Radar Baru, Kota Batu– Pemerintah Kota Batu terus memperkuat sektor pariwisata berbasis pertanian (agrowisata) di tengah keterbatasan lahan. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan pelatihan keberlanjutan bagi pengelola Desa Wisata Bumiaji yang digelar di Purnama Hotel, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 pelaku dan pengelola agro wisata dari Kecamatan Bumiaji. Pelatihan diinisiasi oleh Anggota DPRD Komisi A Kota Batu, H. Nurudin Muhammad Hanifah, S.P., sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dalam mengoptimalkan potensi lokal secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Nurudin menegaskan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi Kota Batu untuk tetap mempertahankan citra sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan.
“Pelatihan ini penting agar para pelaku agro wisata mampu memaksimalkan potensi yang ada, sehingga citra Kota Batu sebagai kota wisata berkelanjutan tetap terjaga, khususnya di wilayah Bumiaji,” ujarnya.
Penguatan Pelayanan Prima Berbasis Budaya Lokal
Materi pertama disampaikan oleh Candra Savitri Devi dari Humas Dinas Pariwisata dengan tema “Pelayanan Prima Budaya Terjaga”. Ia menekankan bahwa pelayanan berkualitas tinggi (excellent service) tidak hanya berorientasi pada kenyamanan wisatawan, tetapi juga harus mampu memperkuat identitas budaya lokal.
Menurutnya, terdapat lima pilar utama dalam pelayanan prima yang harus diterapkan oleh pengelola desa wisata, yakni:
- Sikap: Ramah, sopan, dan menerapkan prinsip 3S (Senyum, Salam, Sapa).
- Perhatian: Responsif terhadap kebutuhan, keamanan, dan kenyamanan pengunjung.
- Tindakan: Memberikan solusi secara cepat dan tepat.
- Kemampuan: Menguasai informasi terkait sejarah dan budaya lokal.
- Penampilan: Menjaga kerapihan diri serta kebersihan lingkungan.
Selain itu, peserta juga dibekali teknik public speaking untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan wisatawan. Aspek yang ditekankan meliputi kejelasan suara, artikulasi, pengaturan tempo, ekspresi wajah, serta kontak mata guna membangun koneksi yang efektif.
Candra juga mengingatkan pentingnya menghindari gestur negatif seperti minim kontak mata, postur tubuh tidak percaya diri, hingga ekspresi wajah yang datar. Hal ini dinilai dapat memengaruhi persepsi wisatawan terhadap kualitas layanan.
Tak kalah penting, pengelola desa wisata diimbau untuk konsisten menerapkan tujuh unsur Sapta Pesona, yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan yang berkesan.
“Desa wisata bukan sekadar tempat berkunjung, melainkan ruang belajar tentang kehidupan,” tegasnya.
Strategi Pengembangan Agro Wisata Berkelanjutan
Pada sesi kedua, Muchamad Chaerul Kristiyono, S.Si., M.Si., memaparkan strategi pengembangan agro wisata berbasis potensi lokal. Ia menyoroti komoditas unggulan seperti jeruk dan stroberi sebagai aset yang harus dikelola secara profesional dan berkelanjutan.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat berperan sebagai tuan rumah yang menyambut wisatawan, menghadirkan pengalaman budaya autentik, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Agrowisata sendiri merupakan bentuk pariwisata yang mengintegrasikan aktivitas pertanian dengan rekreasi dan edukasi. Kegiatan yang ditawarkan antara lain wisata petik buah, edukasi pertanian, hingga pengenalan peternakan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa agrowisata memiliki berbagai manfaat, di antaranya:
- Melestarikan lingkungan dan sumber daya alam
- Memberikan edukasi pertanian kepada masyarakat
- Menjadi alternatif rekreasi berbasis edukatif
- Meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat lokal
Untuk mendorong kemajuan sektor ini, sejumlah langkah strategis turut dibahas, seperti peningkatan kapasitas manajemen, inovasi program edukasi pertanian terpadu, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi wisata.
Dorong Kolaborasi untuk Kesejahteraan Bersama
Kegiatan yang dipandu oleh Agung Pribadi ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dalam mengembangkan sektor agro wisata di Kota Batu.
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan Desa Wisata Bumiaji dapat menjadi model pengembangan pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga pada pelestarian budaya dan lingkungan.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Kota Batu dalam menghadapi tantangan sektor pariwisata ke depan, dengan mengedepankan inovasi, kualitas layanan, serta kearifan lokal sebagai daya tarik utama.
- Penulis adalah Ezra Alfa Manuella dan Moh. Dani Daffa Fahruddin, Mahasiswa Jurusan Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Negeri Malang.




