Radar Baru, Kolom – Program naturalisasi pemain untuk Tim Nasional Indonesia pertama kali secara terbuka diperkenalkan oleh pelatih kepala Shin Tae-yong, juru taktik asal Korea Selatan yang ditunjuk langsung oleh Mochammad Iriawan—akrab disapa Iwan Bule—saat menjabat sebagai Ketua Umum PSSI periode 2019–2023. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari upaya percepatan peningkatan kualitas Timnas agar mampu bersaing di level internasional.
Sebenarnya, naturalisasi bukan hal baru dalam sejarah sepak bola Indonesia. Jauh sebelum era Shin Tae-yong, beberapa pemain telah lebih dulu memperkuat Timnas melalui jalur ini, salah satunya Cristian Gonzales yang pernah menjadi ujung tombak serangan Garuda. Namun, seiring pesatnya perkembangan sepak bola modern, kebutuhan akan peningkatan kualitas skuad secara lebih signifikan mendorong pelatih untuk memanfaatkan program naturalisasi secara lebih intensif.
Dalam praktiknya, proses naturalisasi tidaklah sederhana karena harus melalui prosedur administratif yang cukup ketat dan terstruktur. Umumnya, pemain yang dinaturalisasi berasal dari tiga kategori utama, yakni:
- pemain keturunan yang memiliki garis darah Indonesia,
- pemain diaspora yang lahir di Indonesia namun besar dan berkembang di luar negeri, serta
- pemain asing yang telah lama berkarier dan menetap di Indonesia.
Konflik dan Kekhawatiran di Tengah Masyarakat
Seiring berjalannya program naturalisasi, perdebatan pun mulai mencuat di kalangan pecinta sepak bola Tanah Air. Sebagian publik menilai terdapat sejumlah aspek penting yang belum sepenuhnya mendapat perhatian, terutama aspek legalitas, kesiapan administrasi, serta dampaknya terhadap keharmonisan ruang ganti pemain.
Kelompok pendukung menilai naturalisasi membawa pengaruh besar terhadap peningkatan kualitas tim, baik dari sisi teknis permainan maupun mental bertanding, sehingga dianggap selaras dengan ambisi PSSI untuk mendongkrak prestasi Timnas di kancah internasional. Di sisi lain, pihak yang menolak beranggapan bahwa dominasi pemain naturalisasi berpotensi mempersempit peluang pemain lokal serta dikhawatirkan melemahkan semangat nasionalisme.
Kritik juga datang dari pengamat sepak bola yang menyoroti beberapa proses naturalisasi yang dinilai berlangsung terlalu cepat demi mengejar target turnamen tertentu. Kurangnya keterbukaan dalam tahapan administrasi dan kesiapan adaptasi pemain pun kerap menjadi sorotan tajam.
Pergantian Kepemimpinan PSSI dan Dampaknya
Peralihan kepemimpinan PSSI dari Iwan Bule kepada Erick Thohir dinilai membawa angin segar bagi tata kelola sepak bola nasional. Dengan pengalaman mengelola klub-klub internasional seperti Inter Milan dan Oxford United, Erick Thohir dianggap memiliki kapasitas manajerial yang mumpuni untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh. Kendati demikian, beban tanggung jawab yang diemban tetap terbilang berat, mengingat kompleksitas persoalan sepak bola Indonesia.
Peningkatan performa Timnas yang semakin kompetitif di kawasan Asia Tenggara hingga Asia, serta membaiknya kualitas liga domestik, menjadi indikator adanya perkembangan positif. Keberhasilan Timnas Indonesia lolos ke Piala Asia 2023 pun menjadi bukti konkret adanya kemajuan. Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah pihak masih menyimpan keraguan terkait legalitas dan transparansi proses naturalisasi beberapa pemain yang dinilai berlangsung terlalu cepat.
Polemik Pemberhentian Shin Tae-yong
Salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan Timnas Indonesia adalah keberhasilannya melangkah hingga ronde keempat kualifikasi Piala Dunia. Antusiasme publik pun memuncak karena peluang tampil di ajang paling bergengsi dunia tersebut terbuka lebar. Namun, suasana berubah drastis ketika PSSI memutuskan untuk memberhentikan Shin Tae-yong dari jabatannya sebagai pelatih kepala.
Keputusan ini memicu gelombang kritik luas karena Shin dinilai telah memahami karakter tim serta meletakkan fondasi yang kuat bagi regenerasi pemain. Pemecatan tersebut juga memicu evaluasi besar-besaran terhadap kinerja PSSI, termasuk efektivitas dan arah kebijakan program naturalisasi yang selama ini dijalankan. Banyak pihak menilai, jika tidak dikelola dengan cermat, program ini justru berpotensi melahirkan polemik baru di kemudian hari.
Perdebatan mengenai program naturalisasi Timnas Indonesia hingga kini masih terus berlangsung. Di satu sisi, kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan daya saing Timnas di level internasional. Namun di sisi lain, tuntutan akan transparansi, selektivitas, serta keberpihakan terhadap pengembangan pemain lokal juga semakin menguat.
Pada dasarnya, naturalisasi dapat menjadi strategi yang efektif apabila dijalankan dengan perencanaan yang matang, pengawasan yang ketat, serta tujuan jangka panjang yang jelas. Dengan pengelolaan yang tepat, program ini bukan hanya mampu mendongkrak prestasi, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap kemajuan sepak bola Indonesia secara berkelanjutan.
*) Penulis adalah Rishella Ade Amanda, Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang.




