Jakarta, radarbaru.com – Presiden Prabowo Subianto kembali melakukan reshuffle kabinet pada Senin, 27 April 2026, di Istana Kepresidenan Jakarta. Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Muhammad Qodari yang resmi dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom).

Penunjukan ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat komunikasi publik, terutama dalam menyampaikan program kerja dan agenda prioritas nasional kepada masyarakat luas.

Qodari bukanlah sosok baru di lingkaran kekuasaan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP), posisi yang membuatnya berada di pusat pengambilan kebijakan strategis pemerintahan.

Perombakan kabinet kali ini menjadi bagian dari upaya Presiden Prabowo untuk meningkatkan efektivitas kinerja pemerintahan. Dalam konteks tersebut, posisi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah menjadi sangat penting.

Qodari ditugaskan untuk:

  • Menyampaikan kebijakan pemerintah kepada publik secara jelas
  • Mengelola komunikasi strategis nasional
  • Menangkal disinformasi dan hoaks
  • Membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah

Dengan latar belakangnya sebagai analis politik dan peneliti, Qodari dinilai memiliki kapasitas kuat dalam membaca opini publik sekaligus menyusun strategi komunikasi yang efektif.

Profil Lengkap Muhammad Qodari

Muhammad Qodari lahir di Palembang, Sumatera Selatan, pada 15 Oktober 1973. Ia dikenal sebagai akademisi, peneliti, sekaligus pengamat politik yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia riset sosial-politik di Indonesia.

Namanya mulai dikenal luas publik melalui berbagai tampilannya di media sebagai analis politik. Ia sering memberikan pandangan terkait pemilu, survei elektabilitas, hingga dinamika kekuasaan di Indonesia.

Kemampuannya dalam membaca arah politik nasional menjadikannya salah satu figur penting dalam dunia survei dan analisis politik.

Latar Belakang Pendidikan

Perjalanan akademik Qodari menjadi salah satu fondasi utama dalam kariernya.

Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Indonesia dengan fokus pada Psikologi Sosial. Ilmu ini memberikan pemahaman mendalam tentang perilaku individu dan kelompok dalam konteks sosial.

Setelah itu, ia melanjutkan studi ke University of Essex di Inggris, dengan konsentrasi pada political behavior atau perilaku politik.

Tidak berhenti di sana, Qodari kemudian meraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada pada 2016 di bidang Ilmu Politik.

Disertasinya berjudul:

“Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya Pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014”

Penelitian tersebut menjadi salah satu kontribusi akademik penting dalam memahami perilaku pemilih di Indonesia.

Karier di Dunia Riset dan Survei

Sebelum masuk ke pemerintahan, Qodari memiliki karier panjang di dunia riset dan survei politik.

Ia pernah menjabat sebagai:

  • Peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI)
  • Peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
  • Direktur Riset Lembaga Survei Indonesia (LSI)
  • Wakil Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia

Puncaknya, pada tahun 2006, Qodari mendirikan lembaga survei Indo Barometer, yang kemudian dikenal luas sebagai salah satu lembaga riset independen terpercaya di Indonesia.

Melalui Indo Barometer, ia aktif melakukan survei opini publik terkait politik, ekonomi, hingga sosial masyarakat.

Peran sebagai Analis dan Pengamat Politik

Selain sebagai peneliti, Qodari juga dikenal luas sebagai pengamat politik yang sering tampil di berbagai media nasional.

Sejak akhir 1990-an, ia aktif menulis dan memberikan analisis mengenai:

  • Pemilihan umum
  • Strategi kampanye politik
  • Perilaku pemilih
  • Dinamika pemerintahan

Ia juga sempat menjadi pembawa acara dalam program diskusi politik di televisi, yang semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu analis politik terkemuka di Indonesia.

Masuk ke Lingkaran Pemerintahan

Karier Qodari memasuki fase baru ketika ia bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo.

Ia pertama kali dilantik sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan pada 21 Oktober 2024 di Istana Negara.

Kemudian, pada 17 September 2025, ia dipercaya menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP), menggantikan pejabat sebelumnya.

Sebagai Kepala KSP, Qodari memiliki peran penting dalam:

  • Mengawal program prioritas nasional
  • Mengelola komunikasi politik pemerintah
  • Memantau isu strategis nasional

Posisi ini membuatnya semakin dekat dengan pusat pengambilan keputusan di pemerintahan.

Kini Menjadi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah

Dalam reshuffle terbaru, Qodari mendapatkan amanah baru sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), menggantikan pejabat sebelumnya.

Peran ini dinilai sangat krusial, terutama di era digital saat ini di mana arus informasi sangat cepat dan tidak selalu akurat.

Sebagai Kepala Bakom, Qodari diharapkan mampu:

  • Menyederhanakan komunikasi kebijakan pemerintah
  • Meningkatkan transparansi informasi publik
  • Mengelola krisis komunikasi
  • Membangun narasi positif pemerintah

Pengalamannya dalam riset opini publik menjadi nilai tambah besar dalam menjalankan tugas ini.

Pelantikan Muhammad Qodari sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah menjadi bagian penting dari strategi Presiden Prabowo dalam memperkuat kinerja kabinetnya.

Dengan latar belakang sebagai peneliti, analis politik, dan pejabat pemerintahan, Qodari memiliki bekal yang kuat untuk menjalankan peran barunya.

Ke depan, publik akan menantikan bagaimana ia mampu mengelola komunikasi pemerintah di tengah tantangan era digital yang semakin kompleks.