Radar Baru, Opini – Selama puluhan tahun, nilai akademik kerap dijadikan tolok ukur utama untuk menilai kualitas seseorang di dunia kerja. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), peringkat kelas, hingga nama besar institusi pendidikan dianggap sebagai “tiket emas” untuk memasuki pasar tenaga kerja. Namun, seiring dengan perubahan zaman dan percepatan perkembangan teknologi, cara pandang tersebut perlahan mulai bergeser. Dunia kerja kini semakin menaruh perhatian besar pada keterampilan (skill) yang dimiliki individu, bahkan tak jarang menempatkannya di atas nilai akademik semata.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Dunia industri bergerak dengan kecepatan tinggi, menuntut efisiensi, adaptabilitas, dan hasil nyata. Perusahaan tidak hanya membutuhkan individu yang mampu memahami teori, tetapi juga mereka yang sanggup mengeksekusi pekerjaan secara konkret, memecahkan masalah riil, serta beradaptasi dengan perubahan. Dalam konteks ini, keterampilan praktis—baik hard skill maupun soft skill—menjadi aset yang sangat berharga.
Nilai akademik pada dasarnya merepresentasikan kemampuan seseorang dalam menyerap materi pembelajaran, mengikuti sistem evaluasi, dan memenuhi standar kurikulum tertentu. Namun, nilai sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan bekerja di lapangan. Tidak sedikit lulusan dengan nilai tinggi yang justru mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada situasi kerja nyata: bekerja dalam tim, menghadapi tekanan target, berkomunikasi dengan klien, atau mengambil keputusan cepat di tengah ketidakpastian.
Sebaliknya, banyak individu dengan nilai akademik biasa saja justru mampu menunjukkan performa kerja yang unggul karena memiliki keterampilan praktis yang kuat. Mereka terbiasa belajar secara mandiri, mengasah kemampuan teknis melalui pengalaman, dan membangun etos kerja yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa nilai akademik bukanlah satu-satunya indikator kompetensi, apalagi penentu keberhasilan karier jangka panjang.
Pergeseran ini semakin terlihat jelas di era digital. Banyak perusahaan, khususnya di sektor teknologi, kreatif, dan industri berbasis inovasi, mulai mengubah pola rekrutmen mereka. Portofolio, pengalaman proyek, sertifikasi keterampilan, hingga hasil tes praktik sering kali lebih diperhitungkan dibandingkan sekadar angka di transkrip nilai. Dunia kerja ingin melihat apa yang benar-benar bisa dikerjakan seseorang, bukan hanya apa yang pernah ia pelajari di ruang kelas.
Namun demikian, mengatakan bahwa nilai akademik tidak lagi penting juga merupakan penyederhanaan yang berlebihan. Pendidikan formal tetap memiliki peran strategis dalam membentuk cara berpikir, kerangka analitis, serta dasar keilmuan seseorang. Perguruan tinggi, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, etika, dan budaya berpikir kritis. Nilai akademik masih relevan sebagai indikator disiplin, konsistensi, dan kemampuan kognitif dasar.
Masalahnya bukan pada pendidikan formal itu sendiri, melainkan pada cara kita memaknainya. Pendidikan tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai ajang mengejar nilai tinggi, melainkan sebagai proses membangun kompetensi. Ketika pendidikan terlalu berfokus pada capaian angka, peserta didik cenderung mengejar kelulusan, bukan penguasaan keterampilan. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja.
Di sinilah tantangan besar bagi institusi pendidikan. Kurikulum perlu lebih adaptif terhadap perkembangan industri, memberikan ruang lebih luas bagi pembelajaran berbasis praktik, proyek, dan pemecahan masalah nyata. Mahasiswa dan pelajar perlu didorong untuk tidak hanya menghafal teori, tetapi juga menerapkannya dalam konteks yang relevan. Magang, proyek kolaboratif, studi kasus, dan pembelajaran lintas disiplin menjadi semakin penting.
Bagi individu, pergeseran ini menuntut perubahan pola pikir. Mengandalkan ijazah dan nilai tinggi saja tidak lagi cukup. Setiap orang perlu aktif mengembangkan keterampilan, baik melalui pelatihan, kursus, pengalaman kerja, maupun pembelajaran mandiri. Soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, manajemen waktu, dan kemampuan beradaptasi kini sama pentingnya dengan hard skill teknis.
Lebih jauh, dunia kerja masa depan akan diwarnai oleh ketidakpastian. Banyak jenis pekerjaan lama yang hilang, sementara pekerjaan baru terus bermunculan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan belajar ulang (reskilling) dan meningkatkan keterampilan (upskilling) menjadi kunci utama. Nilai akademik yang diperoleh di masa lalu tidak akan banyak berarti jika tidak diikuti dengan kemampuan untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, pertanyaan “skill lebih penting dari nilai?” tidak perlu dijawab secara hitam-putih. Keduanya bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Nilai akademik dapat menjadi fondasi, sementara keterampilan menjadi alat untuk bertahan dan unggul di dunia kerja. Tantangan terbesar bagi generasi saat ini adalah bagaimana menjembatani keduanya.
Dunia kerja telah berubah, dan perubahan itu menuntut respons yang cerdas dari individu maupun institusi pendidikan. Mereka yang mampu memadukan pengetahuan akademik dengan keterampilan praktis, sikap profesional, dan kemauan belajar sepanjang hayat, akan memiliki posisi yang lebih kuat dalam menghadapi persaingan global. Bukan semata nilai atau skill yang menentukan, melainkan kemampuan untuk terus relevan di tengah perubahan yang tak terelakkan.
*) Penulis adalah Christoper Tjioe, Mahasiswa Program Studi Internasional Bisnis Manajemen di Universitas Ciputra Surabaya.




