Radar Baru, Yogyakarta – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 mendatang, kebutuhan akan kepemimpinan yang berintegritas dan moderat kembali mengemuka. Di tengah dinamika sosial, globalisasi nilai, digitalisasi dakwah, serta meningkatnya kompleksitas persoalan keumatan dan kebangsaan, NU dituntut tetap hadir sebagai penuntun moral, penjaga tradisi keulamaan, dan perekat persatuan bangsa. Dalam konteks tersebut, Jaringan Kyai Santri Nasional (JKSN) Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan komitmennya pada kepemimpinan NU yang berintegritas dan moderat melalui dukungan terhadap KH. Asep Saifuddin Chalim.
JKSN DIY menilai bahwa posisi Rois ‘Am bukan sekadar jabatan struktural, melainkan amanah keulamaan yang menentukan arah jam’iyyah. Rois ‘Am memegang peran strategis sebagai penjaga khittah perjuangan, penguat konsensus ulama, serta rujukan moral bagi warga nahdliyin. Oleh karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus ditopang oleh integritas pribadi, keteguhan prinsip, dan sikap moderat yang menenteramkan.
Menurut Ketua JKSN DIY, Rofiq Anwar, NU saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Perubahan sosial yang cepat, derasnya arus informasi, serta munculnya narasi keagamaan yang ekstrem menuntut NU untuk tampil lebih adaptif tanpa kehilangan jati diri. Dalam situasi demikian, moderasi Islam yang menjadi ciri khas NU harus dijaga secara konsisten. Moderasi tidak dimaknai sebagai kompromi terhadap prinsip, melainkan sebagai sikap keagamaan yang tegas dalam akidah, arif dalam pendekatan, dan inklusif dalam relasi sosial.
Di sisi internal, NU juga dihadapkan pada kebutuhan untuk memperkuat tata kelola kelembagaan dan merawat persatuan warga jam’iyyah. Perbedaan pandangan yang wajar dalam organisasi besar seperti NU memerlukan kepemimpinan yang mampu meredam friksi dan memperkuat rasa saling percaya. JKSN DIY menegaskan bahwa integritas pimpinan tertinggi menjadi kunci dalam menjaga kehormatan organisasi dan marwah keulamaan NU di mata umat.
Dalam kerangka itulah, JKSN DIY memandang Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim sebagai figur yang merepresentasikan kepemimpinan berintegritas dan moderat. Rekam jejak beliau dalam dunia pesantren, pendidikan, dan organisasi ke-NU-an menunjukkan komitmen yang konsisten terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Penguasaan khazanah keilmuan Islam dipadukan dengan kemampuan membaca realitas sosial secara arif menjadikan beliau dinilai memiliki otoritas moral dan intelektual yang kuat.
Sebagai pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, KH. Asep dikenal mengembangkan model pendidikan yang menekankan keseimbangan antara pendalaman ilmu agama, pembentukan akhlak, dan penguatan wawasan kebangsaan. Santri tidak hanya dibekali kemampuan keilmuan, tetapi juga didorong memiliki sikap moderat, toleran, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa. JKSN DIY menilai, pengalaman kepesantrenan ini menjadi modal penting dalam menjaga NU tetap berakar pada tradisi, sekaligus relevan menghadapi tantangan zaman.
Selain itu, kiprah KH. Asep dalam penguatan organisasi guru NU melalui Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) dipandang sebagai kontribusi strategis dalam memperkuat ekosistem pendidikan NU. Pendidikan yang berintegritas dan berlandaskan nilai moderasi Islam dinilai sebagai benteng utama dalam menjaga arah keulamaan NU di tengah arus globalisasi dan polarisasi sosial.
Dari sisi kebangsaan, JKSN DIY menegaskan bahwa kepemimpinan berintegritas dan moderat sangat dibutuhkan agar NU tetap memainkan peran strategisnya sebagai perekat umat dan bangsa. Tradisi NU sejak awal berdiri telah menempatkan keulamaan dan kebangsaan sebagai dua pilar yang saling menguatkan. Kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan tersebut dipandang penting untuk memastikan NU tetap dipercaya publik sebagai penjaga harmoni sosial dan stabilitas nasional.
JKSN DIY menegaskan bahwa dukungan terhadap Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim merupakan bagian dari ikhtiar kolektif untuk menghadirkan kepemimpinan NU yang berintegritas, moderat, dan berwibawa secara keulamaan. Dukungan ini didasarkan pada pertimbangan keumatan dan tanggung jawab moral untuk menjaga marwah NU di tengah perubahan zaman.
Dengan kepemimpinan yang berintegritas dan moderat, JKSN DIY meyakini Nahdlatul Ulama akan semakin kokoh dalam tradisi, relevan dalam peran sosial, dan kuat dalam kontribusi kebangsaan. Menuju Muktamar NU, komitmen pada kepemimpinan yang tepat dinilai menjadi kunci agar NU tetap menjadi rumah besar ulama dan umat, serta penopang utama moderasi Islam di Indonesia.




