Majene, radararu.com — Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Smart Media for Smart Teachers: Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Bahan Ajar Digital dengan Pendekatan Multiple Representations Terintegrasi Wayground Artificial Intelligence (AI) telah dilaksanakan di SD–SMP IT Tahfidzul Qur’an Majene. Kegiatan ini membekali guru dari beragam latar belakang mata pelajaran dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang bahan ajar digital yang lebih variatif, interaktif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa skor rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 61,63 persen pada pretest menjadi 90,81 persen pada posttest.

Kegiatan ini dirancang untuk mengatasi dua permasalahan utama yang dihadapi mitra, yaitu keterbatasan pengetahuan dalam merancang bahan ajar digital dan keterbatasan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi berbasis AI untuk mendukung pembelajaran.

Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif yang menempatkan guru sebagai peserta aktif dalam proses pelatihan dan pendampingan. Peserta tidak sekadar menerima penjelasan konseptual, tetapi juga terlibat dalam diskusi, praktik penggunaan Wayground AI, penyusunan bahan ajar digital, serta pendampingan teknis. Tahapan kegiatan mengikuti rencana dalam proposal, yaitu analisis kebutuhan dan pengukuran kemampuan awal, edukasi mengenai bahan ajar digital dan pendekatan multiple representations, pengenalan dan praktik penggunaan Wayground AI, pendampingan dan pemberian umpan balik, serta evaluasi melalui posttest dan peninjauan hasil praktik peserta.

Kemampuan Awal Peserta Menjadi Dasar Penyesuaian Materi

Sebelum materi disampaikan, peserta mengisi pretest yang terdiri atas sembilan pernyataan. Instrumen tersebut mengukur pemahaman peserta tentang bahan ajar digital, manfaat bahan ajar digital, pendekatan multiple representations, pemilihan unsur teks dan multimedia, penggunaan Wayground AI, pembuatan soal, pembagian bahan ajar, pemeriksaan keluaran AI, serta penerapan Wayground AI dalam pembelajaran.

Berdasarkan 15 respons yang tercatat, skor pretest mencapai 416 dari skor maksimum 675, atau setara dengan 61,63 persen. Dari keseluruhan 135 jawaban pada sembilan indikator, sebanyak 88 jawaban atau 65,19 persen berada pada kategori cukup paham, 29 jawaban atau 21,48 persen berada pada kategori paham, dan 18 jawaban atau 13,33 persen berada pada kategori tidak paham. Belum ada jawaban pada kategori sangat paham.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa peserta telah memiliki pemahaman dasar tentang bahan ajar digital, tetapi penguasaan terhadap pendekatan multiple representations dan penerapan AI dalam pembelajaran masih terbatas. Skor awal terendah, yakni 56,00 persen, terdapat pada tiga indikator: pemahaman pendekatan multiple representations, kemampuan memeriksa hasil yang dibuat AI, dan kemampuan menggunakan Wayground AI dalam pembelajaran. Temuan awal ini digunakan untuk menyesuaikan fokus materi dan intensitas pendampingan selama kegiatan berlangsung.

Dari Bahan Ajar Konvensional ke Multiple Representations

Materi pelatihan diawali dengan penjelasan mengenai perbedaan bahan ajar konvensional dan bahan ajar digital. Bahan ajar digital tidak sekadar memindahkan teks cetak ke format elektronik, tetapi menggabungkan teks, gambar, audio, video, simbol, ilustrasi, dan aktivitas interaktif untuk membantu peserta didik memahami materi. Penjelasan itu dilanjutkan dengan pengenalan pendekatan multiple representations, yaitu penyajian suatu konsep melalui beberapa bentuk representasi yang saling melengkapi, seperti representasi verbal, visual, simbolik, dan interaktif.

Setiap bentuk representasi memiliki fungsi berbeda dalam membantu peserta didik membangun pemahaman. Teks dan narasi membantu menjelaskan konsep, gambar dan video menunjukkan bentuk konkret atau proses, simbol menyajikan hubungan secara ringkas, sedangkan aktivitas interaktif memberi kesempatan kepada peserta didik untuk merespons dan menerima umpan balik.

Pada tahap berikutnya, peserta diperkenalkan dengan fungsi Wayground AI dalam pembuatan bahan ajar dan asesmen digital. Materi meliputi cara mengakses platform, mengenali fitur utama, menyusun perintah atau prompt, menghasilkan soal dengan bantuan AI, menyesuaikan soal dengan tujuan pembelajaran, memasukkan unsur teks dan visual, serta membagikan bahan ajar kepada peserta didik.

AI sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Guru

Salah satu pesan penting dalam pelatihan ini adalah bahwa keluaran AI tidak dapat digunakan secara langsung tanpa pemeriksaan. Guru tetap bertanggung jawab memeriksa kebenaran konsep, kesesuaian bahasa, tingkat kesulitan, relevansi dengan tujuan pembelajaran, serta kesesuaian materi dengan karakteristik peserta didik. Dengan pendekatan tersebut, AI ditempatkan sebagai alat bantu profesional bagi guru, bukan sebagai pengganti pertimbangan pedagogis.

Pemanfaatan AI memang dapat mempercepat penyusunan bahan ajar dan memberikan variasi penyajian. Namun, mutu akhir bahan ajar tetap ditentukan oleh kemampuan guru dalam memvalidasi, memperbaiki, dan mengontekstualisasikan hasil yang dihasilkan oleh sistem. Hal ini sejalan dengan kegiatan dan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa pelatihan yang disertai pendampingan dapat membantu guru meningkatkan pemahaman dan keterampilan dalam mengembangkan bahan ajar berbantuan AI.

Praktik Langsung dan Pendampingan Bertahap

Setelah menerima penjelasan, peserta melaksanakan praktik langsung menggunakan Wayground AI. Mereka diarahkan menentukan tujuan pembelajaran, memilih materi, merumuskan prompt, menghasilkan soal atau aktivitas pembelajaran, serta menyesuaikan keluaran AI dengan kebutuhan mata pelajaran masing-masing. Dalam proses tersebut, peserta memadukan beberapa bentuk representasi agar bahan ajar tidak hanya menyajikan informasi secara verbal.

Pendampingan diberikan secara bertahap, mulai dari proses mengakses platform hingga memeriksa dan membagikan hasil pengembangan. Tim pengabdian memberikan bantuan khusus kepada peserta yang mengalami kendala dalam penggunaan fitur, penyusunan prompt, pemilihan bentuk representasi, dan penyesuaian keluaran AI. Peserta juga memperoleh umpan balik mengenai ketepatan materi, keterbacaan, kesesuaian tingkat kesulitan, dan keterpaduan antarrepresentasi.

Pelaksanaan edukasi dan pelatihan
Pelaksanaan edukasi dan pelatihan. (Foto: Dok/Ist).

Diskusi selama pendampingan memperlihatkan bahwa kebutuhan guru tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pengoperasian platform. Peserta juga memerlukan penguatan dalam memilih bentuk representasi yang sesuai dengan karakteristik materi dan dalam memeriksa ketepatan hasil yang dibuat AI. Salah satu kendala yang teridentifikasi adalah keterbatasan platform dalam menampilkan materi yang banyak menggunakan simbol atau variabel.

Skor Pemahaman Guru Naik Hampir 30 Poin Persentase

Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest menggunakan sembilan indikator yang sama. Skor rata-rata peserta meningkat dari 61,63 persen menjadi 90,81 persen, atau naik 29,19 poin persentase. Apabila dihitung terhadap skor awal, perubahan tersebut setara dengan peningkatan relatif sebesar 47,36 persen.

Seluruh 135 jawaban posttest berada pada kategori paham atau sangat paham. Sebanyak 62 jawaban atau 45,93 persen berada pada kategori paham, dan 73 jawaban atau 54,07 persen berada pada kategori sangat paham.

Peningkatan tertinggi terjadi pada indikator pemahaman pendekatan multiple representations, yaitu 33,33 poin persentase, dari 56,00 persen menjadi 89,33 persen. Kemampuan membuat soal menggunakan Wayground AI naik 32,00 poin persentase, dari 60,00 persen menjadi 92,00 persen. Kemampuan memeriksa keluaran AI juga naik 32,00 poin persentase, dari 56,00 persen menjadi 88,00 persen.

Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya memperkuat pemahaman konseptual peserta, tetapi juga meningkatkan persepsi kemampuan mereka dalam menggunakan dan mengevaluasi keluaran AI. Seluruh 15 respons posttest memperoleh skor akhir di atas 70 persen, dengan rentang skor individual antara 80,00 dan 100,00 persen. Indikator keberhasilan yang ditetapkan dalam proposal, yaitu minimal 70 persen peserta menyelesaikan posttest dengan nilai sekurang-kurangnya 70, telah tercapai.

Peserta Puas, Waktu Praktik Jadi Catatan

Keberhasilan kegiatan juga ditinjau melalui angket kepuasan guru. Berdasarkan 15 respons terhadap 10 indikator berskala 1–5, diperoleh skor aktual 674 dari skor maksimum 750, atau tingkat kepuasan keseluruhan sebesar 89,87 persen. Dari 150 jawaban indikator, sebanyak 80 jawaban atau 53,33 persen memperoleh skor 5, sebanyak 64 jawaban atau 42,67 persen memperoleh skor 4, dan hanya 6 jawaban atau 4,00 persen memperoleh skor 3. Tidak ada jawaban dengan skor 1 atau 2, sehingga 96 persen jawaban berada pada kategori penilaian 4–5.

Indikator dengan capaian tertinggi adalah kesesuaian materi dengan kebutuhan guru sebesar 96,00 persen, diikuti kebermanfaatan materi sebesar 93,33 persen dan kontribusi pendampingan dalam membantu peserta menyelesaikan tugas sebesar 92,00 persen. Kepuasan peserta secara langsung, kejelasan pemateri, dan kesempatan bertanya masing-masing memperoleh nilai 90,67 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa tema pelatihan relevan dengan kebutuhan profesional guru dan pendampingan memberikan dukungan yang bermakna selama praktik.

Meskipun tingkat kepuasan tergolong sangat tinggi, kecukupan waktu pelatihan memperoleh nilai paling rendah, yaitu 78,67 persen. Temuan tersebut konsisten dengan saran terbuka peserta yang menghendaki tambahan durasi praktik, penjelasan yang lebih terperinci bagi guru dengan kemampuan teknologi yang masih terbatas, serta kesempatan untuk menyelesaikan dan memperoleh koreksi atas produk bahan ajar. Peserta juga mengharapkan kegiatan lanjutan yang membahas platform AI dan media digital lainnya.

Tiga Capaian Utama dan Catatan Penting

Secara keseluruhan, pelatihan dan pendampingan menghasilkan tiga capaian utama. Pertama, meningkatnya pemahaman peserta mengenai bahan ajar digital dan pendekatan multiple representations. Kedua, peserta memperoleh pengalaman langsung dalam mengakses, menggunakan, dan memeriksa keluaran Wayground AI. Ketiga, peserta mulai mengembangkan bahan ajar atau asesmen digital sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.

Tim pelaksana menegaskan bahwa hasil ini perlu ditafsirkan secara hati-hati. Data yang diperoleh menggambarkan peningkatan pemahaman dan kemampuan yang dilaporkan peserta setelah pelatihan. Data tersebut belum dapat dipakai untuk menyimpulkan dampak jangka panjang terhadap praktik pembelajaran maupun hasil belajar peserta didik, karena belum dilengkapi observasi penerapan di kelas dan pengukuran tindak lanjut.

Rencana Tindak Lanjut

Berdasarkan hasil tersebut, tindak lanjut program diarahkan pada pendampingan lanjutan dengan durasi praktik yang lebih memadai. Kegiatan berikutnya dapat disusun dalam beberapa sesi, yaitu penguatan keterampilan dasar, pengembangan produk, peninjauan produk, dan penerapan terbimbing. Materi juga akan disesuaikan dengan tingkat kemampuan digital peserta serta diperluas pada pemanfaatan platform AI lain yang relevan.

Pendampingan lanjutan dibutuhkan terutama untuk membantu guru mengembangkan materi yang melibatkan simbol, persamaan, atau variabel, serta memastikan setiap keluaran AI memenuhi ketepatan materi, etika penggunaan AI, perlindungan data, dan kesesuaian pedagogis. Keberhasilan tindak lanjut sebaiknya tidak hanya dinilai melalui angket kepuasan, tetapi juga melalui jumlah dan kualitas produk yang diselesaikan, keterlaksanaan produk dalam pembelajaran, serta dokumentasi penerapannya di kelas.

Melalui kegiatan Smart Media for Smart Teachers, para guru SD–SMP IT Tahfidzul Qur’an Majene kini memiliki bekal awal untuk memanfaatkan teknologi secara bijak dalam menyiapkan pembelajaran yang lebih menarik, bermakna, dan sesuai kebutuhan peserta didik.