Penulis: Ihsan Fauzi, Bima Thoharoh, Irwan Abadi, Eko Wahyudi

Pembangunan Monumen Reog Ponorogo yang kini memasuki tahap akhir bukan hanya menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat, tetapi juga dinilai sebagai titik penting dalam penciptaan lapangan kerja serta penguatan ekosistem pariwisata di Kabupaten Ponorogo. Proyek berskala besar ini telah memberikan dampak sosial dan ekonomi yang signifikan pada masyarakat lokal.

Kami berempat (Ihsan, Bima, Irwan, dan Eko) mahasiswa S2 Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Ponorogo, melakukan observasi lapangan untuk mengkaji potensi wisata berbasis MSDM (Manajemen Sumber Daya Manusia)

Lonjakan Peluang Kerja Sejak Fase Konstruksi

Pembangunan monumen setinggi 126 meter tersebut menyerap ratusan pekerja sejak fase fondasi hingga pengerjaan struktur atas. Tenaga kerja lokal menjadi mayoritas, mulai dari buruh bangunan, operator alat berat, teknisi listrik, hingga penyedia jasa logistik.

“Kita melihat setidaknya tiga gelombang penyerapan tenaga kerja dalam proyek ini: konstruksi fisik, pengadaan material lokal, serta penyediaan layanan pendukung,” tulis tim peneliti.

Tak hanya itu, efek domino pada usaha kecil menengah (UMKM) juga terlihat jelas. Para pemasok pasir, batu, makanan harian pekerja, serta penyedia jasa kebersihan mendapatkan order rutin selama proses pembangunan.

Ekosistem Pariwisata Baru Mulai Terbentuk

Monumen Reog diproyeksikan menjadi pusat edukasi budaya sekaligus destinasi wisata skala nasional. Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah menata kawasan sekelilingnya melalui pengadaan jalan lingkungan, drainase, fasilitas air bersih, hingga area pemberdayaan UMKM.

Kawasan permukiman warga khususnya di radius 500–800 meter dari monumen kini bersolek menjadi zona wisata pendukung. Dengan adanya infrastruktur ini, geliat pariwisata diperkirakan akan mendorong terciptanya rantai ekonomi baru bagi masyarakat.

“Ekosistem pariwisata terbentuk ketika masyarakat menjadi bagian dari aktivitas wisata. Bukan sekadar penonton, tetapi aktor penggerak,” tulis laporan tersebut.

Peluang Besar bagi PKL dan UMKM Lokal

Salah satu kelompok masyarakat yang paling merasakan dampak awal adalah pedagang kaki lima (PKL). Dengan meningkatnya lalu lintas pekerja dan wisatawan, banyak PKL mulai membuka lapak makanan, minuman, dan suvenir khas Reog.

Beberapa pedagang mengaku pendapatan mereka naik sejak proyek dimulai karena meningkatnya jumlah orang yang bekerja atau melintas di kawasan itu. Tim peneliti menilai fenomena ini sebagai awal dari kemandirian ekonomi baru masyarakat.

“Jika pola ini berlanjut setelah monumen resmi dibuka, PKL berpotensi menjadi tulang punggung ekonomi wisata,” terang tim penyusun.

Pemberdayaan Seniman Reog dan SDM Budaya

Selain sektor ekonomi, Monumen Reog juga membuka ruang bagi seniman lokal: pembuat topeng, pemahat singa barong, penari, pengrawit, hingga komunitas seni. Dengan adanya museum, area pertunjukan, dan ruang pamer, diproyeksikan akan lahir lebih banyak kegiatan edukasi budaya.

Potensi ini membuat sektor ekonomi kreatif menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari keberadaan monumen tersebut.

Kontribusi Strategis pada PDRB Kabupaten

Kajian juga menyoroti analisis pemerintah pusat yang menyatakan bahwa Monumen Reog berpeluang menyumbang hingga 50% PDRB Ponorogo melalui sektor pariwisata budaya, ekonomi kreatif, dan layanan pendukung.

Jika ekosistem wisata benar-benar berjalan optimal, Ponorogo berpeluang memasuki era baru pembangunan berbasis budaya.

Kesimpulan

Pembangunan Monumen Reog Ponorogo bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi transformasi sosial-ekonomi yang menyentuh banyak lapisan masyarakat. Tenaga kerja lokal mendapatkan peluang kerja baru, sektor UMKM dan PKL mulai berkembang, dan komunitas budaya memperoleh ruang berekspresi lebih besar.

Kami menyimpulkan bahwa monumen ini dapat menjadi pengungkit ekonomi baru Ponorogo asalkan diikuti dengan pengelolaan wisata yang strategis, tata ruang yang tertib, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.