green 95 yang dijual Rp19.150 per liter juga masih berada di bawah sejumlah harga BBM setara di Malaysia, Thailand, Filipina, India, Jepang, dan Singapura.
Di Malaysia, misalnya, harga BBM RON 97 berada di sekitar Rp20.600 per liter. Sementara Singapura memiliki harga BBM yang jauh lebih tinggi karena struktur pajak dan kebijakan pasar yang berbeda.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga BBM di setiap negara tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak dunia, tetapi juga kebijakan subsidi, pajak, biaya distribusi, serta kondisi pasar masing-masing.
Cara Menghemat BBM Saat Harga Berubah
Kenaikan harga BBM membuat efisiensi penggunaan bahan bakar menjadi semakin penting. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memilih jenis BBM sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan.
Penggunaan BBM dengan oktan lebih tinggi dari kebutuhan mesin tidak selalu memberikan manfaat yang sebanding dengan biaya tambahan.
Perawatan kendaraan secara rutin juga berpengaruh terhadap konsumsi bahan bakar. Kondisi ban, sistem injeksi, filter udara, dan mesin yang terawat dapat membantu kendaraan bekerja lebih efisien.
Pengemudi juga dapat menerapkan gaya berkendara yang lebih hemat dengan menghindari akselerasi dan pengereman secara berlebihan serta memilih rute perjalanan yang lebih efisien.
Menggabungkan beberapa keperluan dalam satu perjalanan juga dapat mengurangi frekuensi penggunaan kendaraan dan konsumsi BBM.
Dengan harga BBM yang dapat berubah mengikuti kondisi pasar, masyarakat perlu memperhatikan pengumuman resmi dari Pertamina Patra Niaga maupun pengelola SPBU lainnya untuk mendapatkan informasi harga terbaru.








