Yogyakarta, radarbaru.com – Semangat berbagi, belajar, dan bertumbuh bersama terasa hangat dalam kegiatan belajar bersama ekstrakurikuler jurnalistik antara SMA Kolese De Britto dan SMA Santa Maria Yogyakarta pada Rabu, 11 Februari 2026. Mengusung tema “Aksi Kolaboratif”, kegiatan yang berlangsung pukul 15.00–17.00 WIB ini menjadi ruang perjumpaan yang tidak hanya melatih keterampilan jurnalistik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kolaborasi dalam dunia literasi dan komunikasi di era modern.

Sebanyak 18 murid terlibat aktif dalam kegiatan ini, terdiri dari 10 murid Santa Maria dan 8 murid De Britto. Mereka didampingi oleh dua guru pendamping, yakni Bapak Prima dari De Britto dan Ibu Galuh dari Santa Maria. Pertemuan ini bukan sekadar agenda belajar biasa, melainkan perwujudan nyata gerakan 3B SMA Kolese De Britto (Berkolaborasi, Berkontribusi, dan Berprestasi) yang dihidupi sebagai semangat berbagi praktik baik antar sekolah dalam membangun generasi muda yang cakap dalam bidang jurnalistik.

Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan yang hangat dan dilanjutkan dengan ice breaking yang mencairkan suasana. Tawa dan interaksi spontan menjadi awal yang baik untuk membangun kedekatan antarmurid dari dua sekolah menengah atas yang homogen ini. Dari suasana yang cair ini, perlahan tumbuh rasa percaya diri dan keterbukaan untuk saling belajar.

Selanjutnya, para murid dibagi ke dalam kelompok campuran yang terdiri dari perwakilan kedua sekolah. Dalam kelompok-kelompok kecil ini, mereka mendapatkan tantangan untuk merancang ide liputan berita bersama. Proses dimulai dari menentukan sudut pandang, menyusun pertanyaan wawancara, hingga merancang kerangka tulisan berita yang sistematis. Dinamika diskusi berlangsung hidup; setiap murid membawa perspektif, gaya berpikir, dan pengalaman yang berbeda.

Melalui proses kolaboratif tersebut, para murid tidak hanya berlatih keterampilan teknis jurnalistik seperti menentukan lead, menyusun kutipan yang kuat, dan membangun alur berita yang logis, tetapi juga belajar mendengarkan dengan empati, menghargai perbedaan gagasan, serta mengolah keragaman menjadi kekuatan bersama. Perjumpaan lintas sekolah ini menjadi latihan nyata bahwa jurnalisme bukan sekadar produk tulisan, melainkan proses dialog yang kaya makna.

Dalam sesi refleksi, Bapak Prima menegaskan bahwa kolaborasi merupakan kunci penting dalam dunia jurnalistik masa kini. Ia menyampaikan bahwa seorang jurnalis tidak bekerja dalam ruang hampa, melainkan selalu berhadapan dengan realitas yang kompleks dan membutuhkan sudut pandang yang beragam. “Jurnalisme bukan hanya soal menulis, tetapi juga tentang kemampuan bekerja sama, membaca realitas bersama, dan menyuarakan kebenaran secara bertanggung jawab,” ungkapnya dengan penuh penekanan.

Kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik
Kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. (Foto: Dok/Ist).

Kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik (sumber : dok sekolah)

Senada dengan hal tersebut, Ibu Galuh menekankan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran yang autentik bagi murid. Menurutnya, proses belajar yang melibatkan perjumpaan langsung jauh lebih bermakna dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat teoritis. “Melalui perjumpaan seperti ini, murid tidak hanya mengasah kemampuan menulis, tetapi juga mengembangkan empati, komunikasi, dan keberanian dalam menyampaikan gagasan,” ujarnya.

Menjelang akhir kegiatan, setiap kelompok mempresentasikan rancangan liputan berita yang telah mereka susun. Beragam ide segar dan kontekstual pun muncul, mulai dari isu pendidikan ramah anak, kreativitas generasi muda di sekolah, hingga dinamika kehidupan pelajar di tengah perkembangan zaman. Sesi presentasi ini menjadi ruang reflektif yang memperkaya perspektif, karena setiap kelompok saling memberikan masukan yang membangun.

Lebih dari sekadar latihan jurnalistik, kegiatan ini menjadi cermin bahwa kolaborasi mampu melahirkan karya yang lebih mendalam dan bermakna. Murid belajar bahwa tulisan yang baik lahir dari kepekaan, dialog, dan kerja tim yang solid. Semangat “aksi kolaboratif” yang terbangun tidak hanya memperkuat kompetensi literasi, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan dan saling menghargai.

Diharapkan, kegiatan belajar bersama ini menjadi awal dari kerja sama berkelanjutan antara kedua sekolah, khususnya dalam bidang jurnalistik dan literasi. Di tengah dunia yang semakin terhubung, kolaborasi lintas komunitas pendidikan menjadi langkah strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga reflektif, komunikatif, dan peka terhadap realitas sosial. Dengan demikian, jurnalisme pelajar tidak hanya menjadi ruang berkarya, tetapi juga sarana pembentukan karakter yang berorientasi pada kebenaran, tanggung jawab, dan dampak positif bagi masyarakat.

* Prima Ibnu Wijaya, S.Pd (Guru SMA Kolese De Britto pendamping Jurnalistik)