Radar Baru, Surabaya– Di tengah meningkatnya volume sampah organik rumah tangga yang setiap hari menumpuk di lingkungan padat penduduk di Kecamatan Rejosari, Kelurahan Benowo, sebuah gerakan baru mulai tumbuh dari Mahasiswa Untag surabaya dan menarik perhatian masyarakat. Gerakan tersebut adalah budidaya maggot dari lalat Black Soldier Fly (BSF).

Masalah sampah bukan sekadar persoalan estetika, melainkan telah memengaruhi kualitas kesehatan dan kenyamanan hidup warga. Bau tidak sedap, munculnya lalat, hingga tingginya biaya angkut sampah menjadikan masyarakat semakin menyadari urgensi inovasi pengelolaan sampah. Dalam kondisi itulah, muncul inisiatif warga dan perangkat kelurahan untuk memperkenalkan budidaya maggot sebagai metode pengolahan sampah yang lebih efisien.

Pelatihan budidaya maggot yang digelar di balai RW 03 rejosari beberapa waktu lalu yang di hadiri warga berbagai RT, terutama karang taruna hadir untuk memahami cara kerja maggot sebagai pengurai alami. Mereka belajar dari dasar, mulai dari siklus hidup BSF, teknik pembuatan kandang, pemilahan sampah organik, hingga metode panen dan pemanfaatan hasil maggot.

Para peserta tampak antusias. Terutama karang taruna yang di dominasi oleh anak muda.Tidak sedikit yang mengaku baru mengetahui bahwa maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik hingga 60–70 persen dalam kurun waktu 24 jam. Proses penguraian ini jauh lebih cepat dibandingkan sistem kompos konvensional yang memakan waktu berbulan-bulan.

Pelatihan yang di selengarakan pada minggu pagi ( 30/11/2025),  ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Maggot yang telah dipanen memiliki nilai jual tinggi karena kaya nutrisi dan menjadi alternatif pakan murah berkualitas bagi peternak ikan, ayam, dan burung. Selain itu, residu budidaya berupa kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman.

Pelatihan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta melalui praktik pengolahan sampah rumah tangga menjadi pakan bagi maggot. Warga diajak memilah sisa dapur seperti sayuran, buah busuk, dan nasi basi sebagai makanan utama maggot. Dengan konsep siklus tertutup ini, sampah yang biasanya hanya menjadi beban kini berubah menjadi sumber daya.

Salah satu peserta pelatihan dari pemuda karang karang taruna  RT 03, mengungkapkan bahwa ia tertarik memulai budidaya maggot di halaman belakang rumahnya. “ walaupun terlihat menggelikan ternyata membudiyakan tidak sesulit yang dibayangkan. Saya pikir maggot itu kotor dan berbau, apalagi mendengar namanya larva lalat. tapi setelah tahu caranya, ternyata cukuo bersih dan tidak mengganggu seperti larva lalat pada umumnya,” ujarnya. Pengalaman itu membuatnya ingin memperkenalkan metode ini kepada tetangga lain.

Meski masih dalam tahap awal, program budidaya maggot ini telah menumbuhkan optimisme baru di kalangan warga Rejosari. Banyak yang meyakini bahwa inisiatif ini bukan hanya tren sesaat, tetapi solusi berkelanjutan. Dengan edukasi dan kesadaran yang terus diperkuat RW 03, Rejosari berpeluang menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam.

 

Penulis: Muhammad Fachrieza Sheva Pratama, Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya