Sumba Timur, radarbaru.com – Selembar tenun ikat tidak hanya menyimpan warna dan motif. Di dalamnya terdapat pengetahuan panjang tentang pemilihan benang, pembentukan pola, pengikatan, pewarnaan alami, proses menenun, hingga makna adat yang melekat pada setiap karya. Selama bertahun-tahun, pengetahuan tersebut terutama diwariskan melalui praktik langsung dan penjelasan lisan dari perajin senior kepada generasi berikutnya.

Pewarisan secara langsung membuat tradisi tenun tetap hidup di dalam komunitas. Namun, cara tersebut juga menghadirkan tantangan ketika pengetahuan belum terdokumentasi secara sistematis, minat generasi muda mulai berubah, dan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi digital masih beragam. Apabila pengetahuan hanya tersimpan dalam ingatan dan pengalaman para perajin, sebagian teknik, istilah, maupun makna budaya berisiko semakin sulit dipelajari oleh generasi berikutnya.

Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Telkom University mengembangkan program “Pelestarian Pengetahuan Tenun Ikat Berbasis E-Learning: Pemberdayaan Perempuan dan Regenerasi Perajin di Sumba Timur.” Program ini dipimpin oleh Prof. Dr. Augustina Asih Rumanti, M.T., bersama tim peneliti Mia Amelia, S.T., M.T. dan Artamevia Salsabila Rizaldi, S.T., M.T. Kegiatan dilaksanakan bersama masyarakat Desa Hambapraing, Mondu, Watuhadang, dan Patawang. Pengetahuan mengenai tenun ikat kemudian dihimpun menjadi enam modul pembelajaran yang dapat diakses melalui elearningsumba.com, lengkap dengan materi visual, kuis, dashboard pembelajaran, dan guidebook penggunaan platform.

Platform e-learning dirancang sebagai pendamping pembelajaran langsung, bukan sebagai pengganti peran perajin senior. Pengalaman dan keterampilan para perajin tetap menjadi sumber utama pengetahuan, sedangkan teknologi digunakan untuk membantu menyimpan, menyusun, dan memperluas akses terhadap pengetahuan tersebut.

Materi yang sebelumnya tersebar dalam praktik sehari-hari dihimpun ke dalam bentuk tertulis dan visual, kemudian disusun menjadi modul, kuis, serta panduan penggunaan. Dengan demikian, masyarakat tetap dapat belajar secara langsung dari perajin sekaligus memiliki sumber pembelajaran digital yang dapat dibuka kembali ketika dibutuhkan.

Pengembangan program memadukan pendekatan Knowledge Management SECI dan ADDIE. Dalam pelaksanaannya, proses dimulai dengan menggali pengalaman perajin, menuangkannya ke dalam bentuk tertulis dan visual, menyusun materi menjadi jalur pembelajaran yang runtut, mengimplementasikannya melalui website, serta mengevaluasi penggunaannya bersama masyarakat. Pendekatan tersebut membuat proses digitalisasi tetap berpijak pada konteks budaya, kebiasaan belajar, dan kebutuhan pengguna di wilayah 3T.

Dengan demikian, perubahan yang dilakukan bukanlah mengganti cara masyarakat belajar, melainkan memperbaiki cara pengetahuan disimpan. Platform membantu memastikan agar pengalaman para perajin dapat dipelajari kembali dan diwariskan secara lebih terstruktur di dalam komunitas.

Enam Modul yang Menjadi Jalur Belajar

01  Mengenal Tenun Ikat Sumba Timur

Pengertian, fungsi, karakteristik, dan posisi tenun sebagai identitas budaya serta sumber penghidupan.

02  Motif dan Makna Filosofis

Motif dipahami sebagai simbol, cerita, nilai adat, dan identitas komunitas, bukan sekadar hiasan.

03  Alat dan Bahan Tenun Ikat

Pengenalan alat, benang, bahan pengikat, bahan pewarna, serta fungsi setiap komponen produksi.

04  Tahapan Proses Menenun

Urutan kerja dari persiapan benang, pembentukan motif, pengikatan, pewarnaan, hingga proses menenun.

05  Pewarnaan Alami

Sumber bahan pewarna, pengolahan, penggunaan yang lebih ramah lingkungan, dan konsistensi warna.

06  Menjaga Kualitas dan Nilai Tenun

Kualitas bahan, kerapian, ketahanan warna, pelestarian nilai budaya, dan penguatan nilai ekonomi produk.

Berikut merupakan 6 Modul yang menjadi jalur belajar adalah:

Modul 1: Mengenal Tenun Ikat Sumba Timur

Tenun Ikat Sumba Timur merupakan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat sekaligus sumber penghidupan melalui nilai ekonomi yang dimilikinya.

Modul 2: Motif dan Makna Filosofis

Motif tenun mengandung simbol, cerita, nilai adat, dan identitas komunitas, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai hiasan.

Modul 3: Alat dan Bahan Tenun Ikat

Proses menenun menggunakan berbagai alat, benang, bahan pengikat, dan pewarna yang masing-masing memiliki fungsi dalam menghasilkan kain berkualitas.

Modul 4: Tahapan Proses Menenun

Pembuatan tenun meliputi persiapan benang, pembentukan motif, pengikatan, pewarnaan, hingga proses menenun.

Modul 5: Pewarnaan Alami

Pewarna alami berasal dari bahan-bahan alam yang ramah lingkungan serta menghasilkan warna yang khas dan tahan lama.

Modul 6: Menjaga Kualitas dan Nilai Tenun

Kualitas tenun dijaga melalui pemilihan bahan, kerapian proses, ketahanan warna, serta pelestarian nilai budaya untuk meningkatkan nilai ekonomi produk.

Tahap implementasi dilakukan secara bergiliran di Desa Hambapraing, Mondu, Watuhadang, dan Patawang. Berdasarkan daftar hadir yang terisi, kegiatan melibatkan 35 peserta: 12 peserta di Desa Hambapraing, 4 peserta di Desa Mondu, 15 peserta di Desa Watuhadang, dan 4 peserta di Desa Patawang. Peserta mencakup perajin tenun, perempuan, pemuda, anggota komunitas, dan perwakilan masyarakat setempat.

Setiap sesi dimulai dengan penjelasan mengenai tujuan program dan pentingnya dokumentasi pengetahuan tenun. Tim kemudian memperkenalkan enam modul, mendemonstrasikan halaman course, menunjukkan cara membuka materi dan kuis, serta mendampingi peserta menggunakan laptop, tablet, maupun telepon genggam. Peserta yang belum terbiasa menggunakan platform berbasis website memperoleh bantuan secara individual atau dalam kelompok kecil. Pendampingan tidak berhenti pada penjelasan. Peserta perlu mencoba sendiri urutan penggunaan website agar dapat kembali mengakses materi secara mandiri setelah kegiatan selesai.

Menjaga Tenun, Merawat Pengetahuan: Dari Tradisi Lisan ke Ruang Belajar Digital
Peserta mencoba langsung membuka website, memilih modul, membaca materi, dan mengenali fitur kuis dengan pendampingan tim. (Foto: Dok/Ist).

Dari sisi pengguna, platform menyediakan daftar modul, akses materi, kuis, serta dashboard untuk melihat progres pembelajaran. Tampilan kartu modul menggunakan judul dan gambar sampul agar materi lebih mudah dikenali, termasuk oleh pengguna yang belum memiliki pengalaman teknis tinggi.

Dari sisi pengelola, dashboard admin menampilkan informasi mengenai peserta, modul, nilai, dan aktivitas belajar. Fitur Module Management digunakan untuk menambah, memperbarui, mengurutkan, atau menghapus materi. Quiz Management membantu mengatur evaluasi, sedangkan User Management mendukung pengelolaan akun peserta. Guidebook melengkapi sistem dengan petunjuk langkah demi langkah sehingga penggunaan website tidak bergantung pada kehadiran tim pelaksana.

Program ini menghasilkan sumber belajar digital yang lebih terstruktur dan mudah digunakan kembali oleh masyarakat. Pengetahuan tenun ikat yang sebelumnya banyak diwariskan melalui praktik langsung dan penjelasan lisan kini terdokumentasi dalam enam modul pembelajaran yang dilengkapi kuis, dashboard, dan guidebook. Kehadiran platform ini memperkuat peran perempuan perajin sebagai sumber utama pengetahuan sekaligus menyediakan media belajar yang lebih dekat dengan kebiasaan generasi muda.

Pelaksanaan kegiatan di empat desa dan penggunaan langsung platform oleh 35 peserta menunjukkan bahwa e-learning dapat diterapkan sebagai pendamping proses pewarisan pengetahuan di masyarakat. Tersedianya modul, website, fitur pembelajaran, dan panduan penggunaan menjadi landasan awal untuk pengelolaan konten secara berkelanjutan, pendampingan lanjutan, serta perluasan pemanfaatan platform pada masa mendatang.