Pasuruan, radarbaru.com — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPN Jatim) bersama mitra industri dan Kelompok Tani Madulegi menerapkan teknologi pertanian berkelanjutan di Dusun Ngadilegi Lor, Desa Plintahan, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan yang didanai melalui Hibah Internal LPPM UPN Jatim Skema IMRIS No. SPP/53/UN.63.8/PM/IV/2026 ini bertujuan memperkuat kolaborasi kampus, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengoptimalkan sumber daya lokal.

Program pengabdian ini berfokus pada pemanfaatan bahan organik lokal untuk meningkatkan kesuburan tanah melalui inovasi raised-bed hugelkultur serta pengomposan berbahan kotoran kambing dan rumput. Berlangsung di Balai Dusun Ngadilegi Lor dan lahan demplot kelompok tani, kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. Ir. Wanti Mindari, M.P., Dr. Ir. R. Purnomo Edi Sasongko, M.P., dan A. Zainul Arifin, S.P., M.P. Sesi praktik lapangan dipandu oleh R. Muhammad Yusuf Adi Pujo Nugroho, S.P., M.P., bersama mahasiswa Fanny Dwi Kartikasari dan Artanindia Lailatul Amalia.

Para petani menyambut kegiatan ini dengan antusias, baik saat praktik penyusunan bahan raised bed dan pembuatan kompos maupun dalam diskusi teknis penerapan di lahan mereka. Pendekatan partisipatif ini dirancang agar demplot berfungsi sebagai sarana pembelajaran kolektif yang membangun kemandirian petani dalam mengadopsi teknologi.

Implementasi teknologi raised-bed hugelkultur oleh kelompok tani dan tim dosen UPN "Veteran" Jawa Timur
Implementasi teknologi raised-bed hugelkultur oleh kelompok tani dan tim dosen UPN “Veteran” Jawa Timur. (Foto: Dok/Ist).

Ketua tim pengabdian, Wanti Mindari, menjelaskan bahwa teknologi ini dikembangkan dari riset raised bed berbasis bahan organik untuk mendorong pemanfaatan potensi sekitar. “Kami ingin teknologi ini dapat diterapkan dengan bahan yang mudah dijumpai petani, seperti jerami, ranting, batang pisang, rumput, dan kotoran ternak. Melalui raised bed dan pengomposan, bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi sistem budidaya yang lebih produktif dan berkelanjutan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan pencapaian SDGs 8 dan 17 untuk menciptakan pengelolaan lahan yang berkelanjutan secara ekologis maupun ekonomis.

Ketua Kelompok Tani Madulegi, Said, menilai pengenalan raised-bed hugelkultur sangat membantu petani menghadapi ketidakpastian musim. “Penggunaan guludan (raised-bed hugelkultur) membantu menyimpan air sehingga tanaman tidak rentan kekeringan,” ungkapnya. Pihaknya mengapresiasi pendampingan tim dosen UPN Jatim dalam memajukan pertanian di wilayah mereka.

Melalui pendampingan berkelanjutan dan pengelolaan demplot, program ini diharapkan dapat direplikasi secara mandiri oleh Kelompok Tani Madulegi. Selain meningkatkan kapasitas petani dan efisiensi pemanfaatan sumber daya lokal, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat tani.