Radar Baru, Kolom — Dalam lima tahun terakhir, dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang disalurkan di wilayah Priangan Timur menunjukkan angka yang tidak kecil. Bahkan pada tahun 2022, penyaluran ZIS di sejumlah kabupaten mencapai ratusan miliar rupiah. Secara logika, besarnya dana sosial keagamaan tersebut seharusnya mampu mendorong percepatan pengentasan kemiskinan. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa penurunan jumlah penduduk miskin di Priangan Timur berlangsung relatif lambat. Di sinilah pertanyaan penting muncul: mengapa potensi besar ZIS belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penurunan kemiskinan?
Data BAZNAS Jawa Barat mencatat lonjakan signifikan penyaluran ZIS pada 2022. Kabupaten Garut menyalurkan ZIS hingga Rp192,8 miliar, Kabupaten Tasikmalaya Rp188,09 miliar, dan Kabupaten Ciamis Rp136,42 miliar. Bahkan wilayah dengan kapasitas fiskal kecil seperti Pangandaran dan Kota Banjar juga mencatat peningkatan penyaluran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Angka-angka ini menunjukkan bahwa secara nominal, ZIS di Priangan Timur memiliki daya ungkit ekonomi yang besar.
Namun, jika disandingkan dengan data BPS mengenai jumlah penduduk miskin, gambaran yang muncul tidak sepenuhnya sejalan. Pada tahun 2022, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Garut masih mencapai 276,7 ribu jiwa, Kabupaten Tasikmalaya 194,1 ribu jiwa, dan Kabupaten Ciamis 94 ribu jiwa. Bahkan pada periode 2020–2021, hampir seluruh wilayah Priangan Timur mengalami peningkatan jumlah penduduk miskin akibat tekanan ekonomi pascapandemi. Fakta ini menandakan bahwa besarnya penyaluran ZIS belum mampu menghasilkan lompatan signifikan dalam menurunkan kemiskinan.
Memang terdapat tren penurunan jumlah penduduk miskin pada 2023–2024. Kabupaten Garut, misalnya, turun dari 260,5 ribu jiwa pada 2023 menjadi 259,3 ribu jiwa pada 2024. Kota Tasikmalaya turun lebih terlihat, dari 79,4 ribu jiwa menjadi 76,7 ribu jiwa. Namun, penurunan tersebut cenderung gradual dan tidak sebanding dengan lonjakan penyaluran ZIS pada tahun-tahun sebelumnya. Artinya, ZIS belum berfungsi sebagai akselerator utama pengentasan kemiskinan.
Jawaban atas pertanyaan permasalahan ini perlahan mulai terlihat ketika mencermati pola penyaluran ZIS. Di banyak daerah, ZIS masih dominan disalurkan dalam bentuk bantuan konsumtif jangka pendek, seperti bantuan kebutuhan pokok dan santunan. Pola ini memang penting untuk menjaga daya tahan masyarakat miskin, tetapi kurang efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan. Tanpa skema pemberdayaan ekonomi, mustahik berpotensi tetap berada dalam posisi yang sama dari tahun ke tahun.
Selain itu, pengelolaan ZIS belum sepenuhnya terintegrasi dengan strategi pengentasan kemiskinan daerah. Data kemiskinan BPS belum dimanfaatkan secara optimal sebagai basis perencanaan program ZIS. Akibatnya, penyaluran cenderung bersifat merata, bukan tepat sasaran pada kelompok miskin ekstrem atau rentan miskin yang membutuhkan intervensi ekonomi jangka menengah dan panjang.
Padahal, karakter wilayah Priangan Timur yang didominasi sektor pertanian, perdagangan kecil, dan UMKM membuka peluang besar bagi pengembangan ZIS produktif. Dengan pendekatan ini, ZIS dapat diarahkan sebagai modal usaha mikro, penguatan ekonomi pesantren, pembiayaan alat produksi, hingga pendampingan usaha bagi keluarga miskin produktif. Jika dirancang secara konsisten dan berbasis data, dampak ZIS tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga transformatif.
Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan mengapa kemiskinan di Priangan Timur turunnya lambat bukan terletak pada kecilnya dana ZIS, melainkan pada bagaimana dana tersebut dikelola dan diarahkan. Tanpa perubahan paradigma dari sekadar penyaluran menuju pemberdayaan, ZIS akan terus menjadi bantuan sosial tahunan, bukan instrumen perubahan sosial.
Ke depan, optimalisasi Zakat, Infak, dan Sedekah di Priangan Timur menuntut keberanian untuk membesarkan dampak, bukan hanya angka. Integrasi data BPS, penguatan program ZIS produktif, serta sinergi antara BAZNAS, pemerintah daerah, pesantren, dan UMKM menjadi prasyarat agar ZIS benar-benar mampu mempercepat pengentasan kemiskinan dan memperkuat ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.
*) Penulis adalah Muhammad Syafiq Majdi, S.E., Mahasiswa Magister Ekonomi IAI SEBI.




