Bandung, radarbaru.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merespons secara terbuka kritik yang disampaikan komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan stand-up comedy spesialnya bertajuk Mens Rea yang tayang di Netflix. Kritik tersebut menyoroti kecenderungan masyarakat Jawa Barat dalam memilih pemimpin yang populer dan dikenal publik.

Dalam materi komedinya, Pandji menyinggung bahwa warga Jawa Barat kerap menjatuhkan pilihan kepada figur publik atau artis, seperti Deddy Mizwar, Dede Yusuf, hingga Dedi Mulyadi sendiri yang disebut sebagai “artis YouTube”.

Menanggapi hal tersebut, Dedi Mulyadi justru memberikan respons yang terbilang santai dan terbuka. Melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya @dedimulyadi71, Dedi mengaku sebagai penggemar Pandji sekaligus mengapresiasi kritik yang disampaikan.

“Saya yang dianggap gubernur YouTuber, saya tidak boleh memuji diri saya baik atau tidak dalam memimpin. Begini saja, Pandji datang ke Jawa Barat, keliling, lewati jalan-jalan provinsi, kemudian ke berbagai daerah di wilayah Provinsi Jawa Barat,” ujar Dedi, dikutip Minggu (4/1/2026).

Ia pun menantang publik untuk menilai langsung hasil kepemimpinannya di lapangan.

“Saya membangunnya benar atau tidak. Apakah saya hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan. Kita sama-sama lihat bagaimana hasilnya di lapangan,” lanjutnya.

Tak berhenti di situ, Dedi Mulyadi juga menegaskan pentingnya kritik dalam sistem demokrasi. Menurutnya, setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, termasuk dalam bentuk satire politik.

“Terus berkarya melakukan otokritik yang terbuka, karena ini negara demokrasi. Setiap orang berhak menyampaikan pernyataan, pikiran, dan gagasan, termasuk koreksi secara terbuka, apalagi dikemas secara jenaka,” tambahnya.

Sebagai informasi, Mens Rea merupakan komedi spesial ke-10 Pandji Pragiwaksono yang mengangkat tema budaya hukum di Indonesia serta berbagai keabsurdan dalam kehidupan sosial dan politik Tanah Air. Dalam salah satu segmennya, Pandji menyebut Jawa Barat sebagai “masalah terbesar di Indonesia” karena kecenderungan masyarakatnya memilih pemimpin berdasarkan popularitas.

“Orang Sunda senang memilih artis. Gubernur mereka waktu itu artis film, Deddy Mizwar, wakilnya Dede Yusuf. Sekarang gubernurnya Dedi Mulyadi, artis YouTube,” ujar Pandji dalam pertunjukan tersebut.

Respons terbuka Dedi Mulyadi ini pun menuai perhatian publik karena dinilai dewasa dan mencerminkan sikap terbuka terhadap kritik, sekaligus mempertegas bahwa penilaian kinerja pemimpin seharusnya dilihat dari hasil nyata, bukan semata citra popularitas.