Penulis: Ihsan Fauzi*
Gelombang tenaga kerja baru sudah tiba di depan pintu kantor. Rata-rata dari mereka adalah Generasi Z. Anak-anak muda yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 ini membawa keahlian digital yang mumpuni, tetapi mereka juga membawa satu paket tuntutan yang membingungkan banyak manajer lama, yaitu prioritas kesehatan mental.

Fenomena ini menjadi sorotan serius dalam diskusi akademik, termasuk di lingkungan Pascasarjana Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Pergeseran budaya kerja ini bukan cuma terjadi di perusahaan rintisan Jakarta. Gelombang ini mulai terasa di berbagai sektor industri di daerah.

Kita sering mendengar keluhan dari para atasan. Mereka bilang anak muda sekarang “lembek” atau susah diatur. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Gen Z tumbuh di zaman yang penuh tekanan informasi. Mereka melihat dunia kerja dengan cara berbeda dari Generasi X atau Milenial. Bagi mereka, gaji tinggi tidak ada artinya kalau Kesehatan mental mereka terusik.

Bukan Sekadar Malas

Banyak pimpinan perusahaan salah tangkap soal isu ini. Saat karyawan Gen Z izin karena “burnout” atau kelelahan mental, atasan sering menganggap itu alasan untuk malas-malasan. Padahal, kesadaran mereka tentang kesehatan mental justru tinggi. Mereka berani bicara jujur soal apa yang mereka rasakan.

Sikap terbuka ini justru menjadi tantangan berat bagi divisi Sumber Daya Manusia (SDM). Selama puluhan tahun, manajemen SDM bekerja dengan aturan kaku. Datang jam delapan, pulang jam empat, dan kerjakan apa yang bos suruh tanpa banyak tanya.

Model manajemen militer seperti itu tidak mempan lagi. Gen Z akan memilih keluar daripada bertahan di lingkungan beracun (toxic). Data dari berbagai survei ketenagakerjaan menunjukkan angka pengunduran diri karyawan muda cukup tinggi dalam dua tahun terakhir. Alasan utamanya hampir selalu sama: lingkungan kerja yang tidak mendukung kesejahteraan mental.

Gegar Budaya di Tempat Kerja

Manajer SDM sekarang punya tugas ganda. Mereka harus menjaga produktivitas perusahaan tetap tinggi, tapi juga harus merawat kondisi batin karyawan. Ini tugas sulit. Kesenjangan antargenerasi sering memicu konflik.

Bayangkan situasi ini. Seorang manajer senior mengirim pesan WhatsApp soal pekerjaan pada jam 8 malam. Bagi si manajer, itu hal biasa dan bentuk dedikasi. Bagi staf Gen Z, itu pelanggaran privasi dan gangguan terhadap waktu istirahat.

Gesekan kecil seperti ini lama-lama menumpuk. Karyawan merasa tidak dihargai sebagai manusia. Akibatnya, motivasi turun dan kinerja merosot. Perusahaan akhirnya rugi sendiri karena harus terus-menerus merekrut dan melatih orang baru. Biaya rekrutmen itu mahal.

Menuntut Fleksibilitas, Bukan Hanya Gaji

Jadi apa yang harus tim manajemen lakukan? Jawabannya ada pada adaptasi. Kurikulum dan diskusi di tingkat pascasarjana manajemen kini mulai menekankan pendekatan yang lebih manusiawi.

Perusahaan perlu meninjau ulang kebijakan mereka. Fleksibilitas menjadi kunci. Gen Z menyukai sistem kerja yang menilai hasil, bukan cuma jam kehadiran di kantor. Kalau pekerjaan bisa selesai dari rumah dengan hasil bagus, kenapa harus memaksa mereka duduk di kantor seharian?

Selain itu, saluran komunikasi harus berubah. Pola komunikasi satu arah dari atas ke bawah sudah kuno. Perusahaan perlu membangun ruang aman bagi karyawan untuk bicara. Manajer harus belajar mendengar tanpa langsung menghakimi.

Peran Baru Divisi HRD

Divisi SDM atau HRD tidak bisa lagi hanya mengurus administrasi, slip gaji, dan jatah cuti. Mereka harus bertransformasi menjadi mitra strategis bagi karyawan.

Program konseling di tempat kerja mulai menjadi kebutuhan. Beberapa perusahaan maju bahkan menyediakan layanan psikolog atau setidaknya pelatihan manajemen stres. Langkah ini terlihat mahal di awal. Tapi dampaknya besar untuk jangka panjang. Karyawan yang sehat secara mental pasti bekerja lebih produktif dan loyal.

Membangun Jembatan

Perubahan ini memang tidak mudah. Para pemilik bisnis di daerah mungkin merasa konsep ini terlalu muluk-muluk. Tapi dunia terus berputar. Tenaga kerja masa depan adalah Gen Z. Suka atau tidak, perusahaanlah yang harus menyesuaikan diri.

Tantangan ini sebenarnya peluang bagus bagi praktisi manajemen SDM untuk berinovasi. Kita tidak sedang memanjakan satu generasi. Kita sedang membangun budaya kerja yang lebih sehat untuk semua orang, termasuk para manajer senior yang mungkin sebenarnya juga butuh istirahat.

Kuncinya ada pada rasa saling mengerti. Gen Z perlu paham bahwa bisnis butuh profit untuk bertahan. Sebaliknya, perusahaan harus paham bahwa karyawan adalah aset manusia, bukan robot. Jika kedua pihak bisa bertemu di tengah, produktivitas dan kesehatan mental bisa berjalan beriringan.

Universitas Muhammadiyah Ponorogo melalui program pascasarjananya terus mendorong riset dan pemikiran kritis soal ini. Tujuannya jelas: mencetak manajer-manajer andal yang siap menghadapi dinamika tenaga kerja modern. Masa depan dunia kerja ada di tangan mereka yang mau beradaptasi, bukan mereka yang bertahan dengan cara lama yang sudah using.

***

*) Penulis saat ini menempuh pendidikan di Pascasarjana Manajemen di Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

**) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi radarbaru.com