Jakarta, radarbaru.com – Sebuah produk yang terlihat sederhana sering kali menyimpan proses panjang di baliknya. Hal tersebut dialami tim mahasiswa Universitas Agung Podomoro saat mengembangkan Bowbanies, inovasi camilan berbasis brownies yang menggunakan oat, memiliki kandungan protein lebih tinggi, serta menggunakan madu asli sebagai pemanis tanpa gula rafinasi.

Bowbanies berawal dari mata kuliah Thinking and Acting Like an Entrepreneurial Leader (TAEL). Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori kewirausahaan, tetapi ditantang untuk membangun dan menguji sebuah bisnis secara nyata.

Mendapatkan kategori Food & Beverage, tim Bowbanies awalnya justru kesulitan menemukan ide. Berbagai gagasan besar dan kompleks sempat muncul dalam proses brainstorming. Namun, mereka kemudian menyadari bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Produk yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari pun dapat dikembangkan menjadi solusi yang memiliki nilai tambah.

Pilihan akhirnya jatuh pada brownies. Namun, tim tidak ingin sekadar menghadirkan brownies seperti yang sudah banyak tersedia di pasaran. Melihat kebiasaan masyarakat yang gemar mengonsumsi camilan, mereka mencoba menawarkan pilihan berbeda dengan mengembangkan brownies berbahan oat, meningkatkan kandungan protein, dan menggunakan madu sebagai pemanis.

Mengubah gagasan menjadi produk ternyata bukan proses yang mudah. Tim Bowbanies harus melalui sekitar 13 kali proses research and development (R&D) untuk mendapatkan formulasi yang sesuai. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mengubah karakter brownies yang lembut menjadi bola-bola padat yang tetap memiliki tekstur dan rasa yang menarik.

Komposisi bahan berkali-kali diubah. Ada produk yang terlalu keras, terlalu lembek, sulit menyatu, hingga memiliki tingkat kemanisan yang belum sesuai. Setiap kegagalan menjadi bahan evaluasi untuk melakukan percobaan berikutnya.

Setelah mendapatkan formulasi awal, Bowbanies mulai diperkenalkan kepada konsumen melalui pembagian sampel, sistem pre-order, dan pembukaan booth. Tahap ini tidak hanya dimanfaatkan untuk menjual produk, tetapi juga sebagai proses validasi pasar.

Masukan konsumen menjadi bagian penting dalam pengembangan Bowbanies. Ketika pelanggan menilai produk masih terlalu manis atau bentuknya belum konsisten, tim kembali melakukan penyempurnaan. Bagi mereka, kritik konsumen bukan sekadar komentar, tetapi informasi penting untuk membuat produk semakin sesuai dengan kebutuhan pasar.

Proses tersebut kemudian membawa Bowbanies ke Youthpreneur TAEL 1 di Podomoro University. Dalam kegiatan yang menjadi ajang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan bisnis yang telah dibangun selama satu semester tersebut, Bowbanies berhasil memperoleh penghargaan pada kategori Food & Beverage.

Perjalanan mereka berlanjut melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Bowbanies berhasil lolos dan memperoleh pendanaan sebesar Rp10 juta untuk mendukung pengembangan usaha. Pendanaan tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk meningkatkan kualitas produk sekaligus membawa Bowbanies menuju tahap pengembangan berikutnya.

Perjalanan Bowbanies menunjukkan bahwa kewirausahaan tidak selalu berawal dari ide besar. Sebuah produk sederhana dapat berkembang ketika dibangun melalui eksperimen, keberanian menerima kritik, validasi konsumen, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Di balik setiap gigitan Bowbanies hari ini terdapat belasan percobaan, berbagai kegagalan, dan pembelajaran dari konsumen. Dari sebuah tugas perkuliahan, Bowbanies berkembang menjadi pengalaman nyata bagi mahasiswa dalam memahami bahwa membangun bisnis bukan sekadar menciptakan produk, tetapi tentang mencoba, mendengarkan pasar, belajar, dan terus menyempurnakan solusi.