1. Kapan usaha ini didirikan, siapa saja anggota tim yang terlibat, dan apa peran atau jabatan masing-masing anggota dalam menjalankan usaha?
Fiber Noodle merupakan usaha yang dikembangkan oleh tim mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro pada Oktober 2025. Tim Fiber Noodle terdiri dari 4 anggota dengan pembagian peran sebagai berikut:
1. Rima Erna Agustiningsih — CEO / Manajer Operasional, bertanggung jawab mengoordinasikan seluruh kegiatan operasional, alur kerja, jadwal produksi, dan pengadaan bahan baku.
2. Fhatin Arinda Putri — Manajer Produksi, mengelola proses pembuatan produk serta memastikan kualitas, kebersihan, dan konsistensi hasil produksi.
3. Maelani Shodiqoh — Manajer Pemasaran & Editing, menyusun strategi pemasaran serta mengelola konten promosi (desain, foto, video, editing).
4. Rani Mukertjee — Manajer Keuangan, mengelola arus kas, anggaran, dan laporan keuangan agar tetap transparan dan terkontrol.
Pada tahap awal, seluruh pekerjaan masih dilakukan secara bersama-sama tanpa pembagian tugas yang spesifik. Setelah mengikuti pembinaan P2MW, struktur organisasi dan pembagian tanggung jawab mulai ditata secara lebih jelas. Koordinasi dilakukan secara rutin melalui pertemuan tatap muka maupun media komunikasi seperti WhatsApp dan Google Meet. Meskipun setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing, seluruh proses tetap dilakukan secara kolaboratif agar kegiatan operasional, produksi, hingga pemasaran dapat berjalan secara optimal.
2. Apa yang melatarbelakangi tim kalian memulai usaha ini dan bagaimana awal mula ide usaha tersebut muncul?
Ide Fiber Noodle berawal dari kepedulian tim terhadap masalah gangguan pencernaan yang masih sering dialami masyarakat, khususnya masyarakat yang mengalami gejala diare. Tim melihat bahwa banyak orang masih mengandalkan obat kimia yang tidak selalu cocok untuk semua orang, sementara daun jambu biji dikenal secara turun-temurun bermanfaat untuk pencernaan namun konsumsinya masih terbatas pada bentuk teh atau rebusan yang kurang praktis. Dari sinilah Fiber Noodle melihat adanya peluang untuk mengembangkan produk mie yang tidak hanya praktis dan familiar bagi Masyarakat, Fiber Noodle tidak diposisikan sebagai obat maupun pengganti pengobatan medis, melainkan sebagai pangan fungsional yang dapat mendukung pola makan sehat.
Selain menjawab peluang kebutuhan konsumen terhadap produk pangan inovatif, usaha ini juga menjadi sarana bagi tim untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kegiatan bisnis secara langsung.
3. Apa produk atau layanan yang ditawarkan, siapa target konsumennya, dan apa yang menjadi keunikan atau keunggulan usaha kalian?
Produk yang ditawarkan adalah mie berbahan dasar serat daun jambu biji yang kaya serat dan antioksidan, diformulasikan untuk menyehatkan pencernaan, khususnya bagi mereka yang rentan mengalami diare — bukan sebagai pengganti obat, melainkan sebagai pangan fungsional pendukung pola makan sehat.
Target konsumen utama:
1. Keluarga dengan anak-anak yang butuh asupan serat harian yang aman
2. Orang dewasa dengan pola makan tidak sehat/sering makan junk food
3. Lansia dan individu dengan masalah pencernaan yang ingin mengurangi ketergantungan pada obat kimia
4. Konsumen dengan gaya hidup sehat dan peduli lingkungan
Keunikan/keunggulan dibanding competitor pemanfaatan serat daun jambu biji sebagai bahan baku lokal yang memiliki karakteristik unik dan masih jarang digunakan oleh kompetitor. Selain itu, Fiber Noodle ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau, yaitu sekitar Rp15.000–Rp25.000 per kemasan, sehingga dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Produk juga dikembangkan melalui proses riset dan uji coba oleh mahasiswa serta diperkuat dengan uji laboratorium sebagai bagian dari upaya memastikan kualitas dan keamanan produk. Dari sisi keberlanjutan, Fiber Noodle juga berupaya membangun kemitraan dengan petani lokal di Desa Wates, Kecamatan Ngaliyan, serta menggunakan konsep kemasan yang lebih ramah lingkungan.
4. Apa tantangan terbesar yang pernah dihadapi selama menjalankan usaha dan bagaimana cara tim kalian mengatasinya?
1. Legalitas usaha — sebelum program P2MW, tim belum punya legalitas apa pun sehingga sulit membangun kepercayaan konsumen. Diatasi dengan mengurus NIB (terbit 4 Juni 2026), NPWP, serta memproses sertifikasi halal dan HKI yang saat ini masih berjalan.
2. Pemasaran belum terstruktur — awalnya promosi dilakukan spontan lewat media sosial pribadi tanpa strategi jelas. Diatasi dengan menyusun strategi STP (Segmentation, Targeting, Positioning), membuat konten promosi terjadwal, serta mengikuti pameran dan seminar kewirausahaan.
3. Pembagian kerja tim — di awal, tugas dikerjakan bersama tanpa peran spesifik sehingga rawan tumpang tindih tanggung jawab. Diatasi dengan menetapkan struktur organisasi yang jelas (empat peran manajerial) dan koordinasi rutin.
3. Produksi belum standar — produk awal belum melalui uji kelayakan yang matang. Diatasi dengan melakukan trial produk, uji laboratorium, dan pembaruan identitas merek (logo) agar lebih profesional.
Untuk mengatasinya, tim melakukan evaluasi secara berkala terhadap produk dan proses produksi, menerima masukan konsumen, serta melakukan perbaikan secara bertahap. Tim juga melakukan pencatatan keuangan dan penjualan agar perkembangan usaha dapat dipantau dengan lebih terukur. Dari proses tersebut, tim dapat mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki sekaligus menentukan strategi pengembangan selanjutnya.
5. Berapa omzet yang telah diperoleh dari usaha ini, baik rata-rata per bulan maupun pencapaian omzet tertinggi yang pernah diraih?
Berdasarkan pencatatan penjualan aktual, pada periode 6 Juli–11 Agustus 2026, Fiber Noodle berhasil menjual sebanyak 45 pcs dengan harga jual Rp15.000 per pcs, sehingga memperoleh total omzet sebesar Rp675.000 selama periode tersebut. Transaksi dilakukan melalui pembayaran tunai maupun nontunai menggunakan QRIS.
Jika dihitung berdasarkan periode tersebut, rata-rata omzetnya sekitar Rp18.200 per hari atau sekitar Rp607.500 per 30 hari. Namun, karena periode penjualan tersebut belum berlangsung selama satu bulan penuh dan aktivitas penjualan masih dalam tahap pengembangan, angka tersebut lebih tepat disebut sebagai rata-rata ekuivalen bulanan, bukan rata-rata omzet bulanan yang sudah stabil.
6. Apa pencapaian yang sudah diraih dan apa target atau rencana pengembangan usaha kalian ke depannya?
Pencapaian Fiber Noodle Adalah berhasil mengembangkan dan menjalankan produk dari tahap ide hingga menjadi usaha yang memiliki produk nyata dan mulai dipasarkan kepada konsumen. Selain itu, Fiber Noodle juga memperoleh dukungan melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026, yang memberikan kesempatan bagi tim untuk mengembangkan usaha secara lebih terarah dan profesional.
Dari sisi pengembangan usaha, Fiber Noodle telah memiliki NIB yang telah diterbitkan, sementara proses sertifikasi halal dan pendaftaran HKI sedang berjalan. Tim juga telah melakukan uji laboratorium sebagai bagian dari upaya penguatan data dan pengembangan produk.
Ke depannya, tim menargetkan peningkatan kapasitas produksi dan penjualan, perluasan jangkauan pemasaran, peningkatan konsistensi dan kualitas produk, serta penguatan identitas merek. Tim juga akan mengembangkan strategi pemasaran yang lebih terstruktur melalui media digital maupun kegiatan offline.
Dalam jangka panjang, Fiber Noodle diharapkan dapat berkembang menjadi usaha pangan inovatif yang berkelanjutan, memiliki pasar yang lebih luas, mampu menjalin kemitraan dengan lebih banyak pihak, serta memberikan nilai tambah bagi konsumen sekaligus mendukung pemanfaatan bahan baku lokal.









