Radar Baru, NGLEGOK ─ Kelompok KKN 40 Universitas Sebelas Maret (UNS) menginisiasi program minimum tillage dalam budidaya tanaman nilam di Desa Nglegok, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan keterampilan masyarakat. Program ini dilaksanakan melalui pendampingan kepada warga mulai dari pengenalan tanaman nilam, teknik perbanyakan dengan metode stek dan pemberian hormon, penanaman, hingga perawatan tanaman secara berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi lahan pekarangan, sehingga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, memperkuat kemandirian desa, serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di tingkat desa.
Program perbanyakan tanaman nilam ini dilaksanakan oleh tim mahasiswa KKN yang terdiri atas Yohanes Paulus Jujur Kinanthi, Nadia Ramdhanti, Nabila Firly Aulia, Yusuf Dhanzky Handitra, Jihaan Nuhaa Hanniifah, Iqbal Tora Hakeem, Imron Alimudin, Sarita Ayu Aprilia, Aqila Aliya Mahesha, dan Alfira Widyasari, di bawah bimbingan Dr. Supriyadi Wibowo, S.Si., M.Si. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui penguatan potensi komoditas lokal yang memiliki nilai ekonomi menjanjikan.
Rangkaian program diawali dengan sosialisasi tanaman nilam pada Minggu (11/01/2026) yang dihadiri ibu-ibu PKK, topik yang dibahas adalah pengenalan tanaman nilam kepada warga serta menginformasikan peluang budidaya tanaman nilam serta potensi pengembangannya. Selanjutnya, pada Senin (19/01/2026), dilaksanakan kegiatan perbanyakan tanaman nilam sebagai upaya peningkatan ketersediaan bibit yang lebih optimal. Program kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi metode stek pada Selasa (10/02/2026) untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan masyarakat dalam proses pembibitan secara mandiri. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat mengembangkan budidaya nilam secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Sosialisasi Tanaman Nilam
Tanaman nilam merupakan salah satu tanaman penghasil minyak aromaterapi yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi dikembangkan sebagai komoditas unggulan desa. Minyak nilam banyak dimanfaatkan dalam industri parfum, kosmetik, hingga produk perawatan tubuh karena aromanya yang khas dan sifatnya sebagai fiksatif alami. Permintaan pasar yang stabil menjadikan nilam sebagai tanaman prospektif yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat apabila dikelola dengan baik.
Melalui sosialisasi ini, masyarakat diperkenalkan pada potensi tanaman nilam, metode stek yang bisa digunakan untuk perbanyakan, penggunaan hormon perangsang akar, dan pemilihan media tanam yang sesuai, serta perawatan awal tanaman dengan memperhatikan kondisi kelembapan tinggi di kawasan Desa Nglegok. Selain itu, dijelaskan pula beberapa kendala umum dalam pembibitan, seperti risiko pembusukan batang akibat kelembapan berlebih, pertumbuhan akar yang kurang optimal, hingga serangan jamur pada fase awal tanam. Sebagai solusi, mahasiswa menyarankan penggunaan media tanam yang porous, pengaturan intensitas penyiraman, serta pemilihan indukan yang sehat dan cukup umur untuk meningkatkan tingkat keberhasilan stek.
Sesi sosialisasi tanaman nilam juga berlangsung interaktif. Salah satu anggota PKK Desa Nglegok Ibu Rubinah mengajukan pertanyaan terkait keterbatasan lahan pekarangan yang dimiliki. “Kalau pekarangan rumah saya kecil, bagaimana cara menanam nilamnya?” tanyanya.
Menanggapi hal tersebut, Sarita Ayu Aprilia selaku pembicara sosialisasi tanaman nilam menjelaskan bahwa kondisi lahan sempit tidak menjadi hambatan. “Pertanyaannya sangat bagus, Ibu. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, penanaman nilam dapat dilakukan dengan metode minimum tillage seperti yang saya jelaskan tadi, yaitu pengolahan tanah seminimal mungkin tanpa perlu membongkar seluruh lahan.” jelasnya. Metode ini memungkinkan tanaman nilam tetap tumbuh optimal di pekarangan rumah dengan memanfaatkan lubang tanam sederhana atau media tanam alternatif, sehingga budidaya tetap dapat dilakukan secara praktis dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, masyarakat juga diberikan gambaran mengenai peluang pengembangan produk turunan nilam, tidak hanya sebatas penjualan daun kering, tetapi juga potensi pengolahan menjadi minyak atsiri yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Dengan pengelolaan yang tepat, budidaya nilam berpeluang menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus membuka kesempatan usaha berbasis komoditas lokal di Desa Nglegok.
Penanaman dan Perbanyakan Tanaman Nilam
Setelah kegiatan sosialisasi tanaman nilam selesai dilaksanakan, program berlanjut pada tahap perbanyakan tanaman nilam di lahan yang telah disepakati bersama masyarakat. Kegiatan ini menjadi bentuk tindak lanjut dari materi yang telah diberikan sebelumnya, sehingga masyarakat dapat langsung mempraktikkan teknik budidaya secara nyata. Satu minggu sebelum penanaman dimulai, mahasiswa bersama warga menyiapkan lahan dengan memastikan kondisi tanah cukup gembur dan tidak tergenang air. Lubang tanam dibuat dengan jarak 50 x 70 cm agar tanaman memiliki ruang tumbuh yang optimal. Bibit nilam hasil perbanyakan kemudian dipindahkan,
Kegiatan ini menggunakan tanaman nilam yang telah tumbuh dan memiliki perakaran yang cukup kuat. Tanaman tersebut kemudian dipindahkan dan ditanam kembali sebagai bagian dari proses perbanyakan. Pemindahan dilakukan secara hati-hati agar akar tidak rusak dan tanaman dapat beradaptasi dengan cepat di media tanam yang baru.
Di sela kegiatan, salah satu warga bertanya, “Berapa lama panennya, Mas?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh salah satu anggota KKN bahwa tanaman nilam umumnya dapat mulai dipanen pada usia sekitar 3–6 bulan, tergantung pada kondisi perawatan dan lingkungan tumbuhnya. Penjelasan ini memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa budidaya nilam memiliki masa panen yang relatif singkat dan berpotensi memberikan hasil dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Kegiatan diakhiri dengan penyiraman awal dan pengarahan singkat mengenai perawatan lanjutan, seperti penyiangan gulma dan pemantauan kondisi daun. Melalui praktik langsung ini, masyarakat diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan tanaman nilam secara mandiri dan berkelanjutan.
Langkah-langkah dan Praktek Perbanyakan Tanaman Nilam dengan Metode Stek
Dua minggu setelah proses penanaman, mahasiswa KKN 40 UNS kembali mengikuti kegiatan rutin PKK Desa Nglegok untuk menjelaskan langkah-langkah serta mempraktikkan metode stek untuk perbanyakan tanaman nilam.
Perbanyakan nilam vegetatif dengan stek batang merupakan metode paling efektif karena mempertahankan sifat unggul induk tanaman dan mempercepat waktu panen. Tanaman nilam yang digunakan dalam kegiatan praktik perbanyakan diperoleh dari mitra ahli tanaman nilam, sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung contoh tanaman nilam yang telah tumbuh dengan baik. Melalui tanaman tersebut, masyarakat lebih mudah memahami bentuk dan struktur tanaman nilam, termasuk mengenali bagian batang yang tepat untuk dijadikan stel.
Kegiatan ini membantu warga memberikan gambaran nyata mengenai tahapan perbanyakan nilam yang benar sebelum diterapkan secara mandiri di lahan masing-masing.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Desa
Rangkaian kegiatan budidaya dan perbanyakan tanaman nilam ini menunjukkan adanya antusiasme serta kesiapan masyarakat dalam mengembangkan potensi komoditas lokal. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan meningkatkan keterampilan budidaya, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membuka peluang penguatan ekonomi berbasis pertanian.
Melalui program ini, tim KKN 40 UNS 2026 berharap pengembangan tanaman nilam dapat menjadi langkah awal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan SDGs Desa poin 8 tentang Perrtumbuhan Ekonomi Desa, sekaligus mendukung poin 17 mengenai Kemitraan untuk Pembangunan Desa melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Hal tersebut diharapkan mampu memperkuat kemandirian desa serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan warga secara bertahap.




