Radar Baru, Kolom – Olahraga padel mewabah di kalangan Gen Z dan milenial Indonesia sepanjang tahun 2025, menggabungkan elemen tenis dan squash di lapangan semi-tertutup yang seru serta mudah dikuasai, menjadikannya pilihan utama gaya hidup aktif perkotaan.

Alasan viral di kalangan muda

Popularitas padel juga didorong oleh peran media sosial. Konten permainan padel banyak dibagikan melalui Instagram dan TikTok, mulai dari tantangan “smash dinding ketiga” hingga unggahan selebriti yang ikut mencoba olahraga ini. Fenomena tersebut menciptakan efek Fear Of Missing Out (FOMO) yang membuat padel semakin diminati sebagai aktivitas olahraga sekaligus sarana bersosialisasi.

Gen Z dan milenial tertarik padel karena lapangan ukuran 20×10 meter hemat ruang, raket ringan, serta bola berlubang yang ramah pemula bisa main kompetitif dalam 30 menit tanpa cedera berat. Komunitas Instagram dan TikTok penuh challenge smash dinding ketiga, dorong FOMO sosial di Jakarta, Bali, dan Bandung dengan 50+ klub baru. Selebriti lokal ikut tren, ubah padel dari olahraga elite jadi hangout mingguan tarik 100.000+ pemain muda.

Padel tumbuh pesat karena salah satu faktor dorongan banyak komunitas sosial via Instagram yang mempromosikan dan kalangan selebriti yang menceritakan pengalamannya bermain olahraga padel. Banyak pegiat media sosial seperti Instagram yang berusia 20-40 tahun yang menjadi tertarik dengan olahraga padel mulai tertarik dengan olahraga padel karena melihat banyak antusias pegiat media sosial yang meng-update story sedang bermain olahraga padel. Sehingga olahraga padel ini menjadi tren olahraga baru yang diminati kalangan gen Z dan milenial.

Manfaat Kesehatan dan Ekonomi dari olahraga Padel

Main padel bisa membakar -+ 600 kalori/jam, tingkatkan koordinasi serta bonding tim cocok untuk mengurangi tingkatan stres pasca pandemi. Industri menciptakan banyak lapangan kerja baru trainer dan event organizer, proyeksi 100 klub baru untuk 2026. Mari coba sendiri di klub terdekat untuk merasakan euforia smah dinding ketiga yang bisa bikin ketagihan.

Munculnya banyak lapangan padel di Indonesia sepanjang tahun 2025 membawa banyak dampak seperti pertumbuhan ekonomi hingga ketimpangan sosial yang sangat mencolok.

Dampak Ekonomi Positif

Awal mulai timbul lapangan padel ada dari 12 unit pada tahun 2020 hingga menjadi ratusan di tahun 2025 menciptakan banyak lapangan kerja baru seperti trainer, event organizer, dan bisnis terkait, dengan omzet klub premium capai okupansi sekitar 98% di wilayah Jakarta dan Bali. Pertumbuhan ini mendorong industri lokal seperti raket dan apparel, proyeksi bertambah 30 lapangan di Jabodetabek saja hingga 2026.

Ketimpangan Akses dan Sosial

Banyak sekali lapangan hanya terkonsentrasi di kota elit seperti Jakarta, Bandung dan Bali, batasi akses masyarakat menegah ke bawah karena harga tarif sewa lapangan Rp. 300.000 – Rp. 550.000/Jam plus alih fungsi lahan publik jadi fasilitas eksklusif. Fenomena FOMO urban tingkatkan status sosial bagi yang mampu, tapi picu oversupply seperti di negara Swedia yang alami kebangkrutan massal.

Risiko Oversupply dan Kesehatan

Terlalu banyak lapangan bisa memicu kompetisi harga antar klub, curi pemain tanpa ciptakan komunitas baru, bisa berpotensi hancurkan bisnis kecil. Di sisi lain, padel tingkatkan kesehatan fisik dan mental Gen Z dan Milenial via aktivitas tim, tapi kesenjangan ruang terbuka kurangi manfaat publik secara luas.

Mengapa Gen-Z dan Milenial ketagihan?

Padel punya daya tarik unik yang pas dengan gaya hidup urban muda indonesia :

Mudah Dipelajari : Tidak perlu skill tenis pro. Pemula bisa langsung main dalam 30 menit, berkat aturan sederhana dan bola yang lebih lambat.

Sosial dan Inklusif : Biasanya dimainkan berpasangan (ganda), ideal untuk nongkrong bersama teman atau berpasangan. Banyak klub menawarkan sesi “ladies night” atau “youth league”.

Sehat dan Efisien : Satu jam padel bakar 500 – 700 kalori, tingkatkan koordinasi, dan kurangi stres. Cocok untuk generasi yang kerja remote tapi ingin aktif.

Estetik Premium : Lapangan berdinding kaca terlihat mewah, sering jadi spot foto-foto. Di Bali, resotr seperti Finns Beach Club sudah menambah fasilitas padel untuk turis muda.

Turnamen seperti Indonesia Padel Open 2025 di Jakarta Convention Center menarik 500 peserta, Mayoritas usia 18-35 Tahun. Sponsor seperti Gojek dan Brand Athleisure ikut meramaikan, bikin olahraga ini terasa trending.

Siap mencoba? Cari klub terdekat melalui komunitas Padel dan rasakan sendiri hype-nya!

 

*) Penulis adalah Muhammad Rifqi Hidayat, Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang.