Matahari baru saja tergelincir ke arah barat saat saya bersama delapan kawan lainnya melangkah memasuki gerbang Pondok Pesantren Al-Muhajirun As-Salafi Al-Kholili. Suasana selepas zuhur itu membawa ketenangan yang khas; deru napas santri yang mengaji dan aroma pengabdian yang kental di udara. Kedatangan kami siang itu punya satu tujuan sederhana namun mendalam: sowan, menimba setetes ilmu, dan menjemput berkah (tabarrukan) dari Lora Ismael Al-Kholilie.
Di kalangan santri, sosok Lora Ismael dikenal bukan hanya karena garis keturunannya, melainkan karena kemampuannya membedah tradisi pesantren dengan kacamata yang relevan bagi generasi hari ini. Bertemu beliau selalu terasa seperti menemukan oase di tengah gersangnya arus informasi yang seringkali membingungkan arah kompas moral kita.
Dalam pertemuan yang hangat itu, ada satu pesan beliau yang menghujam jantung pembicaraan. Sebuah “titipan” yang tidak hanya untuk kami yang hadir di sana, tapi juga bagi masyarakat luas: jangan pernah menjadi Imma’ah.
Melampaui Sekadar FOMO
Lora Ismael kemudian menyitir sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Beliau menjelaskan dengan penuh ketelatenan:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَا تَظْلِمُوا
“Janganlah kalian menjadi orang yang suka ikut-ikutan (imma’ah), yang berkata: ‘Jika orang-orang baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zalim, maka kami juga akan berbuat zalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zalim.”
Dengan bahasa yang lugas, Lora Ismael menyebut bahwa Imma’ah adalah manifestasi klasik dari apa yang hari ini kita kenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out). Sebuah ketakutan akan ketinggalan zaman atau merasa asing jika tidak mengekor pada tren mayoritas, meski tren tersebut menjauhkan kita dari prinsip kebenaran.
Menanam Akar di Tengah Badai
Nasihat itu terasa begitu mendesak di era digital ini. Menjadi Imma’ah berarti membiarkan kendali diri kita dipegang oleh “apa kata orang” atau “apa yang sedang viral”. Lora Ismael mengajak kita untuk beralih dari sekadar mengekor menjadi pribadi yang punya prinsip mandiri (Watthinu anfusakum).
Esensi dari pesan beliau adalah tentang kedaulatan hati. Jika dunia sedang bergerak menuju kebaikan, tentu kita harus ada di barisan depan. Namun, jika lingkungan sekitar mulai memaklumi kezaliman, seorang santri tidak boleh larut. Kita tidak boleh menjadi cermin yang hanya memantulkan apa pun di depannya, melainkan harus menjadi lentera yang tetap berpijar meski kegelapan sedang menjadi tren.
Sore itu, kami pulang membawa lebih dari sekadar dukungan doa. Kami pulang dengan sebuah pengingat bahwa menjadi hamba yang merdeka adalah dengan tidak membiarkan diri kita hanyut dalam arus ikut-ikutan. Di bawah asuhan para guru seperti Lora Ismael, kami diajak untuk terus berdiri tegak di atas prinsip, meski sendirian. (Ahmad Husnul Yakin)




