Jakarta, radarbaru.com – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atau MPR RI akhirnya menyampaikan permintaan maaf terkait viralnya insiden penilaian kontroversial dalam Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat.
Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan di media sosial setelah dewan juri memberikan nilai berbeda terhadap jawaban yang dinilai sama dari dua regu peserta.
Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, mengatakan pihaknya meminta maaf atas kejadian tersebut dan memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem lomba maupun kinerja dewan juri.
“Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini,” ujar Abcandra dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).
Ia juga mengaku menerima informasi bahwa kasus serupa pernah terjadi pada pelaksanaan lomba di provinsi lain pada tahun sebelumnya.
Karena itu, menurutnya, sistem perlombaan perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menyatakan pihaknya menghormati kritik dan masukan publik terkait insiden tersebut.
Menurutnya, kegiatan pendidikan seperti lomba cerdas cermat harus menjunjung tinggi sportivitas, objektivitas, keadilan, serta integritas.
MPR RI, kata dia, akan mengevaluasi sejumlah aspek teknis dalam perlombaan, mulai dari mekanisme penilaian, kejelasan artikulasi jawaban peserta, sistem verifikasi jawaban, hingga tata kelola keberatan peserta.
“Masukan publik akan menjadi bahan evaluasi penting demi menjaga kualitas kegiatan dan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Kronologi Viral Lomba Cerdas Cermat MPR RI
Insiden ini terjadi dalam final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat.
Saat sesi pertanyaan rebutan berlangsung, pembawa acara memberikan pertanyaan mengenai lembaga yang memberi pertimbangan dalam pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Regu C dari SMAN 1 Pontianak lebih dulu menekan bel dan menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) serta diresmikan Presiden.
Namun jawaban tersebut justru dinilai salah oleh salah satu dewan juri, Dyastasita, sehingga Regu C mendapat nilai minus 5.
Tak lama kemudian, Regu B memberikan jawaban yang dinilai sama, tetapi justru memperoleh nilai 10 dari juri.
“Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10,” ujar Dyastasita.
Peserta Protes Karena Jawaban Dinilai Sama
Keputusan itu langsung diprotes oleh peserta Regu C karena merasa jawaban mereka sama dengan Regu B.
Mereka menegaskan bahwa sejak awal sudah menyebut Dewan Perwakilan Daerah dalam jawabannya.
Namun juri tetap menyatakan tidak mendengar penyebutan DPD dari Regu C.
Perdebatan pun terjadi di hadapan peserta dan penonton. Regu C bahkan meminta agar penonton diminta memberikan pendapat mengenai jawaban tersebut.
Tetapi dewan juri tetap mempertahankan keputusan mereka.
Juri Soroti Artikulasi Peserta
Dewan juri lainnya, Indri Wahyuni, menjelaskan bahwa artikulasi jawaban peserta menjadi salah satu faktor penilaian.
Ia mengatakan peserta sudah diingatkan sejak awal untuk menjawab dengan pelafalan yang jelas agar dapat dipahami dewan juri.
“Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai tidak mendengar artikulasi dengan jelas, maka dewan juri berhak memberikan nilai minus,” ujarnya.
Video momen tersebut kemudian viral di media sosial dan menuai banyak kritik dari warganet.
Banyak netizen menilai jawaban Regu C sebenarnya sudah benar dan layak mendapatkan poin yang sama seperti Regu B.
Insiden ini pun memicu perdebatan luas mengenai profesionalitas penjurian dalam lomba edukasi tingkat nasional.




