Mataram, radarbaru.com – Bagi banyak pedagang pasar, uang usaha bergerak cepat dari pagi hingga petang, tetapi catatannya belum tentu ikut bergerak. Pemasukan, belanja stok, biaya listrik, utang-piutang, hingga pengambilan uang untuk kebutuhan rumah tangga sering bercampur dalam satu alur. Akibatnya, usaha terlihat ramai, tetapi pemilik belum tentu mengetahui berapa laba yang benar-benar diperoleh. Persoalan inilah yang menjadi pintu masuk tim pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram saat mendampingi pedagang Pasar Perumnas Kota Mataram menggunakan aplikasi BukuWarung.

Kegiatan pada 27 Agustus 2026 tersebut diikuti oleh 10 pemilik toko, kios, warung, dan pedagang emperan. Peserta tidak hanya dikenalkan pada aplikasi, tetapi juga diajak memahami mengapa pencatatan keuangan penting bagi kelangsungan usaha. Melalui telepon pintar yang sudah akrab digunakan sehari-hari, peserta berlatih mencatat penerimaan dan pengeluaran, mengelompokkan transaksi, memantau utang-piutang, serta membaca laporan keuangan sederhana.

Pendampingan menjadi relevan karena observasi awal menunjukkan lebih dari 90 persen mitra belum memiliki laporan keuangan tertulis. Sebagian pedagang hanya mencatat pemasukan dan pengeluaran di buku tulis tanpa klasifikasi akun. Pada saat yang sama, keuangan usaha masih sering bercampur dengan keuangan pribadi. Kondisi ini membuat data usaha sulit digunakan untuk mengevaluasi laba-rugi, arus kas, maupun kebutuhan pembiayaan.

Tim pengabdian kemudian menggunakan pendekatan yang sederhana: survei kebutuhan, pre-test, penjelasan materi, praktik langsung, post-test, dan konsultasi lanjutan secara offline maupun online. Peserta dilatih membangun kebiasaan yang sebenarnya sangat mendasar, yaitu setiap uang masuk dan uang keluar harus meninggalkan jejak pencatatan. Dari jejak inilah pedagang dapat melihat kondisi usahanya dengan lebih objektif.

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang nyata. Rata-rata skor pemahaman penggunaan BukuWarung meningkat dari 2,41 menjadi 3,51. Sebelum pelatihan, 40 persen peserta berada pada kategori pemahaman rendah dan 60 persen pada kategori sedang. Setelah pendampingan, kategori rendah turun menjadi nol, sementara 80 persen berada pada kategori sedang dan 20 persen sudah masuk kategori tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan singkat yang disertai praktik dapat membantu pelaku usaha yang sebelumnya belum terbiasa menggunakan aplikasi akuntansi.

Bagi UMKM, digitalisasi pembukuan bukan sekadar memindahkan catatan dari buku ke layar ponsel. Pencatatan yang konsisten membantu pemilik usaha mengetahui apakah penjualan benar-benar menghasilkan keuntungan, kapan biaya mulai membesar, berapa arus kas yang tersedia, dan apakah usaha memiliki kemampuan untuk menambah stok atau mengakses pembiayaan. Data yang rapi juga membuat percakapan dengan bank atau lembaga keuangan menjadi lebih berbasis bukti.

Tim juga menyiapkan buku saku kas harian agar peserta memiliki panduan praktis untuk mencatat penerimaan, pengeluaran, kategori transaksi, dan memeriksa laporan keuangan otomatis. Pendampingan lanjutan melalui WhatsApp dan email disiapkan bagi peserta yang masih mengalami kesulitan. Dengan pola ini, kegiatan tidak berhenti pada pelatihan satu hari, tetapi diarahkan menjadi kebiasaan kerja yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Transformasi digital UMKM tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Untuk pedagang pasar, perubahan bisa dimulai dari tindakan sederhana: memisahkan uang usaha dari uang pribadi, mencatat transaksi setiap hari, dan menggunakan data tersebut untuk mengambil keputusan. Ketika pembukuan menjadi kebiasaan, ponsel tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi dan transaksi, tetapi juga dapat berubah menjadi alat kendali usaha.