Yogyakarta, radarbaru.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kerap membuat budaya menulis semakin terpinggirkan, kami sekelompok murid SMA Kolese De Britto Yogyakarta justru memilih jalan yang berbeda. Kami berkumpul setiap pekan untuk berdiskusi, meliput peristiwa, dan menuliskan fakta dengan jujur. Kami adalah anggota ekstrakurikuler Jurnalistik yang dikenal dengan sebutan “Jurnalis Macan.”
Ekstrakurikuler Jurnalistik di SMA Kolese De Britto berdiri pada tahun 2018 sebagai ruang belajar bagi murid yang memiliki minat dalam dunia penulisan dan pemberitaan. Sejak awal, kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat belajar menulis, tetapi juga menjadi sarana bagi kami untuk berani menyampaikan gagasan serta merekam berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungan sekolah.
Pada tahun ajaran 2025/2026, ekstrakurikuler ini dibimbing oleh Prima Ibnu Wijaya, S.Pd., guru Bahasa Indonesia di SMA Kolese De Britto. Saat ini, kami beranggotakan tujuh murid dari kelas X dan XI. Kami bertemu secara rutin setiap hari Rabu pukul 15.00 hingga 16.30 WIB di perpustakaan sekolah.
Bagi kami, pertemuan tersebut bukan sekadar kegiatan belajar menulis. Di sana kami berdiskusi, merancang liputan berita, mengembangkan opini, serta merencanakan berbagai konten yang akan dipublikasikan. Perpustakaan menjadi ruang belajar sekaligus ruang bertumbuh bagi kami untuk memahami dunia jurnalistik.
Dalam setiap pertemuan, kami mempelajari teknik dasar jurnalistik, mulai dari menulis berita, melakukan wawancara, hingga memahami bagaimana menyampaikan informasi secara objektif dan bertanggung jawab. Dari proses itu, kami belajar bahwa jurnalistik bukan sekadar kegiatan menulis, tetapi juga proses mencari kebenaran dan menyampaikan fakta kepada publik.
Hasil dari proses belajar tersebut mulai terlihat. Kami telah menghasilkan beberapa karya berupa liputan berita yang dipublikasikan melalui media sosial sekolah, tulisan opini di laman digital sekolah, serta dokumentasi kegiatan yang dilengkapi dengan foto jurnalistik.
Pengalaman belajar kami tidak hanya berlangsung di dalam perpustakaan. Kami juga mendapat kesempatan belajar langsung di lapangan melalui berbagai kunjungan edukatif, seperti belajar penyiaran di Jogja Belajar Radio serta melakukan kunjungan dan peliputan ke SMA Santa Maria Yogyakarta. Dari kegiatan tersebut, kami memperoleh pengalaman nyata tentang bagaimana proses jurnalistik dilakukan secara profesional.
Selain itu, kami juga didorong untuk mengikuti berbagai lomba kepenulisan, termasuk ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Dukungan dari pembina membuat kami semakin percaya diri untuk terus mengembangkan kemampuan literasi yang kami miliki.
Di sebagian sekolah, jurnalistik sering kali dianggap sebagai ekstrakurikuler yang membosankan karena identik dengan kegiatan menulis. Namun bagi kami, pandangan tersebut justru menjadi tantangan. Kami melihat jurnalistik sebagai ruang kebebasan untuk berpikir, bertanya, dan menyampaikan gagasan.

Dalam dunia jurnalistik, tulisan memang menjadi “senjata utama”. Namun lebih dari itu, jurnalistik adalah seni mengungkap fakta dan memahami realitas. Kami belajar bahwa setiap berita bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menyampaikan kebenaran.
Semangat ini sejalan dengan nilai pendidikan di SMA Kolese De Britto yang menekankan prinsip cura personalis, yaitu perhatian terhadap perkembangan pribadi setiap murid. Melalui jurnalistik, kami tidak hanya dilatih menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis, berkomunikasi, bersosialisasi, serta berani berbicara di depan publik.
Di era ketika banyak orang lebih memilih komunikasi instan melalui layar ponsel, keberadaan Jurnalis Macan menjadi pengingat bahwa menulis tetap memiliki kekuatan besar. Menulis melatih kepekaan, ketelitian, serta kemampuan berpikir reflektif.
Pembina kami, Pak Ibnu, pernah mengatakan sebuah gagasan sederhana namun mendalam kepada kami, menulis adalah kebebasan. Kebebasan untuk menuangkan gagasan, mengolah perasaan, serta menyampaikan kebenaran melalui berbagai bentuk tulisan, baik berita, feature, maupun refleksi.
Bagi kami, jurnalistik bukan sekadar kegiatan ekstrakurikuler. Jurnalistik adalah ruang belajar untuk mengenali diri, mengasah keberanian, dan menjadi suara yang jujur bagi lingkungan sekitar.
Dari ruang kecil di perpustakaan SMA Kolese De Britto ini, kami para Jurnalis Macan berharap dapat terus menulis. Bukan sekadar merangkai kata, tetapi juga menghadirkan cerita tentang keberanian generasi muda dalam merawat budaya literasi di tengah zaman yang bergerak begitu cepat.
Theopilus Pandu Narotama x7/30, Pijar Sangtimur Wijayanto X8/28, Bumi Praba Murti XI-3/13, dan Teofilus Rajendra Erika Putra/XI7/31 (Tim Ekstrakurikuler Jurnalistik SMA Kolese De Britto Yogyakarta)




