Radar Baru, Kolom – Ngopi sambil nongki sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak anak Gen Z. Duduk di coffee shop sambil foto-foto aesthetic, mengerjakan tugas, atau sekadar ngobrol ringan memang memberikan kenyamanan tersendiri. Namun tanpa disadari, kebiasaan sederhana ini bisa membawa dampak nyata terhadap kondisi keuangan pribadi.
Dalam akuntansi, arus kas atau cashflow menjadi indikator penting untuk melihat kesehatan finansial seseorang. Ketika pengeluaran kecil dilakukan secara terus-menerus tanpa dicatat, totalnya bisa membesar perlahan. Jajan kopi termasuk pengeluaran operasional pribadi yang nilainya kecil tetapi frekuensinya tinggi. Fenomena ini sering disebut sebagai “bocor halus” karena efeknya tidak langsung terasa, namun tetap menggerus saldo dari waktu ke waktu.
Harga kopi yang berada di kisaran Rp18.000–Rp30.000 memang terlihat ringan. Tetapi jika nongki dilakukan dua hingga tiga kali seminggu, total pengeluaran dapat mencapai Rp200.000–Rp350.000. Dalam satu bulan, jumlahnya bisa menembus Rp1.000.000. Dari perspektif akuntansi, pengeluaran berulang seperti ini dapat menurunkan kemampuan menabung, membangun dana darurat, atau memulai investasi.
Meski begitu, bukan berarti Gen Z harus berhenti menikmati kopi favoritnya. Self-reward tetap penting untuk menjaga kesehatan mental dan sosial. Kuncinya adalah pengendalian yang bijak. Menetapkan anggaran jajan, mencatat pengeluaran harian, dan mengevaluasi arus kas mingguan dapat membantu menjaga keuangan tetap stabil.
Kesimpulannya, nongki bukanlah masalah selama dilakukan dengan kesadaran finansial. Dengan sedikit penerapan prinsip akuntansi sederhana, Gen Z tetap bisa menikmati gaya hidup kekinian tanpa membuat kondisi keuangan terganggu.
*) Penulis adalah Siti Nur Septi, Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang.




