Film, radarbaru.com – Setelah delapan tahun sejak pertama kali memerankan sosok legendaris Suzzanna Martha Frederika van Osch, aktris Luna Maya kini tampil semakin matang dalam film terbaru Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.
Dalam film ketiga dari waralaba reboot Suzzanna ini, penampilan Luna Maya dinilai semakin luwes. Ia tak hanya berhasil menghidupkan karakter ikonik tersebut, tetapi juga mampu beradaptasi dengan penggunaan prostetik tebal yang sebelumnya menjadi tantangan besar.
Tak hanya dari sisi akting, kualitas film ini juga disebut mengalami peningkatan signifikan dibanding dua film sebelumnya. Produksi kali ini terasa lebih matang, baik dari segi naskah, penyutradaraan, hingga tata visual.
Keputusan produser Sunil Soraya menggandeng Jujur Prananto sebagai penulis naskah dinilai tepat. Sementara itu, kursi sutradara dipercayakan kepada Azhar Kinoi Lubis dengan dukungan penulisan skenario oleh Sunil Soraya bersama Ferry Lesmana.
Hasilnya, film ini terasa lebih “niat” dan mulai menemukan formula yang pas dalam mengolah cerita horor khas Suzzanna. Nuansa klasik yang menjadi ciri khas film-film Suzzanna era 1980-an pun berhasil dihidupkan kembali.
Naskah garapan Jujur Prananto dinilai setia pada pakem horor klasik. Film ini mengedepankan pesan moral, tokoh heroik, serta pola cerita yang menegaskan bahwa kebenaran akan menang atas kejahatan.
Alih-alih mengandalkan jumpscare berlebihan atau adegan penuh darah, film ini lebih menitikberatkan pada atmosfer dan kekuatan cerita. Pendekatan tersebut menghadirkan pengalaman horor yang lebih natural dan berlapis.
Dari sisi teknis, film ini juga mendapat apresiasi. Sinematografi yang digarap oleh Rahmat Syaiful mampu menghadirkan visual yang suram namun tetap jelas dan nyaman ditonton.
Didukung oleh pengarah seni Rico Marpaung dan T. Moty D. Setyanto, desain produksi film ini terasa detail dan autentik. Lokasi yang dipilih juga memperkuat suasana, mulai dari desa, sungai alami, hingga bar dangdut lawas yang memperkaya latar cerita.
Menariknya, film ini membuktikan bahwa horor tidak harus identik dengan visual gelap ekstrem yang menyulitkan penonton. Pencahayaan yang seimbang justru membuat setiap adegan lebih efektif dalam membangun ketegangan.
Meski mengalami banyak peningkatan, film ini belum sepenuhnya sempurna. Naskah dinilai masih bisa dipadatkan karena durasi yang cukup panjang. Selain itu, eksplorasi dunia santet dinilai belum digali secara maksimal.
Beberapa adegan, seperti bagian di gua dengan kemunculan makhluk halus, sebenarnya berhasil menciptakan suasana mencekam. Namun, konsistensi dalam membangun teror tersebut belum terjaga hingga akhir film.
Alur misteri yang melibatkan karakter yang diperankan Reza Rahadian juga dianggap terlalu mudah ditebak. Padahal, dengan kemampuan aktingnya, ruang eksplorasi emosional dan dramatik masih bisa dikembangkan lebih dalam.
Secara keseluruhan, film ini terasa sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan horor klasik Suzzanna. Hal tersebut terlihat dari pendekatan cerita hingga kehadiran elemen-elemen khas yang mengingatkan pada film-film lawasnya.
Namun di sisi lain, muncul harapan agar waralaba ini berani menghadirkan pembaruan cerita. Dengan karisma besar sosok Suzzanna, potensi untuk menjangkau generasi baru penonton Indonesia masih sangat terbuka.
Jika ke depan mampu menyeimbangkan unsur nostalgia dan inovasi, bukan tidak mungkin waralaba ini akan semakin kuat dan relevan di tengah industri film horor modern.




