Radar Baru, Jakarta – Ekspansi platform media digital Muzzlem ke lebih dari 50 bahasa memperlihatkan satu perubahan penting dalam lanskap keagamaan global: narasi Islam kini semakin ditentukan oleh ruang digital. Di tengah pergeseran itu, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah media sosial akan memengaruhi cara publik memahami agama, tetapi siapa yang membentuk narasi tersebut dan nilai apa yang dibawanya.

Founder Muzzlem, Wempy Dyocta Koto, melihat ruang digital sebagai arena utama pertarungan gagasan pada masa depan. Menurutnya, media tidak lagi sekadar alat distribusi informasi, melainkan ruang pembentukan identitas, persepsi, bahkan cara pandang generasi muda terhadap agama.

“Kami percaya bahwa masa depan narasi keagamaan akan banyak dibentuk di ruang digital. Pertanyaannya bukan lagi apakah, tetapi bagaimana narasi itu disampaikan dan oleh siapa,” ujar Wempy.WhatsApp Image 2026-05-06 at 16.38.00 (1)

Pernyataan tersebut menjadi relevan ketika konsumsi konten berbasis nilai dan identitas terus meningkat di berbagai platform digital. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial berkembang menjadi ruang utama bagi generasi muda untuk mencari pengetahuan, termasuk tentang agama.

Namun, perubahan ini menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ruang digital membuka akses pengetahuan secara lebih luas dan cepat. Di sisi lain, ia juga menciptakan banjir informasi yang sering kali kehilangan kedalaman dan konteks.

Fenomena itu terlihat dari semakin dominannya konten singkat berbasis potongan video, kutipan emosional, atau narasi sensasional yang dirancang untuk memancing perhatian pengguna.

Dalam sistem algoritma media sosial, perhatian menjadi komoditas utama. Konten yang cepat memicu emosi cenderung lebih mudah tersebar dibanding konten yang membutuhkan refleksi lebih dalam.

Situasi ini membuat ruang digital dipenuhi narasi yang cepat dikonsumsi, tetapi tidak selalu membangun pemahaman yang utuh.

Di titik inilah Muzzlem mencoba mengambil posisi berbeda. Platform ini memilih pendekatan storytelling dan lokalisasi budaya untuk membangun hubungan yang lebih kontekstual dengan audiens global.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat ada kebutuhan besar akan konten Islam yang tidak hanya informatif, tetapi juga relevan secara global dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” kata Wempy.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perebutan narasi digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan ceramah formal atau penyampaian normatif. Audiens modern membutuhkan bahasa komunikasi yang lebih dekat dengan pengalaman hidup mereka.

Karena itu, ekspansi Muzzlem ke lebih dari 50 bahasa menjadi penting bukan hanya dari sisi distribusi, tetapi juga representasi.

Dengan populasi Muslim dunia yang mencapai lebih dari 1,9 miliar jiwa dan tersebar dalam latar budaya berbeda, tidak ada satu wajah Islam yang dapat mewakili seluruh pengalaman umat Muslim secara global.

“Kami tidak melihat Islam sebagai satu narasi yang seragam. Justru keberagamannya adalah kekuatan,” ujar Wempy.

Pendekatan lokalisasi yang dipilih Muzzlem memperlihatkan adanya kesadaran bahwa pesan yang sama perlu disampaikan dengan cara berbeda di setiap wilayah. Pengalaman Muslim di Asia Tenggara tidak identik dengan pengalaman Muslim di Afrika, Timur Tengah, maupun Eropa.

Karena itu, bahasa dalam konteks ini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pintu masuk budaya.

Namun, ekspansi media keagamaan digital juga memunculkan kritik. Sebagian kalangan menilai bahwa agama berisiko direduksi menjadi sekadar produk visual yang mengejar angka penonton dan monetisasi.

Kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya keliru. Dalam banyak kasus, ruang digital memang mendorong penyederhanaan pesan agar lebih cepat dikonsumsi. Akibatnya, substansi sering kali kalah oleh sensasi.

Wempy mengakui bahwa risiko tersebut selalu ada. Namun, menurutnya, solusi bukan dengan menjauh dari media digital, melainkan membangun pendekatan yang lebih bertanggung jawab.

“Risiko itu selalu ada, tetapi justru di situlah pentingnya pendekatan yang bertanggung jawab. Kami melihat media sebagai sarana untuk membuka akses, bukan menggantikan otoritas keilmuan,” ujarnya.

Pandangan ini memperlihatkan posisi Muzzlem yang tidak ingin menggantikan peran ulama atau institusi pendidikan formal. Platform digital diposisikan sebagai ruang awal yang membuka ketertarikan dan rasa ingin tahu, sementara pendalaman tetap harus dilakukan melalui proses belajar yang lebih serius.

Di sisi lain, tantangan struktural juga tidak kecil. Ketergantungan pada platform global seperti YouTube membuat distribusi konten sangat dipengaruhi oleh perubahan algoritma dan kebijakan perusahaan teknologi.

“Kami menyadari bahwa platform seperti YouTube adalah kanal distribusi yang sangat kuat, tetapi juga dinamis,” kata Wempy.

Kesadaran itu membuat Muzzlem mulai memikirkan pembangunan ekosistem yang lebih luas dan lebih mandiri dalam jangka panjang.

Ekspansi yang dilakukan Muzzlem menunjukkan bahwa media digital berbasis Indonesia mulai memiliki posisi dalam percakapan global tentang Islam. Di tengah dominasi platform besar internasional, munculnya inisiatif seperti ini memperlihatkan bahwa narasi dari kawasan Global South juga mulai mencari ruangnya sendiri.

Pada akhirnya, pertarungan terbesar di era digital mungkin bukan lagi soal siapa yang paling cepat viral. Yang jauh lebih menentukan adalah siapa yang mampu menjaga makna, membangun kepercayaan, dan menghadirkan narasi yang tetap relevan di tengah arus informasi yang terus bergerak cepat.