Pangandaran, radarbaru.com – Dalam upaya mengentaskan permasalahan limbah plastik sekaligus mengakselerasi pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), Kelompok 201 KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) merancang program pengabdian masyarakat berbasis pengelolaan sampah terpadu di Desa Selasari. Melalui pemanfaatan inovasi ecobrick, program ini mengombinasikan edukasi interaktif, pelatihan teknis pemadatan limbah, hingga pemanfaatan produk akhir guna mendukung estetika lanskap dan potensi pariwisata lokal.

Kebiasaan pembakaran sampah secara terbuka yang kerap terjadi di lingkungan masyarakat menjadi perhatian khusus karena melepaskan emisi gas beracun serta melanggar regulasi Pasal 29 UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menjawab tantangan tersebut, ecobrick hadir sebagai alternatif ramah lingkungan dengan mengubah limbah plastik non-organik menjadi blok bangunan kokoh yang dapat dimanfaatkan secara berulang.

Rangkaian program diawali dengan pengumpulan dan pemilahan bahan baku sampah plastik fleksibel yang dihimpun secara kolektif dari seluruh dusun di Desa Selasari, dengan pasokan utama didukung oleh Bank Sampah Saling Peduli dan partisipasi aktif warga Dusun Pepedan. Sampah yang berhasil terkumpul kemudian dibersihkan, dikeringkan, dan dicacah agar siap diolah pada tahap berikutnya.

​Setelah bahan baku siap, kegiatan dilanjutkan pada 12 Agustus 2026 melalui workshop dan sesi sosialisasi di Balai Dusun Cikadu. Menggandeng Kepala Bank Sampah Saling Peduli yang juga menjabat sebagai Ketua Pokdarwis dan Kepala Dusun Cikadu, Aris Kusmawan, sebagai narasumber utama, warga dibekali pemahaman mengenai pemilahan sampah berbasis rumah tangga serta praktik langsung pembuatan ecobrick. Sesi ini berfokus pada pemenuhan target SDGs Nomor 12 (Konsumsi dan Produksi Desa Sadar Lingkungan). Warga bersama tim KKN memadatkan potongan sampah plastik tersebut ke dalam botol bekas hingga mencapai standar ketahanan struktur minimum 330 gram per botol ukuran 600 ml.

Pelaksanaan workshop ecobrick di Dusun Cikadu. (Foto: Dok. Kelompok 201 KKN UNS)
Pelaksanaan workshop ecobrick di Dusun Cikadu. (Foto: Dok. Kelompok 201 KKN UNS)

Puncak kegiatan ditandai pada 21 Agustus 2026 melalui peletakan dan pemanfaatan rangkaian ecobrick di area terintegrasi Balai Dusun Pepedan. Hasil olahan limbah tersebut kini difungsikan sebagai elemen estetika ruang terbuka yang ramah bagi warga maupun wisatawan.

Kepala Dusun Cikadu sekaligus Ketua Pokdarwis dan Bank Sampah Saling Peduli, Aris Kusmawan, menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif mahasiswa KKN UNS. “Program ecobrick ini sangat bermanfaat dan memberikan solusi nyata bagi Desa Selasari. Selain efektif mengurangi penumpukan sampah plastik yang mencemari lingkungan, kegiatan ini juga membuka wawasan warga bahwa limbah yang tadinya tidak bernilai bisa diubah menjadi sarana yang estetis dan berdaya guna untuk mendukung kawasan wisata desa kami,” ujar Aris Kusmawan.

Sinergi antara Kelompok 201 KKN UNS, Bank Sampah Saling Peduli, Pokdarwis, dan seluruh lapisan warga Desa Selasari ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif berbasis komunitas mampu menguraikan permasalahan lingkungan secara mandiri dan bernilai guna.