Gus Dur, atau yang dikenal resmi sebagai KH. Abdurrahman Wahid, adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Seorang ulama, pemimpin politik, dan reformis yang terkenal dengan pandangan terbuka dan humanisnya. Ia tidak hanya menjadi presiden keempat Republik Indonesia, tetapi juga sosok yang memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan pendidikan pesantren, menjaga pluralisme, serta memperjuangkan hak asasi manusia (HAM). Biografi Gus Dur menggambarkan perjalanan hidup seorang anak kiai yang tumbuh dalam lingkungan pesantren, lalu bertransformasi menjadi tokoh nasional yang dihormati baik di dalam maupun luar negeri.
Lahir pada 7 September 1940 di Jombang, Jawa Timur, Gus Dur adalah putra dari KH. Wahid Hasyim dan Solichah. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, adalah tokoh pergerakan nasional dan mantan Menteri Agama pertama RI. Sementara ibunya, Solichah, adalah putri dari KH. Bisri Syansuri, seorang kyai yang memiliki pengaruh besar dalam dunia pesantren. Latar belakang keluarga ini membuat Gus Dur tumbuh dalam lingkungan yang kental akan nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren. Namun, ia juga dididik untuk memiliki wawasan luas melalui pendidikan non-Islam, seperti membaca koran dan majalah, yang menjadi cikal bakal minatnya terhadap isu sosial dan politik.
Dari usia muda, Gus Dur menunjukkan bakat akademik yang luar biasa. Ia mulai menempuh pendidikan dasar di Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Pendidikannya sempat terhenti karena kematian ayahnya pada tahun 1953, tetapi ia terus melanjutkan studinya di Yogyakarta dan Magelang. Di sana, ia menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun, meskipun seharusnya empat tahun. Ini menunjukkan kemampuan intelektualnya yang luar biasa dan ketekunan dalam belajar.
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Gus Dur memilih untuk melanjutkan studi di luar negeri. Ia mendapat beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana karena kritik terhadap sistem pendidikan dan metode pengajaran yang digunakan. Selanjutnya, ia pindah ke Baghdad, Irak, dan berhasil menyelesaikan studinya di Universitas Baghdad pada tahun 1970. Setelah itu, ia mencoba belajar di Belanda, Jerman, dan Prancis, tetapi akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1971.
Di Indonesia, Gus Dur mulai menunjukkan minatnya terhadap dunia jurnalistik. Ia bergabung dengan LP3ES, sebuah organisasi intelektual muslim progresif, dan menjadi kontributor utama majalah Prisma. Dalam perjalanannya, ia menyaksikan kondisi pesantren yang semakin tertinggal dan nilai-nilai tradisional yang mulai tergerus. Hal ini membuatnya memutuskan untuk fokus pada pengembangan pesantren dan pendidikan. Ia juga aktif dalam berbagai forum diskusi dan seminar, sehingga meningkatkan reputasinya sebagai komentator sosial yang visioner.
Karier politik Gus Dur dimulai pada tahun 1982 ketika ia berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang merupakan gabungan dari partai-partai Islam termasuk NU. Pada masa itu, ia juga terlibat dalam upaya mereformasi NU, yang saat itu dianggap stagnan. Bersama dengan Tim Tujuh, ia membantu menghidupkan kembali NU dengan melakukan perubahan kepemimpinan dan mengadopsi ide-ide modern. Pada Musyawarah Nasional NU 1984, ia terpilih sebagai Ketua PBNU dengan syarat penuh wewenang. Pengangkatannya ini dianggap positif oleh rezim Orde Baru, terutama karena ia menerima Pancasila sebagai ideologi negara.
Sebagai ketua NU, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan mengajak pesantren untuk lebih terbuka terhadap perubahan. Ia juga memperluas wawasan pendidikan pesantren dengan mengintegrasikan kurikulum sekuler. Pada masa jabatan pertamanya, ia berhasil meningkatkan kualitas pendidikan pesantren hingga bisa menyaingi sekolah umum. Ia juga aktif dalam berbagai inisiatif sosial dan politik, termasuk mendirikan Forum Demokrasi untuk memperkuat suara intelektual muslim.
Pada tahun 1998, Gus Dur menjadi tokoh sentral dalam gerakan reformasi yang memicu jatuhnya Soeharto. Ia bersama dengan Megawati dan Amien Rais berusaha menginisiasi Komite Reformasi, meski akhirnya menolak bergabung. Setelah Soeharto lengser, ia dipilih sebagai Presiden keempat RI pada tahun 1999. Sebagai presiden, ia melakukan beberapa reformasi penting, seperti membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, serta memberikan otonomi kepada Aceh. Ia juga menjadi presiden pertama yang mengakui hak-hak minoritas, termasuk orang Tionghoa Indonesia, yang selama Orde Baru mengalami penindasan.
Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai skandal seperti Buloggate dan Bruneigate yang akhirnya menyebabkan pemakzulan pada tahun 2001. Meskipun demikian, kontribusi Gus Dur dalam memperkuat pluralisme dan kebebasan berekspresi tetap diakui secara internasional. Ia menerima banyak penghargaan, termasuk Ramon Magsaysay Award pada tahun 1993, dan gelar “Bapak Tionghoa” dari kalangan Tionghoa di Indonesia.
Gus Dur wafat pada 30 Desember 2009 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif karena penyakit jantung dan ginjal. Ia meninggalkan warisan yang besar dalam bentuk kontribusi untuk pendidikan, kebebasan beragama, dan keberagaman. Kini, nama Gus Dur terus diingat sebagai sosok yang memperjuangkan nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan keadilan di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen.
Awal Kehidupan dan Pendidikan Gus Dur
Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940. Ia adalah putra pertama dari enam bersaudara dari pasangan KH. Wahid Hasyim dan Solichah. Ayahnya, KH. Wahid Hasyim, adalah tokoh pergerakan nasional yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama pertama RI. Sementara ibunya, Solichah, adalah putri dari KH. Bisri Syansuri, seorang kyai yang terkenal dengan pengaruhnya dalam dunia pesantren. Latar belakang keluarga ini memberikan dasar kuat bagi Gus Dur dalam hal nilai-nilai Islam dan tradisi pesantren.
Karena ayahnya sering berkegiatan politik, Gus Dur tumbuh dalam lingkungan yang dinamis. Ia mulai menempuh pendidikan dasar di Jakarta setelah ayahnya ditunjuk sebagai Menteri Agama. Pada masa itu, ia masuk ke SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Selain belajar di sekolah formal, ia juga diajarkan membaca buku non-Islam, majalah, dan koran oleh ayahnya, yang ingin memperluas wawasan dan pemahamannya tentang dunia.
Pada April 1953, ayah Gus Dur meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Kepergian ayahnya menjadi titik balik dalam kehidupan Gus Dur. Ia kemudian pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikannya. Di sana, ia belajar di SMP dan mengaji kepada Ali Maksum, seorang kyai di Pondok Pesantren Krapyak. Setelah lulus SMP, ia pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Di sana, ia menunjukkan bakat akademik yang luar biasa, menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun, meskipun seharusnya empat tahun.
Pada tahun 1959, Gus Dur pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang. Di sana, ia tidak hanya melanjutkan pendidikannya, tetapi juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan kepala madrasah. Selain itu, ia juga bekerja sebagai jurnalis untuk majalah seperti Horizon dan Majalah Budaya Jaya. Aktivitas jurnalistiknya memperluas wawasannya dan memperkuat minatnya terhadap isu-isu sosial dan politik.
Perjalanan Pendidikan di Luar Negeri
Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, Gus Dur memutuskan untuk melanjutkan studi di luar negeri. Pada tahun 1963, ia mendapat beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Ia tiba di Mesir pada November 1963. Meskipun mahir berbahasa Arab, ia diberitahu oleh pihak universitas bahwa ia harus mengambil kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab. Karena tidak mampu memberikan bukti bahwa ia memiliki kemampuan bahasa Arab, Gus Dur terpaksa mengambil kelas remedial.
Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) terjadi saat ia sedang belajar di Mesir. Mayor Jenderal Soeharto menangani situasi di Jakarta dan upaya pemberantasan komunis dilakukan. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintahkan untuk melakukan investigasi terhadap pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka. Perintah ini diberikan pada Gus Dur, yang ditugaskan menulis laporan. Peristiwa ini memberikan pengalaman politik awal bagi Gus Dur, yang mulai menyadari kompleksitas dunia politik.
Setelah beberapa waktu di Mesir, Gus Dur merasa tidak puas dengan metode pendidikan di sana. Ia memutuskan untuk pindah ke Irak dan melanjutkan studinya di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1970. Setelah itu, ia mencoba belajar di Belanda, Jerman, dan Prancis, tetapi akhirnya kembali ke Indonesia pada tahun 1971.
Karier Jurnalistik dan Kiprah dalam Dunia Intelektual
Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur mulai menunjukkan minatnya terhadap dunia jurnalistik. Ia bergabung dengan LP3ES, sebuah organisasi intelektual muslim progresif, dan menjadi kontributor utama majalah Prisma. Dalam perjalanannya, ia menyaksikan kondisi pesantren yang semakin tertinggal dan nilai-nilai tradisional yang mulai tergerus. Hal ini membuatnya memutuskan untuk fokus pada pengembangan pesantren dan pendidikan.
Selain itu, ia juga aktif dalam berbagai forum diskusi dan seminar, sehingga meningkatkan reputasinya sebagai komentator sosial yang visioner. Popularitasnya membuat ia diundang untuk memberikan ceramah dan seminar, sehingga mengharuskannya bolak-balik antara Jakarta dan Jombang, tempat ia tinggal bersama keluarganya.
Pada tahun 1977, Gus Dur bergabung dengan Universitas Hasyim Asyari sebagai Dekan Fakultas Akidah dan Pengamalan Islam. Sekali lagi, ia unggul dalam pekerjaannya dan universitas ingin dia mengajar mata pelajaran tambahan seperti pedagogi, syariah, dan misiologi. Namun, keunggulannya menimbulkan kebencian dari kalangan universitas dan dia dilarang mengajar mata pelajaran tersebut. Saat melakukan semua usaha ini, ia juga secara rutin menyampaikan pidato selama Ramadan kepada komunitas Muslim di Jombang.
Meski memiliki karier yang sukses hingga saat itu, Gus Dur masih kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, dan ia bekerja untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjual kacang dan mengantarkan es untuk digunakan dalam bisnis es lilin milik istrinya. Pada tahun 1974, ia mendapatkan pekerjaan tambahan di Jombang sebagai guru Ilmu Hukum Muslim di Pesantren Tambakberas dan segera mengembangkan reputasi yang baik. Setahun kemudian, Gus Dur menambah pekerjaannya sebagai guru yang mengajar Kitab al-Hikam, sebuah teks Sufisme klasik.
Peran dalam Nahdlatul Ulama (NU)
Awal keterlibatan Gus Dur dalam NU bermula dari latar belakang keluarganya. Ia diminta untuk memainkan peran aktif dalam menjalankan NU. Permintaan ini berlawanan dengan aspirasi Gus Dur sebagai intelektual publik dan ia dua kali menolak tawaran bergabung dengan Dewan Penasihat Agama NU. Namun, Gus Dur akhirnya bergabung dengan Dewan tersebut setelah kakeknya, Bisri Syansuri, memberinya tawaran ketiga. Karena mengambil pekerjaan ini, Gus Dur juga memilih untuk pindah dari Jombang ke Jakarta dan menetap di sana.
Sebagai anggota Dewan Penasihat Agama, Gus Dur menjadikan dirinya sebagai reforman NU. Pada saat itu, banyak orang yang memandang NU sebagai organisasi dalam keadaan stagnasi/terhenti. Setelah berdiskusi, Dewan Penasihat Agama akhirnya membentuk Tim Tujuh (termasuk Gus Dur) untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu menghidupkan kembali NU. Reformasi dalam organisasi termasuk perubahan kepemimpinan. Pada 2 Mei 1982, pejabat-pejabat tinggi NU bertemu dengan Ketua NU Idham Chalid dan meminta agar ia mengundurkan diri. Idham, yang telah memandu NU pada era transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto awalnya melawan, tetapi akhirnya mundur karena tekanan. Pada 6 Mei 1982, Gus Dur mendengar pilihan Idham untuk mundur dan menemuinya, lalu ia berkata bahwa permintaan mundur tidak konstitusional. Dengan himbauan Gus Dur, Idham membatalkan kemundurannya dan Gus Dur bersama dengan Tim Tujuh dapat menegosiasikan persetujuan antara Idham dan orang yang meminta kemundurannya.
Peran dalam Politik dan Pemilu
Pada pemilihan umum legislatif 1982, Gus Dur berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebuah Partai Islam yang dibentuk sebagai hasil gabungan 4 partai Islam termasuk NU. Gus Dur menyebut bahwa Pemerintah mengganggu kampanye PPP dengan menangkap orang seperti dirinya. Namun, Gus Dur selalu berhasil lepas karena memiliki hubungan dengan orang penting seperti Jenderal Benny Moerdani.
Setelah terpilih sebagai ketua PBNU, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan mengajak pesantren untuk lebih terbuka terhadap perubahan. Ia juga memperluas wawasan pendidikan pesantren dengan mengintegrasikan kurikulum sekuler. Pada masa jabatan pertamanya, ia berhasil meningkatkan kualitas pendidikan pesantren hingga bisa menyaingi sekolah umum. Ia juga aktif dalam berbagai inisiatif sosial dan politik, termasuk mendirikan Forum Demokrasi untuk memperkuat suara intelektual muslim.
Pada tahun 1998, Gus Dur menjadi tokoh sentral dalam gerakan reformasi yang memicu jatuhnya Soeharto. Ia bersama dengan Megawati dan Amien Rais berusaha menginisiasi Komite Reformasi, meski akhirnya menolak bergabung. Setelah Soeharto lengser, ia dipilih sebagai Presiden keempat RI pada tahun 1999. Sebagai presiden, ia melakukan beberapa reformasi penting, seperti membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial, serta memberikan otonomi kepada Aceh. Ia juga menjadi presiden pertama yang mengakui hak-hak minoritas, termasuk orang Tionghoa Indonesia, yang selama Orde Baru mengalami penindasan.
Kehidupan Pribadi dan Keluarga
Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat orang anak: Alissa Qotrunnada, Zanubba Ariffah Chafsoh (Yenny), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Yenny aktif berpolitik di PKB dan saat ini adalah Direktur The Wahid Institute. Keluarga Gus Dur sangat dekat dengan dunia pesantren dan aktivitas sosial. Ia juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap keluarga dan pendidikan anak-anaknya.
Kematian dan Warisan Gus Dur
Gus Dur wafat, hari Rabu, 30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkosumo, Jakarta, pukul 18.45 akibat berbagai komplikasi penyakit, diantaranya jantung dan gangguan ginjal yang dideritanya sejak lama. Sebelum wafat, dia harus menjalani cuci darah rutin. Seminggu sebelum dipindahkan ke Jakarta, ia sempat dirawat di Surabaya usai mengadakan perjalanan di Jawa Timur.
Warisan Gus Dur dalam bidang pendidikan, kebebasan beragama, dan keberagaman tetap diingat hingga saat ini. Ia meninggalkan kontribusi yang besar dalam memperkuat nilai-nilai demokrasi, toleransi, dan keadilan di tengah masyarakat Indonesia yang heterogen. Nama Gus Dur terus diingat sebagai sosok yang memperjuangkan nilai-nilai tersebut di tengah tantangan politik dan sosial yang kompleks.



