Mataram, radarbaru.com – Guru terbiasa mengajarkan siswa agar mampu mengambil keputusan dengan pengetahuan yang cukup. Prinsip yang sama kini semakin penting diterapkan dalam kehidupan finansial mereka sendiri. Di tengah maraknya dompet digital, paylater, investasi daring, dan pinjaman online, kemampuan membedakan layanan legal, menghitung biaya, serta menjaga data pribadi menjadi bagian baru dari kecakapan hidup. Atas dasar itu, tim pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram menggelar penguatan literasi keuangan berbasis fintech bagi guru SMK Negeri 2 Mataram.

Kegiatan dilaksanakan pada 12 September 2026 dan diikuti 30 guru. Materi dirancang bukan untuk membuat peserta takut menggunakan teknologi keuangan, melainkan agar lebih kritis, selektif, dan bertanggung jawab. Guru diajak memahami perencanaan keuangan pribadi, pencatatan arus kas, legalitas platform fintech, biaya dan risiko pinjaman digital, keamanan data, serta cara memanfaatkan teknologi untuk tujuan keuangan yang lebih sehat.

Survei awal memperlihatkan mengapa materi tersebut penting. Dari 30 guru yang dipetakan, 78 persen telah menggunakan dompet digital, tetapi hanya 22 persen yang mampu membedakan fintech berizin dengan layanan yang tidak berizin. Sebanyak 65 persen belum memahami cara menghitung bunga efektif pinjaman online, sedangkan 30 persen mengaku pernah tertarik pada iklan pinjaman dengan slogan ‘tanpa ribet’. Artinya, tingkat penggunaan teknologi sudah tinggi, tetapi kemampuan mengevaluasi risiko belum selalu mengikuti.

Pelatihan kemudian menggunakan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian peserta. Alih-alih berhenti pada definisi, guru diajak melihat ulang tawaran pinjaman, biaya, bunga, denda, tujuan penggunaan dana, dan kemampuan membayar. Peserta juga membahas keamanan akun, perlindungan data pribadi, serta pentingnya memeriksa legalitas layanan sebelum memberikan informasi atau menyetujui transaksi.

Dampak kegiatan terlihat pada hasil evaluasi. Rata-rata skor pemahaman meningkat dari 3,138 menjadi 4,008. Sebelum pelatihan, 10 persen peserta masih berada pada kategori rendah, 73 persen kategori sedang, dan 17 persen pada kategori tinggi. Setelah pelatihan, kategori rendah menjadi nol, kategori sedang turun menjadi 33 persen, dan kategori tinggi meningkat menjadi 67 persen. Pergeseran ini menunjukkan bahwa materi yang kontekstual dan praktik yang relevan dapat memperkuat kemampuan peserta dalam menilai layanan keuangan digital.

Literasi keuangan bagi guru memiliki efek yang lebih luas daripada manfaat personal. Guru yang memahami cara menyusun anggaran, memilih fintech legal, mengelola risiko, dan melindungi data pribadi dapat membawa pengetahuan tersebut ke ruang keluarga, rekan kerja, dan terutama siswa. Di sekolah vokasi, kemampuan finansial semacam ini semakin relevan karena siswa akan berhadapan dengan dunia kerja, kewirausahaan, dan transaksi digital setelah lulus.

Tim pengabdian juga mendorong terbentuknya budaya belajar berkelanjutan melalui diskusi dan pendampingan. Pendekatan ini penting karena teknologi keuangan terus berubah. Platform, modus penipuan, dan pola promosi dapat berganti, sementara prinsip dasarnya tetap sama: pahami produk, cek legalitas, hitung biaya, ukur kemampuan, dan jaga data pribadi.

Pada akhirnya, kecakapan menggunakan fintech tidak diukur dari seberapa banyak aplikasi yang dipasang di ponsel. Ukurannya adalah seberapa baik seseorang mampu menggunakan teknologi untuk mencapai tujuan finansial tanpa mengabaikan risiko. Ketika guru memiliki kecakapan tersebut, sekolah memperoleh satu lapisan perlindungan baru sekaligus sumber edukasi finansial yang dapat ditularkan kepada generasi berikutnya.