Radar Baru, Kolom – Dibalik keindahan dan keunikan Tanah Jawara, Banten memiliki berbagai destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya Pulau Cangkir. Lokasinya tepat di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang.
Lokasi yang strategis, menjadikan Pulau Cangkir sering dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah bahkan wisatawan dari luar Banten. Selain keindahannya, Pulau Cangkir juga memiliki wisata religi yang begitu popular, yaitu tempat penziarahan makam Pangeran Jaga Lautan. Pulau Cangkir menyimpan keindahan alam yang khas. Salah satu daya tarik utama pulau ini adalah hamparan pohon mangrove yang tumbuh lebat dan rimbun di sepanjang pesisirnya.
Disepanjang jalan menuju Pulau Cangkir, wisatawan akan disuguhi hutan mangrove yang mengaggumkan. Pohon-pohon mangrove berjenis Rhizophora Sp. (Bakau) yang merupakan jenis mangrove terbanyak dikawasan tersebut, menciptakan efek visual menarik. Keindahan pohon mangrove di Pulau Cangkir bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyimpan peran penting bagi kelestarian dan keseimbangan ekosistem di pesisir Pulau Cangkir. Batang yang tumbuh menjadi penopang alami agar garis pantai tetap stabil dan tidak mengalami abrasi, serta menjadi tempat berlindung bagi biota laut.
Upaya menjaga keseimbangan ini tidak terlepas dari berbagai lembaga dan komunitas yang andil dalam menjaga ekosistem mangrove. Secara adiministratif kawasan mangrove di kawasan Pulau Cangkir dikelola oleh Perum Perhutani dan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Desa Kronjo sebagai pengelola wilayah. Namun, kegiatan perawatan harian, pemberdayaan lingkungan, serta edukasi kepada masyarakat banyak dilakukan oleh komunitas MAPUCA (Mangrove Pulau Cacngkir) mereka secara aktif melakukan penanaman mangrove, pemeliharaan area pesisir hingga edukasi kepada pengunjung atau Masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan ekosistem mangrove.
Kawasan mangrove di Pulau Cangkir banyak digunakan sebagai lokasi penelitian akademik. Tidak sedikit mahasiswa dari berbagai kampus yang menjadikan kawasan ini sebagai penelitian tugas akhir, seperti bidang lingkungan, biologi, pendidikan, hingga pengelolaan sumber daya alam. Komunitas MAPUCA selain melakukan pelestarian pohon mangrove, komunitas tersebut juga mengembangkan pemanfaatan mangrove secara kreatif dan berkelanjutan salah satunya mengolah hasil mangrove menjadi produk makanan.
Menurut ketua komunitas MAPUCA yaitu H. Heru mengungkapkan bahwa komunitas MAPUCA telah mengembangkan berbagai olahan berbahan dasar mangrove “Bisa dodol mangrove, kopi mangrove, bahkan sampai keripik mangrove,” jelasnya. Olahan tersebut dihasilkan melalui proses yang selektif dan berkelanjutan, sehingga hanya bagian tertentu dari mangrove yang dimanfaatkan tanpa mengganggu pertumbuhan dan fungsi ekologis ekosistem mangrove.
*) Penulis adalah Lely Fahzia hidayati- Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang.




