Jakarta, 30 Agustus 2025 — Di penghujung bulan kemerdekaan, ketika jalanan kota besar dipenuhi teriakan demonstrasi, poster-poster perlawanan, hingga asap gas air mata, sebuah demonstrasi lain lahir dengan cara yang berbeda. Bukan di jalan, melainkan di ruang kelas.
TAPSSAM (The Art of Public Speaking & Storytelling with Acting Method) memilih jalannya sendiri: berdemo dengan ilmu, seni, dan pendidikan.
Berlokasi di MI Al Jihad Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, TAPSSAM menggelar Workshop Public Speaking & Storytelling with Acting Method khusus untuk para guru Sekolah Dasar. Kegiatan yang berlangsung Sabtu (30/8), pukul 08.00–12.00 WIB itu dihadiri puluhan guru dan menghadirkan suasana belajar yang intens. Bukan sekadar materi teknis, melainkan pengalaman yang mengguncang kesadaran akan pentingnya ruh seorang pendidik.
Pelatihan Ini Adalah Demonstrasi Kami
Pendiri sekaligus coach TAPSSAM, Rama Sastra Negara, S.Sn., menyebut kegiatan ini sebagai bentuk demonstrasi tanpa kekerasan.
“Pelatihan ini adalah demonstrasi kami. Bukan dengan batu, bukan dengan gas air mata, tapi dengan kata, suara, dan jiwa. Guru adalah garda depan bangsa. Jika mereka bungkam, murid akan tumbuh dalam kebisuan dan kegelapan.
Melalui seni peran, storytelling, dan public speaking, kami ingin guru berani bicara, percaya diri, membangun koneksi emosional, dan menghidupkan pembelajaran yang bermakna. Mengajar adalah jihad. Dan hanya kematian yang bisa menghentikan TAPSSAM,” tegasnya.
Guru Membutuhkan Energi Baru
Kepala MI Al Jihad, Mohamad Ali, M.Pd., menilai pelatihan ini relevan dengan kondisi guru saat ini.
“Guru hari ini sangat membutuhkan metode seperti TAPSSAM. Mereka butuh energi baru, bukan hanya kurikulum di atas kertas. Pendidikan sejati bukan sekadar transfer ilmu, melainkan implementasi kurikulum berbasis cinta dengan pendekatan deep learning.
Workshop ini membuka jalan bagi guru untuk kembali menemukan ruhnya, agar tidak sekadar mengajar, tapi sungguh-sungguh mendidik,” ujarnya.
Seperti Disetrum Jiwa
Salah satu peserta, Tafsir, M.Pd.I., mengaku merasakan dampak langsung dari pelatihan.
“Pelatihan ini seperti menyetrum jiwa saya. Selama ini kami terjebak dalam rutinitas mengajar yang kaku. Materi TAPSSAM tidak hanya memberi teknik berbicara, tapi juga menyadarkan bahwa mengajar adalah seni menyentuh hati.
Saya sadar, setiap kata guru adalah darah kehidupan bagi murid—bisa jadi cahaya penuntun, atau justru kegelapan yang menyesatkan. TAPSSAM membuat kami memilih untuk menjadi cahaya,” ucapnya penuh haru.
Strategi, Suara, dan Ekspresi
Bukan hanya Rama yang berbicara lantang. Tim TAPSSAM ikut mengobarkan semangat.
Faiz A Jaya, S.I.Kom – Associate Coach Strategic Communication Mentor, menekankan pentingnya strategi komunikasi.
“Seorang guru tidak hanya dituntut menyampaikan ilmu, tetapi juga harus bisa mengomunikasikan gagasan dengan cara yang tepat. Di TAPSSAM, kami melatih Vocal Presence agar suara guru hidup dan mampu membawa pesan secara efektif. Kami juga membekali mereka dengan powerful storytelling—cerita yang bisa menggugah, menginspirasi, sekaligus menanamkan nilai kehidupan,” jelasnya.
Sementara itu, Hendro Arrad Pullungan – Vocal & Expression Trainer, membawa perspektif lain.
“Suara adalah instrumen utama guru, ekspresi adalah jendela jiwa. Kami melatih Expressive Performance, agar guru bisa menyampaikan materi dengan energi dan ekspresi yang tepat. Melalui Live Teaching Simulation, guru langsung praktik berbicara dan menyalakan kelasnya. Ketika suara dan ekspresi guru hidup, maka kelas pun akan bernyawa,” tegasnya.
Gerakan Panjang TAPSSAM
Menutup kegiatan, Rama kembali menegaskan bahwa TAPSSAM bukan sekadar pelatihan sekali jalan, melainkan sebuah gerakan yang akan terus berkembang.
“TAPSSAM tidak akan berhenti di Papanggo. Kami akan terus bergerak, menjalar seperti darah para pahlawan yang menetes demi bangsa ini. Dari sekolah-sekolah kecil di pelosok hingga gedung-gedung besar di kota metropolitan, kami akan masuk.
Kami akan menginstal dan mengaktivasi guru-guru Nusantara. Karena kami percaya, kemerdekaan sejati bangsa ini lahir dari guru yang merdeka mengajar dan murid yang merdeka belajar.
Ini perjuangan kami. Dan hanya maut yang bisa menghentikan TAPSSAM.”
Informasi Pelatihan dan Kerjasama: tapssamindonesia@gmail.com