Radar Baru, Kolom – Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “trauma” semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, khususnya di kalangan Generasi Z. Istilah ini tidak lagi terbatas pada konteks klinis atau psikologis yang merujuk pada pengalaman peristiwa yang mengancam keselamatan atau melukai secara mendalam, tetapi juga kerap digunakan untuk menggambarkan pengalaman yang relatif ringan, seperti rasa malu, kegagalan kecil, atau situasi sosial yang menimbulkan ketidaknyamanan.

Fenomena ini memunculkan beragam pandangan. Di satu sisi, meluasnya penggunaan istilah “trauma” dapat dilihat sebagai indikasi meningkatnya kesadaran Generasi Z terhadap kesehatan mental, sekaligus menunjukkan kemampuan mereka dalam mengenali dan mengekspresikan kondisi emosional. Dibandingkan generasi sebelumnya, Generasi Z cenderung lebih terbuka dalam membicarakan perasaan, tekanan psikologis, dan pengalaman negatif yang mereka alami.

Namun di sisi lain, penggunaan istilah “trauma” yang tidak selalu sesuai dengan makna psikologisnya berpotensi menyederhanakan konsep klinis yang sebenarnya kompleks. Pergeseran makna ini dikhawatirkan dapat mengaburkan pemahaman mengenai trauma yang sesungguhnya, serta memengaruhi cara masyarakat memaknai pengalaman emosional dan kesehatan mental secara umum.

Secara psikologis, trauma bukan sekadar perasaan sedih atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), trauma adalah keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani yang berat. Definisi ini menegaskan bahwa trauma berkaitan dengan dampak psikologis yang serius. Sejalan dengan itu, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) menjelaskan bahwa trauma berkaitan dengan paparan terhadap peristiwa yang melibatkan ancaman nyata terhadap nyawa, cedera serius, atau kekerasan seksual, baik dialami secara langsung, disaksikan, maupun diketahui terjadi pada orang terdekat. Paparan tersebut dapat memunculkan respons stres yang intens dan berlangsung lama. Dengan demikian, trauma merupakan respons yang kompleks terhadap peristiwa ekstrem yang berdampak signifikan secara emosional maupun fisiologis.

Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai makna trauma menjadi hal yang penting, terutama bagi Generasi Z yang aktif menggunakan istilah ini dalam komunikasi sehari-hari. Tanpa pemahaman yang memadai, penggunaan istilah “trauma” secara berlebihan berisiko menimbulkan kesalahpahaman terhadap kondisi psikologis yang sebenarnya serius, serta dapat mengurangi sensitivitas terhadap individu yang benar-benar mengalami pengalaman traumatis. Dengan latar belakang tersebut, diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk memahami bagaimana Generasi Z memaknai istilah “trauma”, serta membedakan antara ekspresi emosional sehari-hari dan trauma dalam pengertian psikologis yang sesungguhnya.

 

*) Penulis adalah Paskalia Revita, Mahasiswi Jurusan Psikologi di Universitas Katolik Musi Charitas.