radarbaru.com – Harga emas dunia diprediksi masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini di tengah memanasnya kondisi geopolitik global dan meningkatnya aksi beli bank sentral berbagai negara.
Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas dunia akan bergerak di kisaran US$ 4.389 hingga US$ 4.851 per troy ounce.
Pada penutupan perdagangan Sabtu lalu, harga emas berada di level US$ 4.616 per troy ounce.
Level Support dan Resistance Emas Dunia
Menurut Ibrahim, jika harga emas mengalami kenaikan, maka resistance pertama berada di level US$ 4.702 per troy ounce.
Sementara jika harga turun, support pertama diperkirakan berada di US$ 4.520 per troy ounce.
Untuk pergerakan sepekan ke depan:
- Support kedua diprediksi di US$ 4.389 per troy ounce
- Resistance kedua diperkirakan mencapai US$ 4.851 per troy ounce
Pergerakan harga emas saat ini dinilai masih sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan kondisi geopolitik yang terus memanas.
Konflik Geopolitik Dorong Harga Emas
Ketegangan di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menopang harga emas dunia.
Konflik antara Rusia dan Ukraina disebut kembali memanas. Rusia bahkan dikabarkan mengancam akan melakukan serangan besar terhadap Ukraina dan negara-negara anggota NATO yang memberikan bantuan.
Di Timur Tengah, ketegangan juga meningkat setelah Iran disebut menggunakan tanker kosong untuk mengelabui Amerika Serikat. Kapal-kapal tersebut kemudian disita dan memicu kemarahan pasukan Amerika.
Situasi semakin panas ketika terjadi aksi saling serang antara kapal tanker Iran dan kapal perang Amerika Serikat.
Meski sempat terjadi baku tembak, Presiden Donald Trump disebut masih mendorong gencatan senjata meskipun situasinya dinilai rapuh.
Kondisi geopolitik yang tidak stabil ini membuat investor kembali menjadikan emas sebagai aset safe haven.
Faktor yang Membuat Harga Emas Turun
Di sisi lain, ada beberapa faktor yang berpotensi menekan harga emas dunia.
Salah satunya adalah dampak ekonomi global akibat gangguan jalur perdagangan maritim, terutama jika terjadi penutupan Selat Hormuz.
Gangguan tersebut dapat memicu lonjakan inflasi global sekaligus membuat bank sentral dunia mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ketika suku bunga tinggi bertahan, daya tarik emas biasanya sedikit berkurang karena investor cenderung beralih ke instrumen berbunga.
Bank Sentral China Borong Emas
Meski harga emas sempat mengalami koreksi, permintaan dari bank sentral global justru meningkat tajam pada kuartal pertama 2026.
Salah satu pembeli terbesar adalah Bank Sentral China yang dikabarkan menambah cadangan emas sebesar 7,15 ton.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penurunan harga emas justru dimanfaatkan oleh bank sentral untuk mengakumulasi cadangan logam mulia.
Dalam lima tahun terakhir, China bahkan disebut telah memiliki cadangan emas terbesar kelima di dunia.
Emas Masih Jadi Aset Favorit
Dengan ketidakpastian geopolitik, inflasi global, dan meningkatnya pembelian oleh bank sentral, harga emas diperkirakan masih memiliki peluang menguat dalam jangka menengah.
Namun investor tetap diminta mewaspadai volatilitas tinggi akibat perkembangan konflik global dan kebijakan suku bunga bank sentral dunia.




