Saya punya teori sederhana: sebagian orang Indonesia sebenarnya lahir dengan bakat menjadi detektif. Hanya saja, bakat itu baru muncul ketika ada kasus perselingkuhan yang melibatkan tokoh publik.

Begitu muncul kabar seorang artis, pejabat, atau influencer diduga berselingkuh, kemampuan investigasi masyarakat mendadak meningkat drastis. Orang-orang yang biasanya malas membaca berita sampai selesai tiba-tiba mampu menelusuri unggahan Instagram lima tahun lalu, membandingkan foto, mencocokkan lokasi, menghitung selisih waktu, bahkan menyusun kronologi yang lebih lengkap daripada pemberitaan media.

Saya sering heran melihat fenomena ini.

Ketika ada berita mengenai kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, perhatian masyarakat biasanya cepat menguap. Namun ketika yang dibahas adalah dugaan perselingkuhan, energi netizen seperti tidak ada habisnya. Timeline berubah menjadi ruang sidang terbuka. Semua orang merasa memiliki pendapat yang harus disampaikan.

Yang lebih menarik, sebagian besar dari kita sebenarnya tidak mengenal para tokoh yang sedang dibicarakan itu secara pribadi.

Kita tidak tinggal serumah dengan mereka. Kita tidak mengetahui kondisi hubungan mereka yang sebenarnya. Kita juga tidak mengetahui apa yang terjadi di balik layar. Namun entah mengapa, banyak orang merasa perlu ikut menjadi penyidik, jaksa, hakim, sekaligus juri dalam waktu bersamaan.

Fenomena ini kembali terlihat dalam beberapa kasus yang ramai diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Setiap kali muncul dugaan perselingkuhan, pola yang terjadi hampir selalu sama. Muncul tuduhan, lalu netizen mencari bukti. Setelah itu muncul klarifikasi, lalu netizen mencari bukti baru. Ketika bukti baru ditemukan, muncul teori lain yang tidak kalah meyakinkan.

Siklusnya terus berulang.

Awalnya saya mengira orang-orang hanya menyukai gosip. Namun setelah dipikir-pikir, penjelasannya mungkin tidak sesederhana itu.

Perselingkuhan adalah salah satu bentuk pengkhianatan yang paling mudah dipahami oleh banyak orang. Hampir semua orang pernah merasakan kehilangan kepercayaan, dibohongi, atau setidaknya takut mengalami hal tersebut. Karena itulah ketika melihat drama rumah tangga orang lain, sebagian orang sebenarnya sedang memproyeksikan ketakutannya sendiri.

Mereka tidak sekadar mengikuti berita.

Mereka sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang mungkin juga mereka miliki dalam kehidupan pribadi.

Bagaimana tanda-tanda seseorang menyembunyikan sesuatu?

Apakah pasangan yang terlihat baik-baik saja bisa saja memiliki kehidupan lain yang tidak diketahui?

Apakah kecurigaan yang selama ini dianggap berlebihan ternyata bisa menjadi kenyataan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat kasus perselingkuhan selalu memiliki daya tarik luar biasa.

Di berbagai negara, fenomena ini bahkan melahirkan industri investigator privat yang membantu pasangan memverifikasi kecurigaan mereka sebelum mengambil keputusan besar dalam hubungan.

Saya pernah membaca beberapa kisah investigasi yang dihimpun oleh Detektif Jessica dan menemukan pola yang menarik: dalam banyak kasus, masalah terbesar bukanlah menemukan bukti, melainkan keberanian seseorang untuk menerima kenyataan yang sebenarnya sudah lama ia curigai.

Mungkin itu juga yang menjelaskan mengapa netizen begitu bersemangat setiap kali ada kasus perselingkuhan yang viral.

Bukan karena mereka benar-benar ingin mengetahui kehidupan pribadi orang lain.

Melainkan karena mereka ingin meyakinkan diri sendiri bahwa mereka tidak sedang mengalami hal yang sama.

Sayangnya, tidak ada jumlah screenshot, teori, atau analisis media sosial yang bisa memberikan kepastian tersebut.

Pada akhirnya, setelah kasus selesai dan publik beralih ke drama berikutnya, kita akan kembali menjalani kehidupan masing-masing. Sementara orang-orang yang sebelumnya menjadi bahan perbincangan tetap harus menghadapi masalah yang sesungguhnya terjadi dalam kehidupan mereka.

Dan mungkin disitulah ironi terbesar dari semua drama perselingkuhan yang viral di internet.

Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk menginvestigasi kehidupan orang lain, tetapi sering kali lupa memeriksa kondisi hubungan kita sendiri.