Temanggung, radarbaru.com — Desa Bansari di lereng Gunung Sindoro, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, selama ini menghadapi tantangan serius: keterbatasan air, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini tidak hanya menghambat pemenuhan kebutuhan air rumah tangga, tetapi juga mempersempit ruang gerak petani yang tengah beralih dari tembakau ke komoditas sayuran yang lebih membutuhkan pasokan air stabil. Menyikapi persoalan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Fisika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro (Undip) hadir membawa pendekatan geofisika untuk memetakan potensi akuifer air tanah di wilayah itu.
Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA). Tim pengabdian terdiri dari empat akademisi Departemen Fisika FSM Undip, yakni Dr. Rina Dwi Indriana, S.Si., M.Si.; Prof. Dr. Drs. Rahmat Gernowo, M.T.; Prof. Dr. Agus Setyawan, S.Si., M.Si.; dan Muhammad Fahmi, S.Si., M.Si.
“Pemetaan potensi akuifer ini adalah langkah awal yang sangat penting. Dengan mengetahui di mana dan seberapa dalam sumber air tanah berada, masyarakat dan pemerintah desa bisa merencanakan pemanfaatan air secara tepat sasaran, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk irigasi pertanian hortikultura yang sedang berkembang,” ujar Rina Dwi Indriana, Ketua Tim Pengabdian.
Lereng Sindoro, Potensi Vulkanik yang Belum Tergali
Secara hidrogeologi, Desa Bansari berada dalam Sistem Cekungan Air Tanah Magelang–Temanggung. Wilayah ini didominasi endapan vulkanik berupa lava dan piroklastika dari aktivitas Gunung Sindoro, yang secara geologis berpotensi berfungsi sebagai lapisan akuifer. Namun potensi tersebut belum pernah dipetakan secara ilmiah, sehingga perencanaan pemanfaatan air tanah di kawasan ini masih berjalan tanpa data yang memadai.
Pergeseran pola tanam dari tembakau menuju komoditas sayuran turut meningkatkan kebutuhan air yang lebih stabil. Berbeda dengan tembakau yang relatif tahan kering, tanaman hortikultura memerlukan irigasi yang konsisten agar pertumbuhan optimal dan hasil panen dapat diandalkan. Kondisi inilah yang mendorong urgensi pemetaan sumber air tanah di Desa Bansari.
Membaca Lapisan Bumi Tanpa Pengeboran
Tim menggunakan metode mikrotremor Horizontal to Vertical Spectral Ratio (HVSR), sebuah teknik geofisika pasif dan nondestruktif yang merekam getaran alami permukaan bumi. Secara sederhana, alat seismik tiga arah “mendengarkan” getaran halus tanah, lalu menganalisis karakteristik sinyal untuk membaca susunan lapisan bawah permukaan — termasuk estimasi kecepatan gelombang seismik yang menjadi kunci identifikasi lapisan jenuh air atau akuifer.
Pelaksanaan kegiatan diawali survei geologi lapangan untuk memahami kondisi geomorfologi dan litologi permukaan, sekaligus menentukan titik pengukuran yang representatif dan minim gangguan getaran buatan. Data mikrotremor yang terkumpul kemudian diproses di Laboratorium Geofisika Undip melalui serangkaian tahapan: quality control, pemilihan window sinyal, perhitungan spektrum, penyusunan kurva HVSR, hingga interpretasi profil bawah permukaan. Hasil kajian akhirnya disusun dalam bentuk rekomendasi teknis bagi masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
Zona Akuifer Teridentifikasi di Kedalaman 30–85 Meter
Hasil pengukuran dan analisis menunjukkan temuan yang menggembirakan. Tim berhasil mengidentifikasi beberapa titik yang berpotensi sebagai zona akuifer di kawasan Bansari pada kedalaman sekitar 30 hingga 85 meter. Kedalaman ini dinilai cukup terjangkau untuk kegiatan pengeboran sumur dalam, sehingga membuka peluang bagi pengembangan sumber air bersih yang lebih merata dan berkelanjutan.
“Musim kemarau selalu jadi masa yang berat bagi kami. Air untuk minum saja susah, apalagi untuk menyiram sayuran. Kalau ternyata ada sumber air tidak terlalu dalam di bawah sini, itu berarti harapan besar bagi kami untuk bisa bertani dengan lebih tenang,” tutur salah seorang petani warga Desa Bansari yang mengikuti sosialisasi hasil pengukuran.
Ketahanan Air Desa dan Dukungan SDGs 2 & 6
Kegiatan ini selaras dengan dua tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) yang mendorong ketahanan pangan dan diversifikasi pertanian, serta SDGs 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) yang menjamin akses air bersih bagi seluruh masyarakat. Pendekatan geofisika terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam penguatan ketahanan air di tingkat desa — tidak hanya membantu masyarakat mengenali potensi sumber air tanah, tetapi juga menyediakan dasar ilmiah untuk perencanaan yang lebih efektif dan efisien.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, masyarakat Desa Bansari diharapkan dapat mengembangkan pertanian yang lebih beragam dan adaptif terhadap kekeringan. Diversifikasi komoditas dari tembakau menuju hortikultura bernilai ekonomi lebih stabil pun akan lebih mudah diwujudkan bila didukung akses air yang memadai sepanjang tahun.
Langkah Selanjutnya
Hasil pemetaan akuifer akan disusun dalam laporan rekomendasi teknis dan diserahkan kepada pemerintah Desa Bansari serta dinas terkait di Kabupaten Temanggung sebagai acuan penentuan lokasi survei lanjutan maupun pengeboran sumur dalam. Tim pengabdian juga berharap temuan ini dapat mendorong kolaborasi lebih luas antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan lembaga pendanaan demi mempercepat realisasi infrastruktur air bersih yang menjangkau seluruh warga Desa Bansari.




